Mengapa BSE Kurang Berpengaruh?

Buku sekolah elektronik (BSE) ditulis Kompas.com kurang berpengaruh dalam mengatasi mahalnya pembiayaan buku sekolah. Mengapa demikian? Padahal BSE dibuat untuk mengantisipasi mahalnya biaya sekolah (belanja buku pelajaran). Nyatanya tetap saja buku-buku pelajaran dibeli dari luar.  Apa kurangnya BSE yg disediakan itu? Di mana salahnya sehingga tidak bisa teroptimalkan BSE itu?

Dipakai atau tidaknya BSE itu tergantung dari kemauan guru, mau atau tidak untuk menggunakan sebagai salah satu sumber pembelajaran di kelasnya. Dari sisi siswa kebanyakan adalah hanya nerimo apa kata guru. Maksimalilasi BSE dalam hal ini tergantung guru. Lalu mengapa guru pada enggan merekomendasikan BSE saja? Mungkin guru-guru kurang terbiasa memanfaatkan media digital, demikian juga para siswa. Tetapi versi cetak-nya sudah dan bisa di terbitkan dengan harga murah. Mungkin isi dari kebanyakan BSE itu “kurang menarik”. Mungkin pihak sekolah (Guru) lebih banyak mendapatkan keuntungan finansial dari para penerbit. Mungkin dari BSE yang tersedia perlu dilengkapi LKS sekaligus panduan penggunaan buku untuk Guru dab Siswa.

Sebenarnya jika para guru membiasakan kepada siswa untuk mencari referensi selain buku-buku yg ada, maka soal buku mahal bisa teratasi. Misalnya jika tersedia akses internet, maka internet adalah sumber dan lahan untuk petualangan pengetahuan siswa. Kabarnya dari diknas sudah menyediakan “Jardiknas” pada setiap kabupaten. Ini perlu maksimalisasi juga.

Soal biaya cetak dengan HET yg dipatok, maka sekolah di P. Jawa bisa memanfaatkannya dengan tetap mendapatkan keuntungan bagi percetakannya. Tetapi untuk luar P. Jawa maka ini akan tidak lebih murah daripada membeli buku dari penerbit, lebih-lebih jiga penerbit memberikan imbalan dalam bentuk finasial kepada pihak sekolah. Karena kebijakan pemakaian buku biasanya sekolah (kepala sekolah & guru) yg berkuasa.

Jadi optimalisasi pemanfaatan BSE menurut saya dipengaruhi oleh budaya konvensional para pihak sekolah dan siswa, budaya mendapatkan keuntungan dari penerbit.  Sebenarnya langkah diknas “membeli buku” mesti melihat siapa pengarang yg selama ini bukunya banyak dipakai guru dan siswa. Harapannya tentu buku-buku itu akan benar2 “terpakai”. Penulis buku sangat berpengaruh dalam hal siapa sih yg menulis. Hal ini memang akan jauh lebih mahal, karena mereka yg bukunya laris karena isinya semakin bagus akan dipertahankan oleh penerbit yg selama ini menerbitkan buku pelajaran “legendaris”.

Dan seterusnya?

Iklan

6 responses

  1. 1. depdiknas tidak adakan survei terlebih dulu, buku apa yang banyak dipakai para guru disekolah.
    2. ketika didonlot lalu dicetak, ketemunya malah lebih mahal dan tuebalnya minta ampun karena gak bolak-balik nyetaknya.
    3. sssst… (sekolah/guru) gak dapat keuntungan dari penerbit
    .
    .
    nomor 2 kang urip bisa kasih solusi…?

  2. untuk no 2… cetak separuh folio dan bolak balik jauh lebih hemat, saya sudah pernah print. dan mmg perlu tips untuk ngeprintnya… Meskipun ukuran font agak kecil. Jadi untuk 1 helai kertas folio itu bisa untuk 4 halaman bolak-balik.

  3. Wah,kalo no. 2 kaya contekan aja. bukan buku teks nih jadinya.

  4. dwi setyaningsih

    BSE jatuhnya lebih mahal kalo siswa tidak punya komputer di rumah, lha untuk cetak aja per lembarnya di warnet berapa, biaya akses internetnya berapa? mungkin berhasil untuk kota besar, tapi untuk kendal, banyakan beli versi cetaknya..
    yang biasanya karena harga yg murah terus pihak penerbit menurunkan kualitas kertasnya.

  5. Kebanyakan siswa di Indonesia belum mempunyai fasilitas pendukung seperti komputer dan akses internet.
    Pemerintah kurang-menurut saya sih tidak-memperhitungkan hal ini.
    Liat ja gedung sekolahnya, trus keadaan ekonomi siswa yang sangat-sangat tidak memungkinkan mengakses BSE.
    Alhasil yang bisa menikmati ya hanya kalangan ekonomi menengah ke atas saja.

  6. bagaimana mau punya pengaruh…lhaaaa wong belinya aja sdh ditentukan sama yang diatas..repot..repot….biar dikata isinya kaga yambung yach disambung-sambungin aja…