Guru, Berpikirlah Seperti Katak dalam Tempurung!

Meskipun bukan hasil survei atau hasil penelitian, saya berkeyakinan bahwa pendidikan sulit maju karena pola pikir para guru laksana katak dalam tempurung. Semoga saja itu keliru. Wah jangan-jangan saya juga memiliki pola pikir seperti itu. Guru yang mengajar siswa mulai dari sd hingga sma atau yang sederajat memang “lebih hebat” dari siswa yang diajarinya. Karena itu sering mereka merasa ilmu mata pelajaran yang dimilikinya lebih dari cukup untuk sekedar mengajar di kelas. Padahal kompleksitas pembelajaran itu tidak sederhana. Tidak sekedar bisa menguasai pelajaran jenjang yang diajarkannya untuk bisa jadi seorang guru.

Kemauan kuat untuk selalu belajar sepanjang hayat tentang semua hal terkait dengan profesinya harus terus dipelihara. Tidak boleh ada alasan karena guru tinggal jauh dari kota. Sulit akses informasi terbaru karena tinggal di pelosok atau di udik. Termasuk isu-isu tentang pendidikan yang terkinipun harus ia ketahui. Apalagi hal terkait dengan pekerjaannya, seperti bagaimana mengajar yang baik, bagaimana menyelesaikan persoalan pembelajaran yang dialami siswa, bagaimana meng-update ilmu yang ia miliki. Jangan sampai apa yang dimiliki itu basi, kaduluarsa. Kalau sampai itu terjadi maka dipastikan siswa sebagai generasi penerus akan mendapatkan hal yang bersifat “racun”.

Seiring perkembangan TIK yang cepat maka semua info dan teknologi yang terkait pendidikan laksana lari meninggalkan siapapun yang enggan mengikutinya. Jika setiap guru masuk kelas dan menyarankan siswa untuk rajin belajar, ada pertanyaan apakah sang guru juga rajin belajar? Jika jawabannya guru “tidak sempat belajar” karena sibuk maka ini adalah pertanda buruk bagi seorang guru, lebih-lebih bagi guru yang sudah mengantongi sertifikat pendidik.

Lihat saja kalau guru-guru sedang berkumpul secara tidak resmi berapa persen yang mau mendiskusikan tentang seluk-beluk pendidikan dan pembelajaran yang sedang ia hadapi. Tanya diri motivasi apa yang mengantarkannya untuk hadir pada forum semacam MGMP, apakah untuk “mengupgrade diri”, atau sekedar datang dengan harapan yang untung-untungan. Kalaupun mereka sudah mau mengakses internet berapa persen informasi pendidikan yang ia kunjungi. Seberapa rajinnyakah guru-guru itu aktif mengikuti sebuah forum online pada komunitas pendidikan tertentu. Atau jangan-jangan mereka tidak tahu bagaimana untuk memanfaatkan forum daring (online) di internet.

Belum lagi seberapa sering ia menuliskan sesuatu sebagai intisari dari ilmu yang ia baca dan peroleh. Menulis dalam hal ini tidak mesti berupa penelitian yang bertujuan untuk menjadi point angka kredit untuk bisa naik jabatan. Yah kalau mau untuk itu sudah lebih bagus, sudah mau “menulis”.  Menulis memang bagi kebanyakan guru bukan pekerjaan yang mudah. Padahal sesungguhnya tidak sulit. Tidak lebih dari 26 huruf dan 10 angka plus beberapa tanda baca dan simbol. Mereka semua sudah bisa baca dan tulis, tapi mengapa meraka kesulitan untuk menulis.

Akar masalah kesulitan guru menulis adalah kebiasaan formal dalam menulis. Harus begini begitu kalau mau menulis. Kenapa tidak menulis bebas? Seperti memanfaatkan media blog seperti ini untuk katarsis diri.  Bisa bebas menulis apa saja bebas dari aturan ini itu. Padahal dengan menulis bebas pada saatnya nanti kita bisa membuat tulisan yang “layak jual”.  Tentu semua itu perlu proses berlatih. Mungkin juga banyak guru yang enggan menulis karena takut isi kepalanya, takut kemampuannya diketahui oleh orang lain. Dari tulisan itu isi kepala guru bisa diketahui. Takut dikritik, malu kalau tulisannya jelek. Padahal semua tulisan itu ada proses untuk menjadi baik. Tidak bisa instan untuk dapat menjadi penulis yang baik kalau ia berniat menjadi seorang penulis.

Kepada rekan guru yang belum “membuka diri” mari mengarungi lautan informasi lewat media apa saja untuk memperbaiki kualitas diri sebagai seorang guru yang “guru”, untuk menyelesaikan permasalahan pendidikan di sekolah kita. Atau kita memang tidak perduli dengan persoalan yang setiap hari melilit siswa dan profesi kita? Kalau begitu berpikirlah seperti katak dalam tempurung saja.

3 responses

  1. Mantaap sekali OM

  2. berpikir seperti katak dalam tempurung? wah….. betul-betul kena aku sekali ini.
    Baru sadar kalau aku seorang guru seperti katak dalam tempurung.

    1. 🙂 Semoga membawa manfaat untuk yang ingin mengambil manfaat dari tulisan tak berharga itu.