Siswa, Prioritas di Sekolah

Sekolah adalah rumah kedua bagi siswa. Buat sekolah senyaman-nyamannya buat siswa. Siapapun yg ada di sekolah mestinya memberikan layanan terbaik buatnya. Terutama guru dan pimpinan sekolah itu. Ia bekerja dan digaji hanya untuk melayani siswa. Layanan terbaik. Ideal dan semua pihak mesti berusaha sekuat-kuatnya untuk bisa memenuhi itu.

Sudahkah kita, guru, memberikan layanan terbaik buat siswa di sekolah?

Layanan terbaik dari guru untuk siswa adalah memberikan pengajaran yang baik, benar, dan memberikan inprovisasi diri siswa.  Untuk itu maka potensi/kemampuan siswa harus diketahui dengan baik terlebih dahulu. Berikutnya bisa dibuat perlakuan-perlakuan dan pada akhirnya kita dapat membandingkan kemampuan akhir dengan kemampuan awal-nya. Bagaimana dengan standar yang ditetapkan pemerintah atas hasil pembelajaran? Kita tahu bahwa standar yg ditetapkan itu hanyalah standar hasil akhir. Standar awal kondisi siswa, pemerintah tak memperdulikan. Adilkah ini? Belum lagi standar-standar yang ada diantara kondisi awal dan standar akhir yg berupa ujian nasional itu.

Sangat tidak fair. Apakah kepala sekolah, guru, staf TU juga telah dibuat standar? Nyatanya kita tahu, bahwa semua belum terstandar-kan. Ada kepala sekolah diangkat karena tidak ada yg lebih baik dari yg ada. Guru diangkat karena kebutuhan tanpa standar tetap. Demikian juga staf TU. Kinerja “para pelayan” juga tidak berjalan sebagaimana tuntutan semestinya. Suatu ketika ada sekolah berdiri dengan kondisi apa adanya, namun tuntutan lulus mengikuti standar. Aneh-nya lagi ijin berdirinya sekolah diberikan juga oleh pemberi ijin. Dikotomi sekolah negeri dan swasta, guru negeri dan guru honorer sangat jelas dari pemerintahan di negeri ini. Bisakah kondisi ini mampu memberikan layanan pembelajaran terbaik buat siswa?

Apakah layanan terbaik berbanding lurus dengan biaya tinggi?Menurut saya tidak mesti. Kuncinya adalah pada kreatifitas diri. Kreatifitas kepala sekolah, kreatifitas guru dan semua staf yg ada. Namun banyak orang yg menganggap bahwa hasil bagus mesti dengan biaya tinggi. Ok-lah. Tapi bagaimana dengan proses apakah juga terlayani dengan kualitas tinggi pula? Pada proseslah kreatifitas sekolah akan teruji. Bagaimana nurani pimpinan, guru dan staf sekolah berproses dalam upaya mengimprovisasi siswa.

Otonomi memberikan ruang gerak kreatifitas yang cukup luas. Tapi banyak pimpinan dan guru di sekolah lebih senang berada pada posisi status-quo. Ada apa ini? Berjalan di tempat namun tak maju2. Tahu kelemahan tapi membiarkan diri tidak beranjak dari posisi semula, tak segera bergerak. Tidakkah kita para guru, pimpinan sekolah sadar bahwa kita harus memberikan layanan pembelajaran terbaik buat siswa.

Mungkin pembaca bertanya apa yg saya maksud sebenarnya dengan memberi layanan terbaik buat siswa. Layanan itu adalah bagaimana kita tahu kondisi awal siswa dan tahu proses bagaimana yang mampu melejitkan potensi siswa itu. Ok dari mana pihak sekolah tahu kondisi awal siswa, tahu potensi siswa? Paling gampang namun tidak valid adalah dengan melihat angka-angka hasil ujian nasional yg masih tidak menggambarkan kemampuan siswa itu. Ini setidaknya, kecuali pihak sekolah mau menyusun tes bakat dan potensi siswa tiap awal tahunnya. Untuk guru, bisa dilakukan pre tes tiap mengawali pembelajarannya. Namun hal ini haram untuk membuat siswa tertekan.

Sudah kita, para guru yg terhormat memberikan layanan terbaik…? Sy sendiri juga merasa belum, maka ayo awali dari sekarang.