UN Diselenggarakan dgn Alasan Ketakpercayaan

Suatu ketika mendiknas M. Nuh di Kompas berkomentar, ujian nasional itu dijadikan salah satu syarat kelulusan karena pihak sekolah selama ini tidak berlaku jujur… Indikasinya selama Ebtanas, UAN, hingga UN banyak sekolah yang meloloskan siswanya 100%. Tidak logis memang, dengan kondisi guru, fasilitas belajar minim kok bisa lulus 100%. Sebagai alat jika selalu lulus 100%, maka ujian nasional itu ibarat saringan yg sudah rusak… tak bisa menyaring. Rusaknya saringan ini karena mental manusianya yg kurang dan semestinya bisa dibenahi.

Bayangkan soal sudah dikawal ketat… ujian yg mengawasi dua orang guru, e bocor juga. Terus tidak lama lagi pengumuman kelulusan… lulus nyaris 100% atau kalau tidak yah untuk memantas-mantaskan saja. biar kelihatan jujur, padahal nonsen dah.  Setelah banyak aduhan soal tindak kecurangan maka muncul pernyataan akan mengevaluasi soal pelaksanaan UN lagi… Basi rasanya… mestinya ganti pola baru yg lebih manusiawi, mengembalikan kewenangan guru untuk “memvonis siswanya”. Mulailah berduyun-duyun model alternatif, yang saya yakini itu tidak akan menghasilkan perubahan signifikan dalam hal kejujuran.

Jadi kata kunci dalam ujian apapun itu namanya adalah kejujuran. Kejujuran bahwa seperti itulah kemampuan siswa kita. Sadari itu perlu pembenahan di sana-sini. Seret dana yg gak efektif itu untuk membangun sistem pembelajaran dan sistem ujian yg handal, bisa dipercaya. Bunuh semua proses jalur pintas, semacam les yg hanya mengejar target dapat nilai bagus tapi tanpa proses ilmiah yg logis. Efisiensi dana yg sering bocor, morat-marit karena kesalahan terstruktur, yg berakibat semua kualitas menurun adalah salah satu bagian sistem yg perlu di permak habis.

Banyak pengemplang pendidikan yg bersembunyi dibelakang topeng pejabat-pejabat korup. Sogok sana-sini, tilep sana-sini, sistem rusak. Semua karena bermotif satu mengenyangkan perut. Pejabat atas menekan pejabat bawahnya. Bahkan untuk menjadi pejabat mesti “nyogok”, baik secara langsung maupun tak langsung, sebelum atau selama menjabat. Banyak perjanjian2 yg bersifat ngrogoti harta negara. Dampaknya fatal buat pendidikan dengan carut-marut, compang-camping, yang tidak bisa diselamatkan lagi. Kehebatan-kehebatan semu belaka yg didapat.

Jika divoting sebenarnya siapa sih yg tak hendak pendidikan di negeri ini hebat. Tapi lantas mengapa tak beranjak menjadi lebih baik. Tak beranjak untuk merealisasikan jalan menuju lebih baik. Hasil baik, manakala prosesnya juga baik. Apa tak mungkin memberantas ketidakbaikan itu. Ah…

Iklan

19 responses

  1. harusnya UN bukan di jadikan patokan untuk menentukan kelulusan..hanya sekolah sendiri yang mengetahuai prestasi anak didiknya

  2. Sebaiknya para pakar dan stake holders pendidikan kembali duduk bersama untuk mengkaji kembali apakah masih perlu dilaksanakan UN untuk kedepannya atau perbaikan terhadap penyelenggaraan UN berikutnya

  3. Salam yah gimana lagi UNAS jadi momok tapi tetap dilaksanakan

  4. senang rasanya masih bisa berkunjung di rumah sahabat di akhir pekan ini, salam dari kalimantan tengah 06:08

  5. sistem yg dipaksakan ga akan bisa bagus hasilnya

    ya semestinya sih perbaikin mental para administrator dan pengambil kebijakan itu dulu, baru jalan

    kalo udah gini, cuma bisa berdoa
    smoga besok akan lebih baik lagi
    jayalah negeriku !

  6. wey gmne cieh mozila biyar ga lemot

  7. gimana ya kira-kira jika pelajaran di sekolah itu pelajaran yang di unaskan saja….biar anak-anak pinter dan nilainya tinggi pada mata pelajaran tersebut.

    Pelajaran yang lain gimana ….ya ga usah aja ….paling kalau mau di adakan ya sampai kelas 5 kalau sd sampai kelas 8 kalau smp dan sampai kelas 11 kalau sma…….
    gimana ya kira-kira ….?

    Jadi pelajaran selain unas selesai satu tahun sebelum unas….tahun terakhir khusus buat unas …..

    gimana ya kira-kira ……bagus apa jelek ya …..

  8. […] <h2 class="widgettitle">Tulisan Terbaru</h2> <ul> <li><a href="https://urip.wordpress.com/2010/04/09/un-diselenggarakan-dgn-alasan-ketakpercayaan/&quot; title="UN Diselenggarakan dgn Alasan Ketakpercayaan">UN Diselenggarakan dgn […]

  9. Salam kenal dari mahasiswa yogyakarta, mari kita tingkatkan dunia pendidikan di Indonesia melalui media blog ini, bersama kita tingkatkan mutu dan kualitas masyarakat, semoga tulisan anda yang bermanfaat ini dapat digunakan dengan baik oleh siapapun dengan menjunjung tinggi dan menghormati hak cipta.

  10. jujur pak, saya berniat menolong anak orang yang perlu ijazah, tidak perlu ilmu

  11. Informasi yang sangat bermanfaat …Salam kenal Pak…

  12. Masih perlukan Un diadakan?

  13. Mau lihat artikel yang bagus, keren dan menarik
    lihat aja di

    jangan lupa mampir ya

  14. mungkin tingkat kesadaran bangsa bangsa kita ini masih lebih membutuhkan ijazah daripada ilmu…

  15. SAya lebih setuju kalau UN dihapuskan dan untuk kelulusan dikembalikan kepada sekolah masing2.. Guru itu lebih tahu tentang kualitas murid2nya….,, UN justru membuat banyak korban berjatuhan dan semakin banyaknya kecurangan karena masing2 sekolah ingin terlihat lebih baik dibandingkan dg yang lain..

  16. salam,,,,aku baru calon guru,,,tapi ada benarnya juga itu pak,,,,ada siswa pintar nggak lulus justru yang nnt ke skolah krn ujian yang lulus….
    UAN memang tidak lagi perlu,,,,serahkan sja ke sekolah itu sendiri…
    ibaratkan sekolah itu rumah di perumnas,yang paling tau siapa,apa dan bagaimannya adalah pemilik rumah itu..bukan direktur perumnas,,,salut mas urip…

  17. Mungkin sudah waktunya seklolah meniru sistem SKS seperti di perguruan tinggi 😉

  18. UN Diselenggarakan dgn Alasan Ketakpercayaan | Log Guru Kimia Borneo I was recommended this website by my cousin. I’m not sure whether this post is written by him as no one else know such detailed about my problem. You are incredible! Thanks! your article about UN Diselenggarakan dgn Alasan Ketakpercayaan | Log Guru Kimia Borneo Best Regards Veronica Cindy