Pendidikan “Seolah” Tanpa Arah

Judul tulisan ini bukan bermaksud untuk memvonis secara membabi buta. Tulisan ini saya buat setelah menyimak pernyataan menteri agama yang ada di koran Republika tanggal 18 Oktober 2010. Menag Evaluasi Rencana Madrasah Internasional. Yah tentang madrasah yang bertaraf internasional. Sepertinya kementerian agama tidak mau ketinggalan dengan departemen pendidikan yang “bernafsu” membuat sekolah bertaraf internasional meskipun kontennya lokal-nasional.

Tahun 2009 pada kementerian agama mencanangkan pendirian madrasah bertaraf internasional (MBI), semua daerah tingkat II diberi kesempatan untuk mendanai setidaknya menyediakan lokasi yang cukup untuk pembangunan sarana dan prasarana MBI. Bahkan saat itu telah ditetapkan 12 kabupaten yang siap mendukung pendirian MBI. Segala sesuatunya di persiapkan. mulai dari kurikulum dan sumber daya manusianya (SDM). Dilakukan rekrutmen secara nasional bahkan sudah dilakukan tes calon tenaga pengajar dan tenaga kependidikan tahap 1. Tentu semua itu memerlukan dana, menguras anggaran negara.

Pemerasan hasil olah pikir para pakar yang dipercaya untuk “membuat” MBI dituangkan dalam sebuah renstra yang direvisi berkali-kali. Kini, semua itu “dianulir” begitu saja. Bahasa halusnya dievaluasi. Karena menurut menteri agama Surya Darma Ali rencana itu kurang strategis, rencana sebelumnya dipandang kurang tepat strateginya.  Karena diperkirakan peluang kegagalannya besar. Pertanyaannya adalah lalu apakah kebijakan menteri sebelumnya hanya dilakukan sambil lalu saja, tidak serius, bahkan tidak tahu strategi? Apakah di bawah menag sebelumnya itu tidak dilakukan analisis peluang kegagalan dan keberhasilannya? Apakah rencana itu karena bernilai “proyek besar” yang bisa disembelih?

Begitu pergantian menteri (menag) rencana itu “digagalkan”. Mungkin kelak jika sampai waktunya pergantian kabinet dengan menag baru recana yang digagas kementerian saat ini akan dipandang kurang strategis dan kurang tepat. Perlu evaluasi lebih lanjut. Lalu sampai kapan sebuah kebijakan dengan rencana matang itu terwujud, dengan mencetak generasi bangsa yang intelektualitasnya bisa diandalkan.

Di sinilah saya memandang bahwa benar sudah menjadi budaya di negeri ini, setiap ganti menteri ganti kebijakan. Pantas saja pendidikan kita baik secara kualitas dan kuantitas masih berada pada level yang “payah”. Benar seolah-olah kalau bukan saya jangan, begini saja menurut saya. Keberlanjutan kebijakan untuk pendidikan semestinya sudah jelas, tidak berubah 180 derajat seperti banyak kebijakan yang diambil para menteri yang seolah-olah merasa paling benar dan menyatakan strategi sebelumnya kurang tepat atau bahkan mungkin dipandang sampah saja.

Benar memang membuat sekolah yang “bermutu” tidak bisa instan. Kalau dibuat instan menjadi tidak bagus untuk kesehatan pendidikan pada umumnya dan madrasah pada khususnya. Kelirukah pengambil kebijakan sebelumnya, sehingga dianggap kurang tepat. Bukankah tim perumusnya untuk pendirian MBI itu juga orang-orang dalam kementerian agama sendiri? Sepertinya ada “kubu” yang tidak pro dengan menteri sebelumnya. Entah apakah pro atau tidak pro-nya karena kepentingan “haram” yang sebelumnya tidak menguntungkan diri?

Lalu mau diarahkan kemana pendidikan di madrasah jika selalu ada perubahan kebijakan seperti itu. Bukankah setiap kementerian sudah punya renstra yang jelas? Atau memang pemerintahan tidak punya kepentingan yang lurus untuk mengangkat citra mutu manusia yang hanya bisa dicetak melalui pendidikan. Apakah patut pendidikan dijadikan “permainan” oleh para penggambil kebijakan yang dengan seenaknya membelokan arah. sekali lagi mau di bawah kemana pendidikan di negeri ini sebenarnya.

Iklan

7 responses

  1. Saya ingat jawaban sdeorang pemimpin: “Biar saja”.
    Sakit enggak dijawab seperti itu? Itu yang berkata pejabat di Kemenag.

    1. Hehehe sy malah senang, ini lubang yang harus ditutup dengan kritik melalui tulisan. Jadi ada sumber bahasan 🙂

  2. pak urip, blognya baguuuus… Aq lg coba blajar buat blog kimia tp koq buntu ya??? minta saran dongggg….

    1. Ok, buntunya di bagian mana mbak hesti?

  3. blog yang bagus, very-very inspiring…

    1. Yup, terimakasih maswins. Saling berbagi, untuk tumbuh bersama demi kemajuan diri dan pendidikan anak negeri.

  4. makin banyak proyek, proyek rekrutmen dsb makin besar peluang penyunatan…hihihii….