Ujian Nasional, Permasalahan Status Quo

Opini Ngawur-Ku

Ujian nasional merupakan permasalahan yang muncul karena mental manusia Indonesia belum siap. Selain itu penyebabnya adalah ketidaksiapan mulai dari pemerintahan pusat hingga tingkat persekolahan yg berharap “kualitas” pendidikan di wilayah kekuasaannya ingin “terlihat berkualitas”.

Dari ketaksiapan akhirnya tindak tak bermoral dari sisi pendidikan dilakukannya juga. Apapun sistem pengawasan yg dilakukan tapi pada penghujung pelaporan dan rekap hasil ujian mereka masih berkesempatan bisa memainkannya. Inilah mafia dalam ujian nasional yg sulit diberantas, seperti mafia peradilan pada umumnya. Anehnya hal ini terjadi dari waktu ke waktu. Bukti untuk itu tidak akan nampak di depan mata. Karena semua pihak yg berkepentingan menutup dengan perkataan “ini rahasia kita bersama, jangan bilang-bilang”.

Kalaupun pada saat ujian penyelewengan atau tindak curang dapat ditekan, maka di level rekap dan pelaporan hasil ujian akan “lebih aman”, karena hanya melibatkan beberapa pihak. Dan “kucuran dana” untuk hal itu semakin menggiurkan dari segi besaran. Prinsipnya sama-sama menyenangkan. Dalam hal ini mental kita pada bobrok. Sekali lagi apapun sistem pengawasan yg dilakukan tidak akan membawa hasil. Sudah menjadi “rahasia bersama”.

Soal standardisasi hasil pengajaran apakah perlu? Kita melakukan pendidikan ini adalah untuk kesiapan dalam menghadapi kehidupan yang tidak hanya dapat diukur dari angka-angka. Lantas mengapa perlu dilakukan standardisasi, apakah manusia hidup perlu terstandardkan juga? Suatu bukti bahwa “manusia sukses” ukurannya bukanlah angka prestasi atau nilai di atas kertas. Namun “manusia gagal” bisa saja disebabkan akibat gagal lulus ujian nasional, mereka bisa stress, bisa gila, bahkan bisa bunuh diri.

Sebagai orang tua yang sekaligus guru, hasil belajar yg dirasakan siswa adalah semu dan sangat buruk.  Hasil-hasil ujian hanya merupakan penghibur manakala melewati ambang batas yg ditetapkan. Bisakah mereka bertahan untuk hidup dengan memiliki angka ujian melewati ambang batas?

Okelah dengan dalih bahwa ujian nasional bukanlah satu-satunya faktor penentu. Memang benar itu. Tetapi gara-gara ujian nasional bisa “menjerumuskan” seseorang. Ada guru tertangkap basah membantu siswa-nya. Ada kepala sekolah mengintimidasi guru yang tidak pro-aktif dalam “membantu siswa”. Ada kepala dinas pendidikan yg dimutasikan gara-gara tidak mau membantu mendongkrak rata-rata nilai ujian nasional di suatu daerah. Memberikan kesempatan kepada orang untuk membocorkan soal ujian nasional. Menginstankan belajar hanya dengan bisa menjawab soal. Padahal belajar itu adalah suatu proses. Di ujian nasional belum tergambar standar proses belajar seorang siswa. Apakah tak terpikirkan oleh para “pakar” yang dipercayai mengetahui lembaga yg ia pimpin.

Status quo bahwa ujian adalah proyek yang menyedot dana besar agar bisa dinikmati banyak pihak. Membuat sekolah tidak mendidik pihak yg ada dalam sekolah. Kembalikanlah ujian untuk mengukur apa adanya. Tanpa rekayasa. Tanpa pembohongan publik namun dengan kejujuran publik. Biarlah seleksi alam terjadi sehingga apapun hasilnya ujian nasional tidak menentukan seorang siswa lulus atau tidak. Biarlah lembaga sekolah menunjukkan outputnya sesjujurnya, tanpa beban harus sekian-sekian ambang batasnya.

Semoga Indonesia menjadi lebih baik dalam penanganan ujian persekolahan.

Iklan

20 responses

  1. Opini (ngawur) juga:
    (Sistem) Kita terlalu banyak menjejalkan pendidikan teknis ke anak didik. Pelajaran A, B, C, D… mayoritas menuntut kompetensi teknis. Masalah pendidikan psikologis jarang diDIDIKKAN secara SENGAJA dan TERENCANA… (maaf nggak maksud shouting…)
    Jadilah generasi anak muda kita menjadi generasi yang lulus yang mungkin bernilai Wah, tapi begitu menghadapi gempuran dunia nyata dan dunia kerja: terkapar.
    Saya merasakan pendidikan konsep diri ke anak masih sangat kurang. Anak yang bagus konsep dirinya saat usia 5 tahun, begitu lulus SD sudah punya pandangan negatif terhadap dirinya sendiri. Bagaimana pun juga pendidik dan lingkungan sekolah punya andil mengubah konsep diri si anak. Ada penelitian ttg hal ini -tapi lupa judul dan penelitinya.
    Padahal konsep diri sangat diperlukan seumur hidup manusia. Dengan konsep diri yg baik, setiap individu akan tahu bahwa kesuksesan bukanlah “angka di atas kertas”, “sudah punya ijazah doktor atau belum”, “berapa mobil di garasi”, dan yg semacamnya…
    Parahnya pendidikan psikologis ttg konsep diri tidak begitu dididikkan di sekolah indonesia..
    Ironisnya, kesuksesan seseorang ditentukan 90% penguasaan mental psikologinya, bukan 90% kompetensi teknisnya…
    Bayangkan seorang presiden yg 90% punya kompetensi teknis kepresidenan, namun tidak punya 90% konsep diri yg baik…

    Salam damai…

  2. Yaaaaa namanya juga komentar ngawur, jadi aku membacane yo ngawur juga, kesimpulane apalagi ngawur banget. Tapi neng ndesoku ada orang yg sukses secara materi karena saking tekunnya NGAWUR….

  3. Kita ngawur ngawuran yuk bahwa semua ini gara gara maria ozawa di tolak datang ke indonesia. Lho khan ngawur to
    mantap pak njerit terus

  4. Ini ngawur juga..

    Kebanyakan Orang kalau ditanya tentang 2 pilihan IJAZAH atau KEAHLIAN 99% menjawab IJAZAH,dengan alasan bahwa IJAZAH bisa diggunakan untuk cari kerja,padahal dalam relitanya KEAHLIAN lah yang berguna untuk kerja wehhh jadi bingung nich…

    masih ngawur juga..

    Pengembangan KTSP dikembalikan sekolah masing masing tapi soal untuk ujian nasional masih dari pusat dan hasil kelulusan juga dari pusat ….aneh

    dahulu kala sewaktu siefan masih duduk di bangku sekolah, ujian masih sangat murni ,buku masih bisa “nglungsur” dari kakak kelas, etika lebih diutamakan KBM bukan hanya sebagai pembelajaran tentang ilmu-ilmu pasti namun juga sebagai proses pembentukan akhlak dan etika peserta didik.
    ternyata hasil yang dicapai lebih memuaskan

    mau dikemanakan nasib para penerus bangsa ini….

  5. betul Pak.. yg paling tau anak didik berhak lulus ato tidak tu ya pendidiknya.. Guru-guru mereka. Ujian nasional terlalu dipaksakan. Sekolah dengan kemampuan sangat terbatas di daerah terpencil disamakan ujiannya dengan sekolah elit taraf internasional. sepertinya pemerintah perlu membenahi dulu ketimpangan ini baru boleh memukul rata ujiannya

  6. saya sebagai seorang guru sangat prihatin dengan adanya UN. membuat siswa jadi ketar-ketir. Mereka belajar hanya dengan motivasi lulus ujian meskipun nilainya berbeda 0.01 dari standar lulus minimal.. Tiga tahun belajar bergantung pada angka dengan perbedaan 0.01. SubhanAlloh..

  7. siapa yang mampu menolak tawaran project bernilai Rp 572,850 miliar?

    itulah nilai project UN tersebut. perlu keteguhan hati dan mental menolak angka tersebut.

    pejabat pendidikan yang keceplosan menolaknya, mungkin akan bunuh diri pada malam harinya karena menyesal dan tak tahan di maki sebagai si “bodoh” oleh istri serta koleganya

  8. Kalau saja kita bisa pesan otak bayi yang SNI, mungkin UN tidak perlu bikin semua orang resah.

    Maaf, opini ngawur juga, Pak Urip.

  9. menurut saya sih…UN memang aneh..
    Bisa-bisanya Sekolah yang ada dikota dan didesa disamakan tingkat prestasi kelulusannya.

    Aneh kan…

  10. emang tipe2 org indonesia

  11. perlu banyak banget pembenahan, agar status kengawuran itu bisa terkurangi. sedih dan menyedihkan sih, tapi…butuh ada yang memulai perubahan itu, walo sendirian

  12. TERIMAKASIH ATAS INFORMASI DAN TULISANNYA, CUKUP BERMANFAAT BUAT BACAAN/REFRENSI UNTUK REGENERASI. KUNJUNGI JUGA SEMUA TENTANG PAKPAK DAN UPDATE BERITA-BERITA DARI KABUPATEN PAKPAK BHARAT DI GETA_PAKPAK.COM http://boeangsaoet.wordpress.com

  13. senang rasanya masih bisa berkunjung di rumah sahabat di akhir pekan ini, salam dari kalimantan tengah 00:21

  14. senang rasanya masih bisa berkunjung di rumah sahabat di akhir pekan ini, salam dari kalimantan tengah 06:15

  15. […] Email Sesuai Pekerjaan, Kesukaan, dll. </a></li> <li><a href="https://urip.wordpress.com/2009/11/29/ujian-nasional-permasalahan-status-quo/&quot; title="Ujian Nasional, Permasalahan Status Quo">Ujian Nasional, Permasalahan […]

  16. kalaw UN terus dijadikan standar kelulusan, maka status kengawuran2 itu akan tetap ada bahkan mungkin akan meningkat, karena ujian model gitcu toh hanya menekankan pada aspek kognitif sesaat dan jelas mengesampikan aspek kepribadian siswa, walhasil produknya jauh dari yang diharapkan, wah gawat kalau nih…
    maksih bwat makalahnya inspiratif dan membuka wawasan..