Andai Orang Pintar (Semua) Mau nge-Blog

Indonesia negara besar, jumlah penduduknya banyak. Orang yang termasuk golongan cerdik-cendikia juga banyak. Tapi penduduk di negeri ini kesulitan untuk mencari “ilmu” dari internet yang bersumber dari tulisan-tulisan orang cedik cendikia tadi. Yang ada hanyalah tulisan sampah kurang berguna dari orang seperti saya yang tidak termasuk dalam golongan tadi. Apakah meraka takut dijiplak karya-nya?

Kalaupun ada biasanya mereka lebih suka menulis di jurnal nasional atau internasional, untuk mengaksesnya tidak mudah (baca perlu dana). Nah kalau menulis di blog, uhui… berapa biji yah jumlahnya? Mengapa demikian yah? Apakah para cerdik-cendikia tidak ada tanggung jawab moral untuk “memintarkan” anak negeri? Atau mereka beralasan “Loh kan saya sudah bagi ilmu saya lewat seminar-seminar atau pertemuan ilmiah lainnya, sudah saya tulis juga di jurnal atau media masa”. Ya iya, tapi untuk mendapatkan itu semua perlu modal cukup. Mengapa tidak ditulis di blog sehingga semua orang Indonesia yang memerlukan dapat mengkasesnya bahkan mungkin bisa mengembangkannya.

Kalau mereka beralasan tidak ada waktu jelas itu mengada-ada. Seberapa sibuk hidupnya hanya meluangkan waktu untuk menghentakkan tuts keyboard untuk berbagi sedikit saja. Masak iyah semua harus dihargai dengan kredit point agar cepat naik pangkat dan kemudian jadi profesor. Sepertinya egois banget!!! Atau mereka berpikir bahwa saya dapat ilmu ini juga gak gratis kok. Atau mereka tidak tahu cara nge-BLOG? Jiah… Bukannya mereka semua sudah melek teknologi, masak iyah mereka belum melek teknologi, yang benar saja!

Menurut saya blog adalah media yang bagus untuk berbagi ilmu kalau memang mereka berniat mau berbagi. Memang itu adalah hak mereka untuk mau atau tidak berbagi ilmu pengetahuan dan pengalamannya. Bukankah dalam harta (termasuk yg berupa ilmu) juga ada hak orang lain?!

Kalau perlu usul kepada pembuat peraturan agar tulisan para cerdik-cendikia yang di blog dapat dihargai sebagaimana tulisan ilmiah lainnya. Soal teknisnya bagaimana yah diatur sajalah. Yang jelas dengan mereka mau menulis hal bermanfaat terkait dengan kepakarannya maka akan membuat orang banyak yang pandai. Notabene itu akan meningkatkan derajat hidup manusia di negeri ini.

Power of blog sesungguhnya luar biasa untuk dijadikan media “berbagi”. Benar memang dengan blog juga bukan segalanya, tapi sekali lagi mungkin buah pikiran kita yang “sampah” bisa jadi akan ada yang memungut untuk dijadikan “barang” berharga dan bermanfaat lebih kalau diletakkan di blog, ditulis di blog. Apalagi kalau kaum cerdik-cendikia yang mau berbagi, wou… akan sangat mencerahkan.

Seperti kebanyakan blog dengan gaya-nya masing-masing bisa diisi tulisan santai, ringan tapi dapat mengisi belahan otak yang masih kosong dari pembacanya. Gaya kaku dan lagak tulisan ilmiah pun akan cocok ditulis di blog. Tidak ada aturan yang harus begini atau begitu. Jadi tunggu apa lagi untuk menebarkan amal dengan niat mulia. Ayo menulis di blog…

 

20 responses

  1. Aduh, kalau semua alasan sudah terbelejeti begini, pak, sepertinya alasannya tinggal… umm… males….

    1. Penyakit ummm males obatnya hanya satu… Paksa! Pingsan gak bangun2 akhirnya gak berkembang bahkan mati sia2, ilmu mau dibawa mati?! Atau lagi nunggu hidayah-Nya?!

  2. kayaknya energi aktivasinya harus besar pa urip … sifat kelembamannya tinggi …he he he, salam

    1. Yuk usul ke mendiknas agar blog para cerdik-cendikia di akui kredit pointnya biar cepet jd profesor mereka, karena rajin menulis di blog. Blog gitu di beri IBSN, teru didaftarkan tulisan mana yg akan diminta dinilai untuk dapat point.

  3. Mungkin lebih masuk akal dan terkontrol jika jurnal ilmiah saja yang dibuat blog atau situs, tentu ada tim redaksiny, para pakar mengirim via email, keputusan pemuatan tergantung pada tim redaksi. Ini untuk jaminan mutu.
    Nah untuk kemerdekaan mendapatkan dan memberikan informasi, Blog memang tempat yang paling demokratis. Itu menurut saya. He he. Mkanya Indonesia selslu tertinggal, karena pelit berbagi.

  4. *nunjuk2 link*
    ini free pakde
    tapi belum diaplot2
    hehehhehe

    yang sudah ada baru di web utamanya ๐Ÿ™‚

    1. Yoi buruan yg mendapatkan link free itu pasti girang banget.

  5. pengalaman di kantor
    ada yang ngeblog, tapi sudah pensiun … kira-kira (mungkin) untuk dapet jejaring setelah pensiun
    tapi aku pikir telat banget

    *semangat ngeblog

  6. spakat pak urip…
    di Indonesia krisis sekali orang2 yg menulis “sampah” tapi bermanfaat seperti pak urip…
    sepertinya malah menkominfo yg harus memberi penghargaan pada guru2 (cendikia2) yg produktif dalam menulis, meski hanya berbagi pengalaman mengajar dll,,,
    jika guru2-nya sudah luar biasa (menjadi teladan yang baik) dan terus mengasah keilmuan-nya (terutama di bidang-nya)maka tentu para siswa akan dengan sendirinya menjadi “produk” yang luar biasa pula… (loh? jadi ngelantur yah? gak nyambung.. biarin aaah… he”)

  7. Saya sependapat dengan Cik Gu, salam persahabatan sebelumnya dari sesama Blogger Borneo.

  8. hmmm.iya…
    tapi IPB sudah mulai mengajak mahasiswanya untuk nge blog….

    semoga mahasiswa menulis hal hal yang bermanfaat bagi dunia pendidikan

  9. Aih..jadi malu sendiri membaca tulisan ini… sepertinya mengingatkanku pada org2 “pinter” di sekelilingku. Mereka banyak punya ilmu, tapi lebih handal dalam bahasa lisan. Promotorku sendiri yang penelitiannya begitu banyak hanya menulis beberapa buku, itupun dulu sebelum jadi profesor. Mungkin kenal Prof Dr. Liliasari, M.Pd. yang pernah nulis buku paket kimia SMA. Kalau di kelasnya aku dapat ilmu banyak. Pernah sempat nanya mengapa tidak menuliskan ilmu tentang pembelajaran kimia untuk meningkatkan keterampilan berpikir tingkat tinggi. Jawabnya..kehabisan waktu..akhirnya dia menggratiskan potongan tulisan2nya utk dicopy mhs. Dan beliau tdk tahu caranya ngeblog..he..he! Masih banyak profesor dan doktor2 yang serupa tipikalnya..awam dunia ngeblog dan kehabisan waktu buat internet an … Bukan karena mereka tidak mau sharing … Ya..itulah potret dunia cendikiawan kita.

    1. Wah semestinya muridnya yg menuliskan kembali yah bu ๐Ÿ™‚ Dulu waktu awal pengenalan KTSP sy gak pernah ikut atau diundang di kegiatan sosialisasi tapi sy punya temen yg sepertinya langganan diundang yah udah saya minta file2-nya terus saya upload. jadi deh! Semoga para Profesor muda dan doktor muda semakin banyak yg rela berbagi. menyempatkan berbagi di internet. SECARA gratis!

  10. Setahu saya ; kenapa mereka menulis di jurnal, sebab mereka mengejar angka kredit untuk kenaikan pangkat dan promosi. Seharusnya untuk saat ini dibuat peraturan, bahwa dengan mempuyai blog dan memposting tulisan2 bisa mendapat point kredit, walau kecil angkanya.

    1. Tapi ada alasan lain, itu untuk menguji kebenaran dari apa yang ia tulis selanjutnya mereka nunggu sanggahan, kritik, saran atas tulisannya di journal. Dan kalau di blog sebenar hal itu bisa saja dilakukan juga yah.

  11. Betul..muridnya yg harus menuliskan lagi .. (..nih..masih belajar ngeblog!…
    He..he.. sedikit membela diri ..)
    Sebenarnya, saya juga sempat dikritik teman2. Katanya gak ada kerjaan ikutan ngeblog apa untungnya …!
    Padahal kebanyakan teman2 kuliahku dan di tempat kerja …rajin status update di fb …! Kalau diajak ngeblog, katanya ribet..ga tahu caranya ..!
    Dan betul ..kalau ga ada angka kreditnya umumnya males dibagi-bagi gratis.
    Bisa juga khawatir diplagiat oleh org yang memburu angka kredit juga … !
    Pasalnya, banyak juga dosen yg mengajukan makalah hasil plagiat mereka dan berhasil sukses kenaikan pangkat … Parahnya mereka cuma comot sana-sini dr tulisan2 di blog org lain.
    ..Soal urusan tulis-menulis ini memang kompleks … Kembali lagi pada niat “untuk apa menulis dan untuk apa ngeblog ” ….
    ***he..he.. maaf rada sok tahu ..nih..ye …***

    1. ๐Ÿ˜€ sepertinya begitulah kondisi orang2 di sekitar kita pada umumnya… normal saja. Kita enjoy aja dengan hoby kita.

  12. dalam blogging kadang-kadang datang juga rasa malas, apalagi kalo ngga ada ide untuk posting.

    1. Yah memang begitu, tapi kalau tidak sama sekali ๐Ÿ™‚

  13. sy blogger tapi ga merasa pinter … cuma sering geer krn disebut trainer or narasumber …. kabuuuuuuer …. ๐Ÿ˜€