Pergeseran SMA ke SMK

Pergeseran yg dimaksud bukanlah pergeseran seperti yg terjadi pada reaksi kesetimbangan di kimia. Suatu kelaziman mana kala suatu negeri mulai “menginduk” model pendidikan di negeri yang lebih dulu dianggap lebih mapan. Kita lihat saja negeri jiran Singapura. Proporsi jumlah siswa yg belajar di SMK lebih banyak dibanding SMA. Orientasinya jelas di sana. Lulusan SMK jika mau lanjut mereka diarahkan ke akademi (college). Lulusan SMA sejak mula diarahkan untuk bisa melanjutkan ke tingkat universitas.

Konsistensi di negeri kita belum jelas… semuanya boleh-boleh saja mau kemana saja setelah lulus. Beda dengan di Singapura yg bisa konsisten. Hasilnya pun bisa kita lihat bagaimana pendidikan di negeri tetangga itu.

Akhir-akhir ini banyak SMK di buka… dana untuk itu luar biasa besarnya dengan perhatian penuh di dukung iklan bertubi-tubi. Sukses untuk memincut siswa dan orang tua.  Harapannya semua tahu yg ia pilih akan kemana mereka dididik. SMK diorientasikan untuk menyiapkan lulusan siap kerja. SMA siap untuk dididik lebih tinggi. Sehingga ada kesan bahwa SMA adalah tempat sekolahnya anak relatif pintar dibanding siswa SMK. Demikian yang terjadi di negeri sebelah. Di Indonesia tidak memikirkan soal ini… lebih-lebih jika pilihan jurusan di SMK lagi trend dan mentereng (misalnya jurusan terkait komputer). Kadang mereka silau akan hal itu, tidak mengerti apa yg bisa ia lakukan setelah lulus nanti. Jadi ketegasan orientasi lulusan SMK dan SMA mesti disadari sejak dini sehingga orientasi tidak jadi penyesalan.

Proporsi jumlah SMK 70%, SMA 30% dinegeri ini sepertinya cocok jika dikaitkan kemampuan melanjutkan pendidikan ke yang lebih tinggi. Konsekuensinya adalah dunia kerja yg akan menampung lulusan SMK harus siap meskipun untuk memasukinya lulusan SMK perlu masih perlu dilatih. Konsekuensi bagi SMA yang notabene adalah siswa-siswa akan melanjutkan studinya maka mesti terpilih dari anak bangsa yang benar-benar pandai. Pembatasan jumlah kelas di SMA sangatlah perlu sehingga prioritas atau perhatian guru fokus. Jadi siswa SMA benar-benar siap untuk menerima ilmu yg lebih tinggi nantinya. Dasar-dasar keilmuan tertanam kuat.

Analisis atas potensi wilayah dan keperluan dunia kerja sangat menentukan atas keberadaan sebuah SMK. Sedangkan untuk SMA adalah perimbangan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mendorong SMA diperlukan. Sekali lagi kesadaran para calon siswa dan orang tua sangat penting dengan mengingat kemampuan serta potensi diri anak. Jika potensi berkembang dalam keilmuannya maka sebaiknya melanjutkan ke SMA, jika pas-pasan sebaiknya melanjutkan ke SMK. Bukan berarti arahan siswa SMK adalah untuk anak-anak berkelas dua. Tapi pertimbangan soal kelanjutan studinya kelak serta potensi diri. Ini jika kita mengacu pendidikan di Singapura misalnya.

Apakah di Endonesa punya format berbeda…

7 responses

  1. wahh articlenya keren..numpang lewat aja nech

  2. menurut saya memang seharusnya begitu mas … negeri ini memang butuh pemikir-pemikir cemerlang, tetapi masih jauh kurangnya untuk praktisi profesional kerja … smk lebih merujuk pada keahlian langsung … sangat tepat kalau diperbanyak dan diperluas …

  3. Saya bangga dapat menjadi lulusan SMK. Nyari Kerja tetep Laku meskipun harus di-training dulu. Nglanjutin ya Oke,bisa menambah kualitas & kompetensi

  4. ah…saya pesimis ini akan berpengaruh positif pada masyarakat indonesia…pendidikan bukan sekedar mencari kerja, tetapi lebih penting dari itu adalah menjadi manusia seutuhnya..insan yang paripurna. SMK hanya menjadikan -maaf- pendidikan gaya bank menurut fraire, mereka dipersiapkan untuk pasar dan untuk menjawab kepentingan kapitalisme…alih-alih mensejahterakan rakyat, pendidikan jenis hanya akan menambah kuli-kuli baru di negeri kita. akhirnya kita menjadi tamu di negeri sendiri.
    berharap pada pendidikan formal yang dijalankan pemerintah tidak menjamin akan semakin baik negeri ini. mesti ada pendidikan alternatif yang mewadahi kreativitas anak bangsa. tentu saja ini hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang masih peduli pada pendidikan tidak hanya sekedar mencari uang dari proyek-proyek besar pendidikan.
    salah satu proyek besar itu adalah peralihan sma ke smk…
    ironis memang, namun itulah yang terjadi.

  5. Dasar pemikiran pendirian SMA itu apa? Sekarang ketika begitu berjubel lulusan SMA dan tidak mampu melanjutkan ke perguruan tinggi, dan mau masuk ke lapangan kerja begitu kesulitan, baru dipikirkan mengembangkan SMK, bahkan sebagian SMA akan diubah menjadi SMK. PTN dan PTS sudah ratusan jumlahnya. NAnti akan banyak kursi PT yang kosong.
    Pemerintah selama ini membangun banyak SMA untuk memenuhi tuntutan wajib belajar (wajib sekolah) ketimbang membekali generasi muda dengan berbagai persiapan menghadapi masa depan mereka. Selain itu, pemerintah hanya punya sedikit uang untuk membangun sekolah. Membangun SMK biayanya lebihmahal ketimbang membangun SMA. Buktinya, tidak banyak swasta yang mau membangun SMA.
    Sekadar memenuhi tuntutan wajib sekolah.
    Selanjutnya, bagi siswa SMK yang mampu dan mau melanjutkan, apa cukup jumlah kolege yang ada di Indonesia? Atau sekadar alternatif.
    Masalah training sebelum kerja, kiranya itu berlaku di manapun. Hanya ada yang formal, dan ada yang bisa dilakukan sendiri. Saya sebagai lulusan IKIP, ketika memasuki lapangan kerja pun merasa perlu training dilapangan secara langsung di kelas. Tidak langsung mahir dan mumpuni. Artinya, tetap harus belajar.

  6. Kebijakan ‘memindah’ konsentrasi ‘advertising’ pendidikan dari SMA ke SMK seharusnya diimbangi juga dengan bimbingan penyaluran kerja lulusan SMK. Non-sense ketika pemerintah gembar-gembor bahwa lulusan SMK langsung bisa kerja, trus tanpa ada arahan setelah lulus bisa kerja ke mana saja.
    Ini yg saya rasakan -minimal di smk tempat saya sekarang ngajar. Ketika sekolah, siswa tidak begitu mendapat gambaran kalo mo lulus mo ke mana. Begitu lulus, mereka bingung. Ini keluhan yg saya dpt dari beberapa siswa.
    Memang ada semacam karir center dan bursa kerja, tapi belum optimal menyentuh mayoritas siswa.
    Seharusnya juga ada gebrakan di area ini. Misalnya dengan memang bikin program khusus untuk melatih karir center atau bursa kerja sehingga jadi lebih agresif dan jemput bola mengkoneksikan antara DU/DI dan siswa2. Jadi tidak sekadar revolusi mindahin mindset pendidikan dari SMA ke SMK, tapi juga harus jelas terlihat koneksi nyata ntara SMK dengan dunia kerja.