Supporter Penahan “Birahi”

Birahi memang benar harus dikendalikan untuk bisa memberikan keuntungan lebih banyak bagi manusia pemilikinya. Tapi birahi di sini memiliki makna beda dengan arti sesungguhnya.

Baru saja saya cemas karena ada beberapa kendala saat login di indukan ngeblog yang saya pakai selama ini, wordpress.com. Saya coba memberitahu rekan nun jauh di sana soal itu yang kebetulan sama-sama pengguna wordpress.com untuk katarsis, dan onani otak. Dan ada respon darinya. Tak lama selain berkirim pesan singkat saya pun dihubunginya. Senang juga bisa ketemu rekan sejawat yang jauh lebih matang dalam segala hal.

Yang membuat saya senang dan tersadar, karena selama ini pingsan, dan karena memiliki “birahi” tinggi. Dia mengetahui kondisi saya itu hanya melalui tulisan-tulisan di blog ini. Sepertinya dia jadi”orang pintar”. Oke-lah saya mengaku soal itu, begitulah kondisi saya. Dan sayapun mengkui kalau saya memiliki softskill yang rendah. Sepertinya peringatan rekan saya itu membuat saya betul-betul terhenyak untuk bisa bangkit, dengan memanfaatkan segala kelebihan (kalau ada) dan segala kekurangan itu.

Rekan saya itu juga pernah berhasil memberikan “bara” bagi salah satu guru yang ada di SMP Labschool Jakarta. Dan menurut saya guru ini berhasil mengembangkan dirinya untuk bisa bermanfaat buat orang yang ada disekitarnya. Menurut cerita rekan saya itu, pernah menantang guru SMP tersebut untuk berhenti jadi guru di LabSchool Jakarta. Yang bersangkutan tidak sanggup untuk berhenti dan disarankan oleh rekan saya untuk segera membuat blog untuk menunjukkan “eksistensi dirinya”. Guru tersebut adalah Wijaya Kusuma yang terkenal dengan panggilan Om Jay. Seorang trainner, guru, penceramah, dan kompasianer terkenal. Sukses terus om Jay.

Selama ini saya memang terlalu bersemangat untuk “berbagi” terus terung gatal tangan untuk tidak segera berbagi pengalaman terutama pengalaman yang ada hubungannya dengan software kimia dan tips-trik selama berselancar mengarungi lautan informasi.

Saya terinspirasi dari adik rekan saya itu. Seorang guru yang benar-benar kreatif,  sesuai dengan url blognya gurukreatif.wordpress.com. Saya salut dengan kemampuannya bisa membawakan materi menarik dengan cara-cara menarik. Dia adalah seorang adik yang sukses karena mau menurut kata kakaknya, begitu kata rekan saya. Saya pun diingatkan rekan saya itu, kenapa saya tidak mau belajar dengannya (takut gak mau mengajari sih), tidak nurut dengan rekan saya itu, agar bisa jadi “TRAINER” sukses. Padahal saya baru tadi itu ia ingatkan untuk bisa jadi orang yang “SUKSES” seperti adiknya dan Om Jay yang bisa menahan “birahi”. Sebelumnya seingat saya belum pernah mendapatkan wejangan darinya (hehehe karena saya tidak meminta). Baru tadi walau saya tidak meminta saya mendapatkan support gratis darinya. Pesannya tahan-lah “birahi” anda. Semoga tafsiran saya tidak keliru soal “birahi” itu. Jangan terlalu “meledak-ledak”. Lalu sesaat saya sadar… yah seperti itulah kondisi saya.

Saya mesti menyelami dalam-dalam pesan penyemangat itu.

Pada akhir percakapan singkat via telepon seluler, saya sempat berdalih, bahwa soal posisi itu menentukan prestasi, posisi menentukan “rejeki”. Dia malah menyangkal justru sekarang saya berada pada posisi yang tepat dengan jumlah pesaing yang belum banyak. Dalam hati saya benar akan begitu manakala pengguna sebanyak di kota besar, lah kan saya tinggal di tengah hutan belantara. Itulah kilah saya dalam hati. Mestinya “rejeki” bisa saya raup lebih karena saya tidak berada di kota besar seperti Jakarta. Hanya diperlukan softskill untuk bisa mencontoh rekan saya. Perlu juga membuka peluang untuk diri sendiri.

Saya harus belajar lagi. Lebih banyak belajar dari rekan saya itu.

Dedi Dwitagama….. Terimakasih.

5 responses

  1. […] (Pemenang e-learning award Depdiknas RI 2008) Pangkalan Bun Kalimantan Tengah, di kompasiana dan blognya yang diberi judul Supporter Penahan “Birahi” Pak Urip palig kiri saat penganugrahan e-learning […]

  2. senang belajar pada mas Urip yang kreatif

    salam
    Omjay

    1. Ups… Terbalik omjay, sy yang mesti belajar dgn om yg subur ide, tulisan omjay berkembang dan berbuah, rasanya manis, adem lagi. Sulit memang membuat ‘birahi’ teredam. Terimakasih om atas kunjungannya.

  3. Salam hormat saya dari jauh, untuk seorang guru yang selalu mau berbagi dan tidak henti memberi inspirasi orang lain.

    1. Lama tak bersua… Hormat juga untuk guru yang selalu berkreasi seperti mas AgusSampurno yang nyaris sempurna. Malu saya yang berlatar belakang guru tapi tidak bisa jadi guru kreatif seperti sampean. Beruntung punya abang seperti Pak Dedi. Salam kreatif. Salam untuk keluarga di Jakarta.