Pembelajaran Masih Berpusat pada Guru, Sulitkah Mengubahnya?

Ajakan untuk melakukan pembelajaran yang tidak lagi berpusat pada guru sudah lama dilakukan oleh berbagai pihak. Sejak CBSA hingga KTSP. Nyatanya yang terjadi di kelas-kelas tetap saja pembelajaran tidak seperti yang diharapkan. Seperti yang saya lakukan juga 🙂 . Pembelajaran yang berpusat pada siswa atau siswa belajar aktif itu sepertinya masih belum membumi, masih di awang-awang. Ini tidak lepas dari lemahnya kemampuan guru dalam mengatur dan merubah pola pikir dalam proses mengajar di kelas. Akibatnya siswa belajar menjadi tidak bermakna. Pelajaran dianggap sekedar pelajaran, aplikasinya dalam hidup sangat kecil.

Bagaimana dengan di kelas anda atau kelas rekan anda di sekolah? Sepertinya kita enggan melakukan pembelajaran yang berpusat pada siswa kan? Apakah para guru tidak memahami konsep tentang pembelajaran seperti itu? Apakah penyebab yang sesungguhnya? Adakah kaitan hal itu dengan ujian nasional? Hah yang terkahir ini mengada-ada yah, maksa banget untuk dikait-kaitkan karena gak setuju dengan UN.

Indonesia memiliki sejarah pengajaran yang sangat kental dengan peran guru yang dominan. Mulai dari jaman Belanda sampai saat ini. Di pesantren juga polanya lebih mengental lagi, guru atau ustadz posisinya luar biasa. Seburuk apakah pengajaran yang berpusat pada guru itu? Toh kita sekarang ini hasil didikan dari pengajaran berpusat pada guru.

Saat ini peran guru diminta “hanya” sebagai fasilitator di kelas. Porsi aktif-nya di kelas-pun sebisa mungkin dikurangi. Dari 2 jam pelajaran ada yang menyarankan untuk mengambil tidak lebih dari 50% peran guru. Apakah seluruhnya sudah siap, pendukungnya sudah memadai untuk itu? Bagaimana mind set guru,  apakah itu sudah dikaji? Apakah sudah dikondisikan begitu atau harus mengkondisikan diri?

Semua kembali pada niat, mau atau tidak mau saja. Sebenarnya siapakah yang berkepentingan dalam hal pembelajaran yang bermakna dan dapat diterapkan dalam kehidupan nyata itu? Banyak pembelajaran yang sekedar pengetahuan tapi siswa tidak mau menerapkan dalam kehidupan kesehariannya. Di manakah letak salahnya? Kurang apa coba, sehingga pelajaran yang ia terima dari guru menguap begitu saja. Hehehe mungkin gurunya lagi yang salah tuh!!!

Ah rupanya mereka (siswa) tidak merasa perlu dengan apa yang kita ajarkan. Kalau tidak mereka tidak mengerti tujuan kita memberikan pelajaran itu apa. Mereka tidak tahu apa harapan kita setelah mereka mengikuti pelajaran hari itu. Bukannya ini sudah diberitahukan saat awal mengajar dan bisa disampaikan secara eksplisit. Mungkin juga mereka berangkat ke sekolah hanya sekedar menggugurkan kewajiban bersekolah saja, bukan kewajiban belajar. Ini dia yang menjadi kendala kalau benar mereka lakukan. Jika demikian mungkin setiap awal pelajaran atau pagi hari siswa dan guru dikumpulkan bersama-sama  di halaman sekolah kemudian untuk melakukan suatu kegiatan yang dapat menyadarkan kembali akan tujuan pembelajaran hari ini. Diperlukan seorang pelopor pendobrak perubahan kalau memang ini belum dilakukan. Siapapun dapat memberikan suntikan semangat dan sedikit “wejangan” untuk masuk dalam suasana yang bagus dalam memulai aktivitas hari itu. Tapi jangan sampai ini hanya akan menjadi “rutinitas dan ritualitas” yang tidak ada maknanya.

Kembali pada persoalan keberpusatan pembelajaran pada guru. Inovasi-inovasi strategi dan metode pembelajaran dapat dilatih untuk bisa lebih menghidupkan suasana kelas. Pelatihan-pelatihan guru selama ini memang kurang membumi. Contohnya suatu ketika saya mengikuti kegiatan pelatihan atau pembinaan menjadi fasilitator guru, kami dituntut ini itu tetapi selama proses pelatihan justru aplikasi dari teori pembelajaran tidak diterapkan oleh pengajar saat itu. Misalnya ia menyarankan agar suasana belajar menjadi semangat disarankan di ruang kelas diperdengarkan musik-musik yang bisa membuat siswa enjoy dan semangat belajar. Tujuannya adalah untuk mereduksi suara pengganggu selama pembelajaran berlangsung dan lain-lain. Menurut saya mestinya hal itu bisa dipraktikkan selama kegiatan pelatihan juga tapi tidak juga. Itu jadi terkesan terbang, tak berpijak di tanah, tidak ada contoh yang mengesankan peserta.

Perlu dilakukan perombakan-perombakan metode pelatihan guru yang selama ini tidak lagi up to date. Pengajar pelatihan mestinya dihadirkan orang-orang yang mumpuni dan berpengalaman dalam melakukan perombakan strategi dan metode pembelajaran. Dia mesti sudah berpengalaman dalam inovasi pembelajaran baik dari segi teknis atau materi. Tapi kebanyakan pelatihan yang diterima guru-guru itu diberikan oleh orang-orang karena sekedar jabatan-nya, karena sebagai widyaiswara. Hasilnya sekedar menggugurkan tugas saja. Hasilnya sudah terbayangkan dan jangan berharap banyak.

Dominasi guru pada pembelajaran bukan pada siswa ini memang terbangun dari sistem sejak mula. Ini adalah tradisi lama yang memang sulit untuk dihilangkan. Diperlukan tekad kuat dari semua pihak agar perlahan diubah dan itu menjadi keharusan. Pembiasaan itu akan memerlukan waktu tapi semua itu berawal dari pola pikir pihak yang bertanggung jawab dalam pembelajaran baik di kelas maupun di ruang pelatihan-pelatihan guru. Demikian pula pola pembelajaran di kampus sebagai lembaga pendidikan dan tenaga kependidikan (LPTK) yang mencetak calon-calon guru juga harus diubah. Dosen LPTK pun harus bisa mengubah sistem pembelajarannya tidak lagi sekedar ceramah dengan menjejali mahasiswanya dengan teori-teori, tidak sekedar bisa memberikan saran, tidak hanya memvonis itu salah, tidak hanya dan tidak hanya yang lain yang tidak mengubah pola lama yang membuat pembelajaran berpusat pada guru.

Sekali lagi ini memang tradisi yang harus diubah secara perlahan. Perlu waktu dan keyakinan diri bahwa dengan memusatkan pembelajaran pada siswa akan menghasilkan pembelajaran lebih bermakna. Tekad kuat diperlukan untuk semua itu. Mengurangi porsi dominasi guru dalam kelas untuk bisa memacu siswa selalu aktif dan kreatif di kelas. Kita mulai dari diri sendiri, dari guru. Hancurkan kemalasan untuk mencari terobasan dan inovasi yang bisa menggerakkan bibit berbakat di ruang kelas kita. Yakinlah itu akan memberikan arti kehidupan bagi tunas-tunas muda itu. Mari bersama untuk mulai memulai. Kita berikan ruang yang cukup dengan “kehebatan kita” sebagai guru.

 

 

Iklan

2 responses

  1. Ini namanya belum hijrah juga ya pak …
    Berbagai strategi/metodologi merombak sistem memang harus terus kita gali … 😉
    Cara yang paling mudah selama ini adalah, kalau ada di suatu tempat di negeri yg tradisinya mirip yang sudah berhasil dengan baik melakukannya, cara dia boleh jadi rujukan pertama. Apa yang dia lakukan, apa yang tidak kita lakukan.
    Yah, pendapat doang pak guru. 😀

    1. Pendapat yang mencerahkan… Terimakasih tambahannya Mas Herianto.