Kemiripan Sisi Pendidikan Korsel-Indonesia

Korea Selatan yang dikenal dengan kehebatan para ilmuwan hingga level dunia, ternyata ada juga lubang sisi pendidikannya. Ah wajar, di negara manapun akan sama.

Membaca satu artikel di Radar Yogya 16 Mei 2009, tersiar berita bahwa guru di Korsel rawan diSUAP. Akan diadakan “razia guru yang bisniskan nilai siswa”. Komisi antikorupsi Korsel yang menjelang hari guru di Korsel melakukan razia kepada sekolah-sekolah yg dipiih secara acak terkait dugaan suap yang dilakukan wali murid kepada guru agar mendapatkan nilai baik atau mendapat perhatian lebih. Suap tersebut dalam bentuk bingkisan atau “amplop” yg dikenal dengan istilah Chonji. Rupanya praktik Chonji ini diberitakan telah mendarah daging di sana.

Bagaimana dengan di Indonesia?

Terkait nilai terutama nilai yg menentukan nasib (dari Ujian Nasional itu) banyak pihak yg mungkin melakukan hal serupa seperti guru-guru di Korsel. Bahkan di Indonesia tidak perlu disuap-pun guru-guru akan membantu “memperbaiki nilai-nilai” muridnya. Semua itu demi kepentingan pribadi.

KPK Indonesia yang preastasinya cukup bagus dan ditakuti para koruptor sudah saatnya merambah dunia pendidikan terutama di tingkat pelaksana pendidikan dalam hal ini sekolah. Bukan hanya yg level puncak. Justru pada lini inilah akan diletakkan dasar-dasar watak manusia Indonesia agar tidak terpincut untuk bertindak korupsi nantinya. Bagaimana pendidikan bisa lebih baik kalau guru-gurunya juga suka disuap, (padahal sudah bisa makan sendiri hehehe). Korupsi yang sering terjadi dikalangan pendidik bukan saja soal uang yang membuat perut tak akan kenyang, tapi soal korupsi waktu. Banyak kegiatan pembelajaran di kelasnya di bengkalaikan tanpa ada alasan yang masuk akal. Padahal dirinya sudah berjanji untuk mengabdi jadi guru. Di daerah-daerah pelosok yang masyarakatnya kurang banyak perduli dengan pendidikan hal ini sering sekali terjadi. Karena tidak ada pengawasan yang cukup. Akibat selanjutnya adalah kesemramutan pelaksanaan pembelajaran. Di akhir tahun terjadilah gerilya “memanipulasi angka-angka” agar sekolahnya tidak dipandang buruk.  Yah hancur…

Untuk memperbaiki citra, tentu paling gampang adalah dimulai dari pribadi guru itu sendiri. Penanaman tekad bahwa gaji yg kita terima akan mengalir dalam darah dan seterusnya, maka akan dengan sendirinya korupsi atau tindak manipulasi apapun jenisnya tidak perlu terjadi lagi.

Mari… kita para guru perbaiki diri, perbaiki pendidikan anak-anak kita, untuk tidak lagi bertindak “korupsi”, tidak lagi bertindak suka memanipulasi nilai dan mau disuap, dengan harapan menghasilkan manusia yang berbudi.

4 responses

  1. perlahan-perlahan juga gak apa-apa … biar kasih kesempatan para guru yg nyeleneh itu untuk sadar …
    bagaimanapun para guru masih punya hati nurani bila dibandingkan para koruptor kelas kakap … 🙂

  2. printebookmurah

    Semoga hal ini tidak akan terjadi lagi di Indonesia, dengan program peningkatan gaji guru yang melebihi standar gaji pegawai negeri di instansi lainnya.
    Amin ….

  3. Mas Urip, sebenarnya kisah suap-suapan uang ala Korea itu disebabkan terutama karena sangat-sangat kompetitifnya persaingan siswa. Terlebih orang tua korea memiliki karakter mau melakukan apa saja demi masa depan anaknya. Pada masa sekolah menengah atas, mereka dipaksa untuk berprestasi setinggi-tingginya demi nantinya menembus universitas negeri terbaik atau harus masuk ke universitas swasta terbaik yang sangat-sangat mahal. Tahukah anda bahwa siswa sma di Seoul terbiasa pulang pukul 10 malam masih mengenakan seragam sekolah untuk mengikuti ekstrakurikuler mulai dari bidang akademis hingga rekreasi (musik misalnya). Benar-benar kehidupan yang abnormal bagi ukuran anak muda kita.

  4. Ironis menjadi tragedi pendidikan indonesia duh … 😦