Kepemimpinan, Etos Kerja, dan Nurani

Institusi berhasil memajukan diri atau gagal ditentukan oleh setiap komponen dari institusi itu sendiri. Jika etos kerja pegawainya bagus institusi itu akan bagus dengan suasana sejuk menyejukkan. Kalau sudah maju biasanya nurani masing-masing manusia dalam komponen itu juga luar biasa. Pengaruh luar dan konflik pribadi-pribadi tak terlalu siginifikan mempengaruhi kinerja serta proses yang mesti berjalan di institusi itu. Ada saatnya kapan cuek jika terjadi hal-hal yang bisa menghambat kinerja pribadi-pribadi di sana dan itu benar-benar disadari setiap individu. Yang jelas semua itu didasari oleh visi dan misi yang jelas, bukan basa-basi.

Saya mencurahkan perasaan yang barusan saya alami via facebook.

Banyak orang yang mau makan gaji meskipun tidak melaksanakan tugas secara penuh padahal mereka sehat, alasannya karena iri yang lain juga tak melaksanakan tugas. Luar biasa remuknya mental begitu.

Pengawasan melekat justru yang seharusnya ada dalam hati nurani ternyata membuta juga. Di luar sana banyak yang antri ingin mendapatkan pekerjaan itu, mengapa tak bersyukur dgn menjalankan tugas sebaik-baiknya.

Ternyata salah satu penyebabnya adalah ketidaktegasan pimpinan ‘menindak’ pegawai yang tidak disiplin. Membuat yang lain juga ogah-ogahan menjalankan tugas. Hancurlah institusi semacam itu jika semua berpikir begitu.

Selanjutnya ditimpali oleh rekan lain:

# “Mereka itu tidak sehat, Pak Urip. Jiwanya sakit. Tidak mau menerima alur logika yang waras dari sebuah pekerjaan dan gaji. Logika sakit itu akan mengawali korupsi. Syukurnya, bukan krn Allah, tapi karena nafsunya terturuti. Naudzubillah …”

# “makan gaji buta, hati nurani membuta, pimpinan tidak tegas, tinggal tunggu waktu kehancuran institusi…”

Sebenarnya saya ingin mengungkapkan kekesalan diri mengapa institusi pendidikan terutama guru dan juga bagian TU-nya tak bisa menjaga diri.

Usut punya usut dari pemikiran dan logika saya, itu masalah di kepemimpinan. Ketagasan yang tak berefek mengakibatkan semua itu terjadi. Keberanian mengambil langkah dalam menghadapi bawahan yang tidak jelas. Mungkin karena khawatir tidak dianggap populis akhirnya selalu melemah. Keberanian mengambil langkah yang didasari peraturanpun tak bisa dijalankan dengan baik. Jika sumber daya manusia yang ada tak terkendali untuk bisa mewujudkan misinya dalam memajukan  institusi sebenarnya harus berkonsekwensi x dan y. Ini adalah institusi pimpinan adalah nahkoda. Jika ada sumber daya manusia yang tak layak dibina tidak ada alasan untuk “membuang-nya”.

Analisis saya pimpinan semacam itu sebenarnya bukannya tidak memiliki etos kerja yang tinggi, hanya saja dalam penanganan sumber daya manusia yang cenderung “bandel” dengan segala alasannya akhirnya memberikan dampak kurang kondusif.

Menurut saya jika kebandelan itu ia tak sanggup tanggani ia bisa mengundang pihak luar untuk bisa “mencuci otak” pribadi-pribadi yang bandel itu untuk bisa kembali ke khitah institusi tempat ia bekerja. Nuraninya diasah agar tajam dan sensisitif terhadap keadaan dengan tidak selalu iri dengan perbuatan negatif sesamanya demi kemajuan institusi itu. Jika tak mau melakukan ini tentu akan membuat semakin sulit institusi itu berkembang ke arah yang lebih baik.

Apakah harus dibuat peraturan bersama dengan segala konsekuensi? Mungkin ini adalah langkah yang tegas dengan disepakati dengan visi dan misi jelas untuk memajukan institusi. Barangkali semua pihak belum pernah membuat atau menyusunnya sebelumnya. Jika belum layak saja itu terjadi, etos kerja yang mlempem, nurani yang membuta dengan bertahan ala kadarnya asal gaji lancar saja.

Mari perbaiki diri membuka mata nurani diri, meningkatkan etos kerja ditempat dimana kita bisa menghidupi keluarga kita.

Iklan

4 responses

  1. […] full post on Log Guru Kimia Borneo Etos, Kepemimpinan, Kerja, […]

  2. biarkan hati nurani yg berbicara .. dan menuntun jiwa ke jalan yg benar.

  3. Sebenarnya sy tidak begitu pandai utk ninggalkan komentar namun tak apalah ya katakanlah sbg Opini kali. Teori banyak yg tahu tapi pada pelaksanaan sering tidak sesuai meskipun bertentangan dgn nuraninya pd umumnya lebih mengutamakan diri pribadinya saja. Kemudian yang tdk boleh diabaikan bhw kita bekerja dengan manusia tentu diperlukan system Human relation not a machine ya.. rasa kebersamaan dalam tujuan mulia utk bangsa tdk hanya bekerja utk gaji. Jika Pemimpinnya serius tentu bawahannya tdk akan main-main. demikian lebih kurang mohon dimaafkan. KTU SMAN 1 Talawi Kab. Batu Bara Sumut.