Kehebatan Konfigurasi Elektron dalam Kimia

Paruh kedua semester pertama sudah dimulai. Pembelajaran kimia kelas 12 memasuki pokok bahasan tentang unsur-unsur kimia. Dipelajari tentang sifat-sifat fisika dan sifat-sifat kimia dari beberapa unsur. Dikaji berdasarkan tiap golongan maupun tiap periode.

Siswa kebanyakan merasa pokok bahasan unsur kimia ini melelahkan, banyak yang harus dihafal katanya. Ini diakibatkan rujukan pada contoh-contoh soal yang dibuat guru ataupun di banyak buku mengarah seperti itu. Apakah memang harus demikian untuk pokok bahasan ini? Apakah para pembuat soal latihan yang ada di buku dan juga para guru tidak memahami hal penting yang mesti diajarkan dan dijadikan bahan soal ujian atau latihan? Bukankah itu “kurang berguna”?

Dalam pelajaran kimia logika atau kemampuan menghubungkan satu konsep ke konsep lain sangatlah menentukan untuk memahami materi yang sedang dipelajari. Tidak mesti semua harus dihafalkan. Kalaupun harus dihafalkan harus merupakan hafalan bermakna. Sifat-sifat fisika dan kimia dari unsur-unsur kimia terkait erat dengan bahasan mendasar tentang konfigurasi elektron. Ini yang sampai saat ini bisa diterima untuk bisa menjelaskan berbagai fenomena ke-kimia-an.

Konfigurasi elektron sendiri merupakan rekayasa pikiran manusia. Apakah sebenarnya begitu, itu adalah rahasia Sang Pencipta. Manusia hanya bisa memanfaatkan kelebihan yang diberikan-Nya untuk bisa menyingkap tabir alam berupa akal. Keteraturan yang “terbaca manusia” dari ayat-ayat-Nya yang kemudian dibuat aturan atau hukum menurut penemunya itu tentu tidak semua patuh azas atau aturan. Jika sudah demikian dibuatlah perkecualian.

Seperti halnya konfigurasi yang merupakan rekayasan pikira manusia, yang berusaha bisa menjelaskan gejala materi dibuatlah “kesepakatan” dan perkecualian. Misalnya pengisian konfigurasi orbital unsur golongan transisi antara orbital 3d dan 4s. Dengan metode “gothak-gathik-gathuk” maka muncul istilah terisi setengah penuh dan terisi penuh. Secara logis itu bisa saja diterima akal. Pada titik inilah sering menjadi sumber pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam setiap ujian, baik ujian sekolah atau nasional.

Pada buku-buku ajar kimia sering muncul permasalahan yang dari buku itu tidak ada jawaban.  Ini masih terkait dengan penggunaan aturan tentang konfigurasi yang dikaitkan dengan sifat-sifat unsur. Bagus dan hal itu bisa dijadikan bahan petualangan pemikiran siswa dalam memahami lebih jauh tentang apa yang sedang dibahas atau dipelajari.

Misalnya, mengapa ada unsur yang memiliki bermacam-macam bilangan oksidasi Dalam buku dijelaskan secara singkat karena adanya subkulit 3d yang belum terisi penuh. Bagaimana menjelaskan hal ini untuk mengkaitkan variasi bilangan oksidasi dengan subkulit 3d yg belum terisi penuh itu? Mengapa semakin banyak elektron yang belum berpasangan akan semakin kuat sifat paramagnetiknya? Mengapa unsur transisi bisa bersifat sebagai katalitik dalam suatu reaksi kimia tertentu, apa hubungannya dengan konfigurasi elektron?

Kehebatan pengkonfigurasian elektron untuk menjadi dasar menjelaskan gejala materi kimia luar biasa meskipun kadang perlu dilakukan pelurusan konsep pada sang pembelajar kimia. Yang perlu disadari adalah semua teori dan hukum adalah rekayasa manusia dalam usahanya menyingkap kebesaran Dzat Yang Maha Kuasa. Dari pemahaman konfigurasi elektron banyak sifat suatu unsur dapat dijelaskan. Mulai dari jari-jari atom, energi ionisasi, afinitas elektron, reaktifitas, sifat logam-non logam, kemagnetan, perubahan warna, peluang model ikatan dengan unsur lainnya dan lain-lain.

Jadi dalam kimia konfigurasi elektron memainkan peran utama untuk bisa memahami konsep-konsep lain. Maka pahami betul konsep dan aturan main dalam konfigurasi elektron ini untuk bisa menguasai sebagaian ilmu kimia.

 

 

 

Iklan

2 responses

  1. dari dulu saya cuma bisa ngihitung elektron valensi, sisanya ga ngerti lagi pelajaran kimia..huhuuhuuhhuu

  2. pak urip blognya bagus, jd referensi dan inspirasi untuk belajar kimia dan blog saya.