Bagaimanakah Kinerja Pengajar di Sekolah Kita?

Lama tidak menulis di blog ini serasah jenuh. Sejenak ingin memanjakan diri untuk tidak ini itu (maunya santai).  Tiba-tiba saat baca-baca tulisan terbersit untuk menulis kembali. Entah apalah jadinya. Yang jelas tuts keyboard ini harus ditekan.

Sejak pertengahan Agustus aktifitas di sekolah mulai dijalani, meskipun banyak sekali kegiatan2 yg menyebabkan berkurangnya jam efektif dan sedikit banyak mengurangi greget untuk segera mengajar. Situasi gak mendukung…

Melihat, mendengar keluh kesah kanan kiri dan kondisi sekolah yg semenjak ku tinggal agak semrawut, terutama kebiasan rekan guru yg terkesan engan menjalankan tugas secara serius. Budaya lama masih bercokol dalam isi kepalanya, seakan-akan sekolah ini gak akan bisa maju. Semangat berprestasi dan memperbaiki kinerja terkesan gak ada. Yg dapat ku lakukan yah sesekali mengompori untuk sedikit membakar semangat rekan bahwa kita semua punya potensi untuk berprestasi, berkarya, bersaing dengan rekan guru lain di negeri ini. Masalahnya tidak tahu jalan untuk bisa meraihnya dan engan untuk meraihnya.

Hampir tiap hari kelas ada saja jam kosong, siswa tidak belajar secara efektif. Guru ada yg sengaja tidak masuk kelas, tidak hadir di sekolah tanpa alasan yg tidak bisa diterima terkait profesionalitasnya. Luar biasa. Sy sendiri bukanlah guru yg baik, tapi manakala ada waktu untuk mengajar berusaha selalu masuk kelas. Ini prinsip semenjak mengajar di sekolah ini.

Disadari oleh banyak pihak di sekolah ini bahwa sumber kekacauan sekolah adalah jika guru sudah enggan menjalankan tugasnya dengan benar, sering meninggalkan jam mengajar. Pimpinan disekolah sepertinya sudah kurang diperdulikan. Di manakah letak salahnya. Sampai suatu waktu bersama pimpinan merencakan musyawarah menggerakkan agar setiap guru selalu on time begitu ada tugas mengajar. Setelah musyawarah beberapa hari ini lumayan tertitip. Tuntutan minimal yg disepakati dan dipahami adalah selalu on time. Hanya itu saja. Selain itu tidak terlalu dituntut. Ini adalah awalan untuk menanamkan disiplin diri guru.

Yang jelas tidak semua guru di sekolahku ini tidak punya disiplin. Hanya saja niat untuk disiplin dalam mengajar menjadi kurang bermakna ketika hanya beberapa guru saja yg bisa menjaga waktu untuk selalu on time. Sedemikian rendahnyakah etos kerja rekan sekerjaku. Pesimis terhadap pimpinan kadang menjadi apriori yg selalu merusak usaha dirinya untuk bisa menyumbangkan “kehebatan dalam dirinya”.

Sepertinya perlu gebrakan yang mengagetkan agar semua tersadar bahwa tugas guru itu tidak main-main, yg asal hadir di sekolah tapi tidak berniat mengajar dengan sungguh-sunggu. Apakah mereka tidak berpikir jika anaknya sekolah di tempat ia mengajar lalu tidak mendapatkan pengajaran yg baik.

Budaya yg mengukur sesuatu dengan uang bukanlah budaya guru yg “guru”. Pembiasaan yg jelak jika semua diukur dengan uang. Yah memang perlu ketegasan bahkan diperlukan seorang pimpinan bertangan besi untuk meluruskan budaya buruk itu. Jika perlu dilakukan cuci otak agar guru yg tidak guru ini tahu diri.

Ah…

Bagaimana dengan etos kerja anda di tempat kerja?

Iklan

4 responses

  1. wah ternyata dimana-mana kurang lebih sama, ada yang rajin, ada yang malas, ada yang idealis, ada yang masa bodoh. gak tahulah ada sertifikasi dengan tidak ada sepertinya tidak ada perubahan

  2. he2 mukin idealis perlu tapi kebutuhan hidup pasti perlu. jika terus disunat idealis pasti kesunat juga bank. tegantung kepala buntut pati ikut.iya gak

  3. kalau dulu saya bersama teman2 di tempat kerja ya tentu aktif….. soalnya tinggal 3 langkah sudah ke ruangan bos… hohoheoeheo..

  4. Aku seorang guru pegawai negeri. Dulu sebelumnya aku lama mengajar di sekolah swasta favorit. Saat mengajar di swasta rasanya jiwa keprofesionalan saya begitu kuat. Demikian juga teman2. Tapi ketika aku masuk jadi PNS, mentalku sedikit menurun. Terus terang saja, faktor lingkungan sangat mempengaruhi. Khususnya yang menjadi penyebab bagiku adalah siswanya. Misalnya ketika guru disiplin waktu, eh siswanya pada kesiangan, susah sekali mengubahnya. Akhirnya on time ku jadi “menyesuaikan” Demikian juga faktor motivasi siswa lho sangat mempengaruhi semangat guru. Ketika melihat siswanya gak semangat, guru memberikan berbagai motivasi, tapi akhirnya …. masya Allah. Faktor lain adalah masalah birokrasi, yang terkadang membuat guru “muak” melihat ulah para pejabat. Itu kan berpengaruh kepada siswa kita. Yah baynyak lagi faktor.