Sejumlah Tanya untuk KTSP

Sejak KTSP (kurikulum tingkat satuan pendidikan) diluncurkan  sosialisasi dan pengembangannya tidak henti-hentinya dilakukan. Semua itu didasari keyakinan akan bagusnya kurikulum ini. Segala dana, upaya seolah tertujuh ke arah sana.  Harapannya semua guru memahami kurikulum tersebut dengan benar. Benar menurut aturan-aturan ketat yang telah ditetapkan berdasarkan kajian para pakar yang menetapkan rancangan kurikulum tersebut.

Konteks pendidikan dalam proses pembelajaran itu adalah membantu siswa untuk bisa menguasai suatu mata pelajaran yang semestinya dapat menjadi bekal untuk masa depannya, untuk keperluan hidupnya kelak. Tapi perlukah dibuat berbagai perangkat secara detail sesuai aturan teknis itu?

Andai aturan main dalam pengembangan KTSP bisa ditaati dan diterapkan dalam pembelajaran hasilnya pasti luar biasa. Bagaimana kenyataannya? Apakah terus harus menunggu sekian tahun lagi untuk melihat hasilnya? KTSP sangat ideal dan diyakini akan menghasilkan output pendidikan yang sesuai tujuan dibuatnya kurikulum itu. Tapi muncul-lah pertanyaan, siapkah semua guru yang secara individu memiliki kemampuan berbeda-beda itu memenuhi tututan penggagas kurikulum? Menurut hasil penelitian kemampuan akademik para guru SMA ternyata sangat parah. Jika kondisinya demikian, mampukah guru itu untuk mengemban dan mengembangkan KTSP?

Ibarat seorang sutradara film, ia harus tahu persis bagaimana proses film itu dibuat, mulai dari A hingga Z dan  ia juga harus tahu apa yang akan dihasilkan dari proses kerja yang dilakukan. Apa yang harus dilakukan untuk mengikuti alur cerita yang ia anut hingga film itu tuntas, selesai dan siap tayang. Sutradara harus jelas, tegas dalam memberikan arahan selama proses syuting. Selama proses pembuatan film interaksi secara pribadi dengan semua kru ia lakukan sehingga semuanya sehati untuk tujuan yang satu, menghasilkan sebuah film yang bagus.

Bisakah guru mengikuti analogi seperti sutradara itu? Guru seperti  sutradara, ia juga mutlak harus tahu dan menguasai materi pelajaran secara akademis, paham luar dalam tentang mata pelajaran yang diampunya. Ia juga harus tahu bagaimana mengarahkan, mengomando para siswa serta menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan dalam proses pembelajaran. Ia juga harus bisa melakukan editing atau mengevaluasi selama proses pembelajaran dan hasil pembelajaran. Kalau perlu meminta pihak lain untuk mengevaluasi tindakannya untuk mendapat perbaikan dan saran.  Pengecekan ulang antara rencana, tujuan, dan hasilnya. pun ia harus lakukan. Pembelajaran di sekolah lebih dari  sekedar pembuatan film, pembelajaran itu serius bukan kepura-puraan. Oleh karena itu proses pembelajaran semestinya harus digarap dengan kesungguhan.

Mengapa guru-guru masih perlu diajari lagi dalam pengembangan kurikulum? Apakah di LPTK dulu belum pernah mendapatkannya? Bahkan detil untuk analisis soal pun tidak luput dari materi yang diberikan dalam pengembangan kurikulum ini. Masih perlukah ini? Bukankah itu merupakan kegiatan rutin yang dilakukan guru selama ia mengajar. Apakah selama ini ia tidak lakukan lagi kemudian di kuatirkan ia lupa sehingga perlu dingatkan kembali?

Kemanakah peran pengawas dan kepala sekolah yang semestinya bisa membantu mengatasi persoalan di lapangan, jadi tempat bertanya para pihak yang di garis depan pendidikan? Mengapa harus mengeluarkan dana besar untuk “hanya” mengembangkan kurikulum. Apakah begitu sampai tempat tugas sang guru mau mengimplementasikannya. Seberapa banyak setiap ada kegiatan yang berbau KTSP kemudian dilakukan evaluasi implementasi di lapangan? Barangkali inilah penyebab mengapa KTSP belum berpengaruh dalam peningkatan mutu pendidikan. Padahal mutu pendidikan selama ini hanyalah dilihat dari nilai ujian nasional saja, belum lagi ditinjau dari proses pembelajarannya.

Siapa yang harus perduli? Kegiatan dengan dana tidak sedikit tapi tiada hasil siginifikan.  ada juga pertanyaan mengapa kegiatan-kegiatan semacam ini marak tiap akhir tahun anggaran saja? Tulisan saya ini memang bernada pesimis, namun bukan itu maksudnya, setidaknya dengan deretan tanda tanya kita semua sadar dan tahu harus bagaimana bertindak, bersikap, tahu harus mulai dari mana.

Sekali lagi penguasaan materi pelajaran oleh guru mata pelajaran adalah hal yang sangat utama. Bagaimana bisa membuat perencanaan yang bagus kalau materi pelajaran yang semestinya dikuasai tidak terkuasai  guru. Bagaimana bisa membuat skenario pembelajaran yang benar, bisa menarik minat siswa, bisa membuat inovasi pembelajaran di kelas kalau guru tidak menguasai materi pelajaran. Menurut saya  penguasaan materi pelajaran adalah hal yang sangat mendasar. Coba saja, jika guru tidak menguasai materi pelajaran bagaimana bisa ia membuat media pembelajaran, menyusun bahan ajar. Jangan sampai-lah guru berhenti belajar untuk selalu meningkatkan penguasaannya. Celakanya kegiatan pengembangan kurikulum kontennya hanya persoalan teknis pemenuhan perangkat saja. Apakah itu menjadi masalah utama yang dirasakan guru? Bukankah penguasaan materi jarang sekali tersentuh sehingga akan menjadi penghadang majunya suatu institusi yang namanya sekolah?! Saya kuatir jangan-jangan kegiatan itu terselenggara sekedar menghabiskan anggaran. Konten dan siapa yang menyampaikan kurang menjadi perhatian.

Ajang musyawarah guru mata pelajaran (MGMP) adalah wadah yang paling ideal untuk menambah amunisi guru agar bisa membidik sasaran dengan tepat. Oleh karena itu revitalisasi keberadaan MGMP adalah penting. Itu semua untuk membangun semangat sesama guru dan saling berbagi, tapi sayangnya MGMP berjalan kalau ada dana, jika tidak maka macet. Haruskah demikian? Bagaimana manajemen pengelolaan MGMP sehingga bisa jalan dengan baik? Padahal semestinya guru-guru bisa saja menjalin hubungan kerjasama tanpa harus resmi menggunakan wadah MGMP. Silahturahmi santai untuk diskusi terkait aktivitas pembelajaran antarguru bisa saja dilakukan. Tapi sejauh mana itu kita lakukan?

Itulah sejumlah tanya dalam kepala saya.