Serajin Apakah Para Guru Belajar?

Makian Diri

Siswa di sekolah selalu mendengarkan saran dari guru agar dirinya selalu belajar, rajin belajar, giat belajar, bersemangat belajar. So… apakah para guru itu juga rajin belajar, mencermati apa yg akan diajarkannya? Jika guru itu juga punya aktivitas belajar serajin yg ia sarankan kepada muridnya, maka guru akan menjadi pintar terkait penguasaan materi pengajarannya, menguasai teknik pengajarannya, membuat siswanya selalu tertarik dengan pelajaran yg dibawakannya. Namun apa yg terjadi di kebanyakan sekolah di negeri ini?

Banyak materi pelajaran yang semestinya ia kuasai menjadi mentah dan dangkal. Lebih-lebih metode pengajarannya di garansi bakal lebih parah. Inilah salah satu penyebab payahnya pendidikan di negeri ini. Kalau sang murid malas belajar ini adalah imbas dari sang guru yg tidak rajin belajar juga. Dalam hal ini guru enggan untuk mau bertukar pikiran dengan rekan sejawatnya dengan niat untuk memperbaiki dirinya. Banyak waktu terbuang ketika sesama guru bertemu membahas hal-hal diluar dari apa yg semestinya di bahas layaknya seorang guru. Kadang ada guru yang merasa malu jika mendiskusikan terkait bahan yg ia ajarkan padahal banyak yg ia sendiri tidak pahami. Naif sekali jika hal ini sampai terjadi. Jika tiap saat guru mau berdiskusi entah dengan guru serumpun atau guru mata pelajaran berlainan sekalipun, maka suasana di ruang kerja menjadi ruang pembelajaran bagi guru, yg tentu saja tidak harus formil layaknya sedang sidang.

Suatu  ketika guru berkumpul disela menunggu jam mengajarnya malah dijadikan ajang ngerumpi tak berguna yg kadang berdampak miring dan tidak sepantasnya dilakukan para pendidik. Waktu belajar buat para guru sia-sia. Barangkali para guru yg seperti itu sudah merasa ilmu yg ia kuasai sudah cukup atau bahkan merasa lebih dari cukup. Sombong sekali sepertinya. Ritme kerja guru jika sama dengan para pegawai di bank, maka pendidikan di negeri ini akan segera menggeliat dan akan menghasilkan manusia terdidik yg hebat dari sisi manapun. Tapi nyatanya…

Sebagai seorang guru dituntut untuk selalu belajar sampai kapanpun dan tentang apapun terkait apa yg menjadi bagian pelajaran yg diajarkannya. Sudahkah semua guru melakukannya secara serius? Jawabannya ada dalam diri kita masing-masing sebagai pengajar/pendidik. Setiap guru akan dapat memperkirakan akan keberhasilannya dalam pengajaran hanya dengan melihat kemampuan diri baik penguasaan materi pelajaran maupun penguasaan kelas/ teknik pengajarannya. Instropeksi diri jauh akan lebih baik dibandingkan jika kita di koreksi pihak lain. Dan hal ini tentu tidak perlu menunggu sampai saat tertentu. Tapi mulai saat ini wajib kita lakukan. Beranjak untuk selalu memperbaiki diri, memperbaiki penguasaan materi serta mencoba terobasan baru sehingga berbagai persoalan dalam pengajaran terselesaikan.

Secara formal berbagai perangkat dibuat guru dengan terpaksa ia buat namun hanya sebatas itu maka ke sia-sianlah yg ia dapat. Tak ada manfaat berarti buat pengembangan kemampuannya terkait profesionalisme sebagai guru. Supervisi yg dilakukan atasanpun menjadi tidak berarti jika ia lakukan hanya sebagai formalitas belaka lepas dari esensi maksud supervisi untuk perbaikan-perbaikan buat pihak yg disupervisi. Kepura-puraan dalam segala hal hanya akan menghasilkan kesemuan. Termasuk dalam hal pengajaran di sekolah.

Lantas jika demikian pantaskah guru disebut sebagai guru? Mari kita simak ke dalam diri…

Iklan

17 responses

  1. Supervisi yg dilakukan atasanpun menjadi tidak berarti jika ia lakukan hanya sebagai formalitas belaka lepas dari esensi maksud supervisi untuk perbaikan-perbaikan buat pihak yg disupervisi. Kepura-puraan dalam segala hal hanya akan menghasilkan kesemuan. Termasuk dalam hal pengajaran di sekolah. <– bagus pak.. kritik yang sangat tajam! tapi bagaimana pun guru juga manusia yang tak luput dari kesalahan, bosan, dan butuh hiburan.. 🙂

  2. Salam kenal Pak, saya guru dari Musi Banyuasin.
    Postingan yang sangat baik Pak, saya rasa saya sangat sependapat dengan pemikiran Bapak, namun saya belum mempunyai kata-kata yang pas umtuk mengungkapkannya, karena saya belum banyak pengalaman. Semoga postingan ini menjadi penggugah para guru untuk menjadi lebih baik.
    Trimakasih sharing yang inspiratif ini Pak.

  3. Terima kasih, pak. Saya di pihak siswa mendukung hal tersebut. Guru seperti itu juga dalam teknik pengajarannya terkadang membuat kami kurang semangat. Tetap semangat untuk memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia.

  4. Salam kenal, saya sering buka bog panjenengan, tapi baru kali ini tingglakan pesan.
    Saya seorang guru dari kediri jatim.
    Sepakat dengan tulisan Kang Urip. Saat ini memang saya lagi berbenah untuk menjadi guru yang bener-bener seorang guru.

  5. he..he.. setiap dari kita memang perlu terus belajar ya pak. apalagi sbg guru.. #panutan para murid..
    thank dah ngingetin pak.

  6. Ada guru yang terkejut ketika melihat di rumah temannya banyak buku.
    Ada sisa yang terkejut ketika gurunya masih mau belajar.
    Ada guru yang termangu ketika tidak tahu apa yang harus dikerjakan.
    Ada guru yang …..

  7. Ada guru yang terkejut ketika melihat di rumah temannya banyak buku.
    Ada siswa yang terkejut ketika gurunya masih mau belajar.
    Ada guru yang termangu ketika tidak tahu apa yang harus dikerjakan.
    Ada guru yang …..

  8. Selama 8 tahun ngajar sy disupervisi 3 kali. Banyak kepsek malas melakukan supervisi padahal itu sangat bermanfaat untuk perbaikan cara mengajar. Sy sangat merasakan manfaatnya

  9. Gimana mau belajar??? Orang administrasinya se-abrek abrek. Kalo administrasinya ngga beres & rapi bisa2 ngga dapet tanda tangan Kinerja lagi?? Kayanya guru zaman sekarang tuch di tuntut harus tertib administrasinya ketimbang mengembangkan diri & menimba ilmu.

  10. Guru harusnya favorit oleh siswa. Favorit dalam hal keilmuan, favorit dalam hal tutur kata, favorit dalam tindakan.. mudahan menjadi masukan. I Love U Full Guru

  11. wah setuju banget, dosen tidak beda dengan guru, banyak dosen yang disekolahkan lagi menjadi master, tapi apa yang dihasilkan?? apa saya yang tidak positif thninking, beberapa dosen master yang saya kenal tidak ada bedanya denga dosen Sarjana yang baru mengajar, tidak melihatkan hasil karya hanya bisa berpendapat berdasarkan teori yang mereka dapat. Kelabihan konsep tanpa dilandasi praksitisi yang baik menjadikan saran dan nasihat dosen hanya teori berbobot tanpa makna. ( waduh sory jadi ngelantur pisss, tidak bermaksud….. )

  12. Mana Komen Kang Tofiq ?…
    he he he saya no comment ajalah

  13. salam kenal mas
    mohon kunjungan balik

  14. buat admin, sekarang anda mengajar ngga ???? jangan cuman belajar euy

  15. trimakasih atas sarannya
    ,moga-moga bermanfaat bagi diri dan orang lain
    Amin’
    .

  16. […] Dan melirik kembali gambar di atas dengan muka masam, saya masih saja merasa tersindir. Pertanyaan berikutnya adalah, bisakah keistimewaan yang saya anggap saya miliki ini memberi manfaat bagi orang-orang di sekitar saya? Sebuah pertanyaan menggantung yang makin membebani pikiran saya, terlebih ketika Pak Urip menanyakan hal ini… […]

  17. kalau untuk hal ini, saya no comment. masalah saya bukan guru, jadi bingung mau comment apa…

    Tapi seharusnya memang ini bisa menjadikan pelajaran buat para pengajar