Presiden, Mendiknas, dan Guru Ideal

Sok tahu.

Tulisan ini adalah tanggapan saya atas diskusi ‘Mencari Profil Ideal Menteri Pendidikan Nasional’ yang digelar oleh Education Forum di Jakarta, Selasa (7/7), yg saya baca dari kompas.

Soal pendidikan… siapapun presidennya sepertinya akan jalan di tempat… Sebab penentu kebijakan pendidikan bukanlah mereka, tapi para pembantu-pembantunya yg mungkin sedikit yg secara benar ingin memajukan pendidikan di negeri ini.

Menurut saya sosok menteri yang ideal andai ada tetap saja kurang memberikan kebermaknaan dalam upaya memajukan pendidikan secara instan. Sebab para staf, kepala dinas pendidikan setempat pun akan memberikan pengaruh nyata akan keberhasilan pendidikan dan perubahan kearah yg lebih baik.

Setidaknya di daerah-daerah banyak juga (sepertinya sih) para kepala dinas yang menduduki jabatan itu karena alasan politis, karena lobi dan kedekatanya dengan kepala daerah. Akibatnya semua kebijakannya tidak menyentuh akar masalah pendidikan di wilayah-nya. Tidak sedikit di negeri ini posisi penting ditempati oleh orang yang bukan bidangnya, namun mereka itu selalu merasa sanggup. Selanjutnya kerunyaman soal pendidikan tak-kan pernah berakhir.

Andai sosok mendiknas ideal “ditemukan” maka perlu dibuat saluran khusus yang mampu menterjemahkan, meneruskan niat mendiknas itu sampai pada tataran nyata. Tentu saja para bawahan mendiknas itulah yg menjadi penentu. Soal pendidikan, lebih simpelnya soal persekolahan maka penentunya adalah GURU. Bukan mendiknas dan yg berkuasa di bawahnya.

Jadi sebagai praktisi penentu, pelaksana maju mundurnya pendidikan- ups… persekolahan adalah guru. Oleh karena itu diperlukan guru-guru ideal yang bisa memajukan persekolahan dan pendidikan. Siapapun menterinya jika guru-guru ideal (jikalau ada) tersebar di semua lini pendidikan maka tidak sulit seperti membalikkan telapak tangan untuk kemajuan pendidikan di negeri ini. BTW saya sebagai guru ternyata sangat jauh dari kriteria guru ideal (andai ada kriteria jelasnya).

Semua guru pasti tahu sampai kapan pendidikan di negeri ini maju dengan berkaca diri. Jadi keberhasilan pendidikan sudah dapat ditentukan sedari awal dengan melihat kemampuan si guru. Selama ini secara rutin di negeri ini selalu diadakan lomba guru prestasi atau sejenisnya. Mungkin mereka dengan prestasi dan dedikasinya dipandang ideal. Padahal kita tahu yg ideal itu tidak ada. Yang saya heran kok mereka mau di nobatkan sebagai guru semacam itu, padahal kalau mereka sadari sosoknya yah begitu-begitu saja. So panitia menaruh harap dengan dinobatkannya sebagai guru ber… akan memacu diri dan rekan lainnya. Ini adalah iming-iming yang kalau kita cerna ada niat yg kurang tulus (niat baik yg tercemari). Yah karena semua itu ada banyak alasan.

Plus minus selalu ada dalam setiap diri manusia, jika ada menteri ideal – guru ideal maka pasti perlu banyak faktor koreksinya. Seperti gas ideal dalam dunia kimia.

8 responses

  1. Presiden, Mendiknas yang ideal kriterianya :
    Pintar dan cerdas dan berpihak pada rakyat, program sekolah gratis 12 tahun, program gaji guru PNS dan GTT sama besarnya…
    apa lagi ya…?

  2. bicara hal-hal ideal sangat nyaman di mulut
    pernahkah nyaman juga di realita?

  3. Perbaikan pendidikan harus dari semua segi : tujuan diknas, sistem penyelelenggaraannya, pembinaan SDMnya, bahan ajaran bakunya, dan lain-lain, semuanya minimal harus menjawab tantangan jaman 5 tahun kedepan.

  4. istri ideal, suami ideal, murid ideal…….
    komentator ideal

  5. sosok pemegang jabatan di negeri ini tidak ada yang ideal, pasti ada yang mengkritisi……..

  6. Idealnya sih, pembelajaran di kelas yang ideal. Belajar di baah pohon juga ideal. Belajar tidak harus di laboratorium juga ideal. Tidak perlu pakai laptop, IT, proyektor, dan segala macam produk pasar, yang sebenarnya adalah intervensi pasar dalam pendidikan. Pendidikan adalah pasar besar pemilik modal untuk semakin menumpuk kekayaan. Produk masyarakat berupa kapur sekarang dijauhi, diganti spidol khusus. Papan tulisnya pun harus diganti whiteboard yang sulit diganti ucap dengan “papan tulis” saja karena beda warna. Padahal kita tahu, baju merah atau baju hijau tetap kita sebut sebagai baju. Tapi kalau kita sebut papan tulis, acuan kita selalu blackboard, dan whiteboard untuk yang lainnya.
    Kecewanya, di skolah pun guru dan kepala sekolah berlomba-lomba berjualan baju seragam khusus, topi, ikat pinggang, kaus kaki, sepatu harus hitam, tas, dan buku tulis harus seragam. Yang jualan baju seragam, ikat pinggang, bedge lokasi, topi, karena bercap logo atau tulisan sekolah, ya dimonopoli sekolah (kepala sekolah atau guru). Ditambah lagi pakaian olahraga yang harus seragam. Pikiran pun dibuat seragam, ya?

  7. seandainya saja semua guru di Indonesia mendapatkan predikat guru ideal…wihhhh hasilnyapun (mungkin) dijamin ideal juga yach mas

  8. klo boleh tau,kriteria guru ieal itu apa aja yach?