Tidak Satupun Siswa yang Bodoh Tapi…

Introspeksi diri

Tidak satupun siswa saya yang  tidak pintar. Yang ada hanyalah para siswa pemalas. Mengapa mereka menjadi malas? Mereka tidak tahu bagaimana cara dirinya bisa belajar dengan benar. Akibat tidak tahu cara belajar yg benar, mereka tidak bisa menikmati proses pembelajaran baik di kelas atau di rumah. Akhirnya berbagai materi prasyarat untuk bahasan berikutnya tak dimiliki.

Jika sudah demikian maka pembelajaran tersendat. Masih mending hanya tersendat sesaat. Lebih parah adalah materi mendasar yg semestinya ia sudah kuasai di tingkat SD ia-pun lemah. Pondasi dasar jadi rapuh. Kalau sudah demikian bagaimana mesti bisa dibangun bangunan materi belajar lebih tinggi?

Suatu peristiwa sesaat saya bertindak sebagai guru pengganti guru matematika. Pokok bahasannya adalah persamaan kuadrat. Saya dapati siswa yang masih belum dapat menyelesaikan proses pengurangan 36 – 40… hasil hitung siswa itu adalah 0,6. Proses berhitungnya adalah dengan melakukan proses perhitungan yang disusun vertikel layaknya penghitungan biasa. Ini adalah siswa kelas X setingkat SMA. Bahkan proses perhitungan perkalian bilangan 1-10 juga ada yang tidak hafal.

Peristiwa di atas saya yakini terjadi di kelas lain (sekolah lain juga) bahkan level yg lebih tinggi. Saling mempersalahkan bukanlah solusi yg mesti segera. Yang perlu adalah bagaimana guru membantu siswa untuk dapat mengatasi kelemahannya.

Program remedial yang secara ideal akan dapat membatu siswa-siswa “payah” dapat diterapkan. Tentu jika dalam kelas siswanya tidak berjubel. Ada perhatian khusus dari guru mata pelajaran untuk siswa tersebut. Walaupun maksud remedial adalah untuk pelajaran yg “baru berlangsung” namun jika didapati siswa seperti kasus di atas maka bukan remedial lagi namanya. Tapi kasus seperti itu dapat segera diatasi dengan menunjukkan cara penyesaian proses hiutng yg simpel itu. 2 – 3 kali dilatih akhirnya toh mereka bisa.

Kemacetan itu adalah sesaat. Selanjutnya proses pembelajaran akan dapat berjalan lancar. Penemuan-penemuan kesulitan belajar selama proses belajar yang seperti tadi perlu penanganan yg segera. Perlakuan itupun tidak perlu waktu ekstra. Kadang memang guru kurang mau perduli dengan keadaan siswanya. Akibat berikutnya adalah selalu sulit dan sulit saja siswa mengikuti pembelajarannya. Siswa jenuh, bosan, dan bisa saja berakibat lebih jelek.

Jadi dalam keadaan seperti itu yg diperlukan adalah guru mau untuk selalu mengamati kondisi siswa. Segera membantu mencarikan solusi bagi siswa yang biasa di klaim siswa yg bodoh. Jika tidak maka bisa saja sebutan itu akan berbalik kepada sang guru… gurunya yg gak pinter sebagai guru.

4 responses

  1. iya pak, setiap siswa pada dasarnya mampu, cuma… malasnya itu lho.. aduh jangan2 saya punya kontribusi menjadikan mereka pemalas ya? 3Introspeksi diri..

  2. saya sering menjumpai hal serupa, cuma sudah dibimbing pelan22 tetap saja siswanya yang nggak mau mikir, gmn pak ? sbg guru tidak kurang2 memberi motivasi tapi kalau siswanya yg brekele trus gmn? akhirnya hy sabar yg bisa kami lakukan

  3. saya sependapat pak. karena itu saya bikin web khusus untuk masalah ini. jadi, saya sering sarankan murid saya baca web saya. lumayan . walau tak semua bisa buka internet. minimal jam ngajar saya tidak habis untuk ngisi motivasi aja. oh ya pak. mohon ajarin saya kimia komputasi pak atau kimia teoritis? langkah awal apa yang harus saya siapkan. latar belakang saya adalah kimia, tapi ngajar yang utama fisika, sesekali ngajar kimia atau matematik. trims pa dan salam kenal

  4. terima kasih telah menginatkan kami