Kritik untuk Situs Departemen Agama RI

Informasi, kepastian, efektivitas & efisiensi melalui TIK mengapa tidak diterapkan?

Website saat ini merupakan media yang paling ampuh untuk mengumumkan sesuatu. Tujuan website dibuat salah satunya untuk dijadikan corong “woro-woro”. Tidak  sulit, tapi banyak lembaga yg kurang perduli soal pemanfaatan website agar lebih efektif. Banyak kalangan yg mengandalkan dari websitelah informasi itu ia peroleh. Namun tidak sedikit institusi yang ‘ngeh’ soal ini. Website sekedar digunakan untuk mentereng-menterengan bahwa institusinya telah mengikuti teknologi informasi, tapi nyatanya informasi yang diberikan justru informasi yg kurang penting.

Dulu saya pernah mengkritik websitenya SPS UGM (2007) yg terkesan tidak terkelola dengan baik, informasi yg saya perlukan terkait kegiatan akademis tidak dapat diperoleh di indukan instutisi sebesar SPS UGM. Apalah artinya kata teknologi informasi yang diagungkan itu.

Apakah kita ini masih mengandalkan informasi gethok tular dari mulut ke mulut… katanya si anu… katanya si fulan… tidak ada naskah tertulis yang menguatkan akan sumber resmi informasi itu. Malu rasanya kalau mengaku suatu lembaga sudah menerapkan TIK tetapi informasi atas nama lembaga yg diperlukan masyarakat nyatanya tetap sulit untuk diperoleh.

Salah satu contoh kasus yang terjadi di situs DEPARTEMEN AGAMA RI. Coba berapa banyak pengunjung blog ini yang mengungkapkan kekecewaannya soal ketidakpastian pengumuman hasil tes beasiswa S2 2009 dari depag untuk guru-guru dan pengawai itu. Karena satu-satunya website resmi DEPAG yg dijadikan kiblat untuk itu, tidak mengumumkan kapan akan diumumkan hasil tes itu. Sebenarnya pengunduran suatu pengumuman tidak akan terlalu mengecewakan kalau saja secara resmi Depag menuliskan di situsnya sehingga setiap orang yang berharap mendapatkan kejelasan kapan pengumuman akan diberikan. Hal ini tentu sangat efektif untuk memberikan kepastian, tidak harus sesorang membuang waktu tiap detik membuka atau mencari info dari situs suatu lembaga. Apakah pantas jika seorang pejabat lalu bilang sabar… sabar… tanpa kepastian. Untuk apa teknologi ada kalau begitu. Mari kita tunjukkan profesionalitas suatu lembaga.

Rupanya perlu penegasan bahwa website dibuat itu demi efektivitas kinerja suatu lembaga terutama informasi layanan publik, ini yang perlu disadari oleh situs-situs pemerintah.  Situs dibuat bukan untuk sekedar punya saja. Semoga efektivitas dan efisiensi kerja terkait informasi dan komunikasi publik di situs lembaga pemerintahan di negeri ini menjadi semakin baik.

Berbeda dengan suatu weblog yang memang dibuat sekedarnya saja, semaunya pemilik, mau ditulisi sekali saja semenjak dibuat atau diisi kata-kata sampah tak berguna rutin. Tidak ada tanggung jawab melekat membebani. Yah seperti isi blog ini hehehe.

9 responses

  1. memang banyak situs penting, terutama milik institusi resmi dan pemerintah yang sepertinya tidak diurus dengan baik … kekurangan tenaga IT kah mereka? rasanya tidak … mungkin lebih kepada merasa hal tersebut belum penting untuk diprioritaskan … padahal malahan di jaman dunia informasi yang sangat maju saat ini semua khalayak butuh hal itu …

    1. Menjadikan Institusi yg profesional kok sulit yah di lembaga pemerintahan. Kapan majunya

  2. Willy Ediyanto

    Pak kalau situs depag itu menurut saya cukup bagus, hanya saja isinya tidak valid. Contohnya data peserta sertifikasi guru tahun 2009 untuk wilayah kami, Kotawaringin Barat, hanya ada lima peserta, dan dua di antaranya adalah peserta yang sudah lulus sertifikasi tahun lalu dan tahun sebelumnya. Memangnya yang belum sertifikasi mau dikemanakan. Kata orang depag kabupaten data itu akan ditarik. Ya saya nggak percaya begitu saja. Lha waktu Pak Urip sertifikasi, tahun 2008, kan katanya data dari situs depag itu ya gak valid, nyatanya 100 persen valid.
    Ngeluh di blog bisa di-Prita Mulyasari-kan apa nggak, ya?
    he he!

    1. Bagus secara grafis ya cukup sih. Tapi web dibuat khan untuk publikasi, memberikan layanan yang diperlukan pengunjung. Ini dia masalahnya dari situsnya depag kita. Kebanyakan dari berita2-nya adalah cuma klipping berita dari sana sini juga. Berbeda dengan blog kita, kita punya blog bisa untuk katarsis, narsis. Tidak berkewajiban menyediakan layanan publik.
      Pak Willy mengeluh yah gak apa-apa, konsekwensinya apakah tepat sasaran itu saja. Apakah pak menteri agama atau bawahannya rajin blog-walking untuk merespon keluhan kita. Sebaiknya dilayangkan ke depag pusat cq direktur pendidikannya saja pak. Jika tidak mendapat tanggapan baru buat di blog dan koran nasional-bukan lokal.
      Selamat berkarya dengan kreatif 🙂

  3. Cerita di atas banyak benarnya. Bagi yg sudah pernah berurusan dengan departemen tertentu ttg website mereka, maka akan mudah mengetahuinya. SDM yg berkaitan dengan “hidup” website tsb memang tidak mencukupi secara kualitas. Biasanya website dibuat pihak luar. Sedangkan isi dimuat oleh orang departemen. Nah disitu masalahnya. Dari pengalaman, mereka tak paham apa tujuan website dibuat. Maunya hanya “gagah-gagahan” menggunakan segala macam teknologi. Tapi maksud dasar membuat website untuk menyampaikan informasi tak pernah terdengar dari pendapat mereka. Menyedihkan memang.

  4. mukhotop budoyo

    Ingin komentar tapi takut seperti prita mulyasari jadi maaf hanya numpang lewat saya dari KALBAR.

  5. Cuku satu komentar, rendahnya kualitas sdm pegawai pemerintah kita, padahal pegawai negeri yg makan gaji tetap

  6. “SDM yang mungkin belum ada”, terkadang kita juga banyak tahu, bahwa website2 pemerintah itu biasanya yang membuat tenaga dari luar. Sementara karyawan sendiri, kadang tidak ngerti. Oleh sebab itu untuk update saja “mungkin” mereka tidak tahu, ya jadinya website mereka

  7. Mengapa mayoritas web pemerntah kurang tertangani dengan baik? Karena gak ada yg bisa dimanfaatkan dari web tsb untuk kepentingan pribadi. Gak ada uang lembur, vakasi, dan sejenisnya. hehehehe….