Memenjarakan Pemikiran di Facebook

Tangkaplah ide-ide yang berseliweran di kepala kita, tulislah di sini (facebook maksudnya), kembangkanlah lain waktu. Ini salah satu manfaat menulis status di facebook. Baru dapat ide begitu. Kemudian semua hasil tulisan saya pada malam minggu tadi di facebook saya salin rekat di blog ini. Berharap sih ada manfaatnya.

Menulis status dengan bijak adalah kunci untuk menarik hikmah dibalik ide (tepatnya pemikiran) yang berseliweran untuk dijadikan bahan tulisan yang lebih bermakna. Membiarkan ide atau gagasan berseliweran, berterbangan begitu saja termasuk perbuatan yang sia-sia. Ini juga yang membuat kita semakin bebal dalam menulis.

Menulis seharusnya membuat diri kita terbebas dari beban pikiran “sampah” di kepala. Jangan sampai jadi beban, alirkanlah pikiran lewat hentakan tuts keyboard atau hp sekalipun. Melalui status di facebook mari kita rangkai, kita rajut untaian kalimat menjadi tulisan. Yuk jadikan ini kebiasaan yang meringankan isi kepala. Semuanya tentang apa saja, sampai nanti kita tahu kita bisa jadi penulis berkarakter. *cita-cita*

Sebaiknya memang kita tidak mensia-siakan tulisan kita tak berguna di facobook. Hanya sekedar mencari sesuatu yang semu yang tak banyak bermanfaat buat diri sendiri apalagi buat orang lain. Maaf 🙂 Jangan kuatir ide kita akan dipakai orang lain kalau menuliskannya di sini atau ditempat lain, justru kita harus bersyukur kalau bisa menginspirasi rekan lainnya.

Semua tahu bahwa huruf itu hanya ada 26, bebas dipakai berulang-ulang, gratis lagi. Tapi merangkaikan jadi kalimat bermakna diperlukan pembiasaan. Apakah anda terbiasa hanya berpikir tapi tidak mau menuliskannya dengan memakai 26 huruf itu, coba mulailah dgn menulis bebas, bebas dari aturan. Yah benar setidaknya di facebook dulu. Memotivasi diri untuk menggunakan huruf untuk pelampiasan perasaan adalah kunci pembiasaan diri dalam menulis bebas. Hentakan tuts mengalir begitu saja tanpa terhentikan. Sebab kita masih hidup. Alhamdulillah.

Hanya lewat tulisanlah kita dibedakan dengan makhluk lain. Pernyataan tadi untuk melecut diri agar mau menulis, semoga dari tulisan itu memberi manfaat buat diri dan orang lain. Dari dulu guru tidak banyak yg rajin ‘menulis’ sama seperti halnya saya. Semua ‘hanya’ pandai berkicau seperti burung, kicauannya hanya jadi hiburan di kelas, terbukti tak banyak memberi ‘efek’, makanya ayo kita tulis.

Pernahkah kita menghitung apa saja yang berkecamuk dalam pikiran kita ketika sedang tidak ada yg harus diselesaikan?! Berzikirpun mungkin tidak selalu kan?! Coba semua itu diekstraks dalam suatu tulisan berapa kilobyte semua hanya dalam sekejap. Kita rajin baca tapi tidak rajin menulis maka kita dianggap tak ada di ”dunia” ini. Sama halnya kita punya akun di facebooke dan tidak pernah menulis status lagi, banyak teman lagi, maka dikira anda sudah tiada. :)) *jangan serius menanggapinyalah!*

Menulislah dengan emosional, tidak ada yang melarang, asal tak menyinggung SARA, maka kita akan heran kok bisa yah kita menulis begitu, biarkanlah, lanjutkan saja. Ada yang berteori dalam menulis, bagus bacalah saja, tapi jangan dituruti itu akan membuat sulit diri kita. Menulislah sesuai isi kepala kita jangan melebih-lebihkan. Biarkanlah sampah kepala kita keluar, jangan biarkan menumpuk dan memberatkan diri di situ.

Kita perlu ingat bedanya manusia primitif dengan manusia modern adalah dalam peradaban tulis menulis. Prasasti diri pun mesti lewat tulisan sebagai tanda kita manusia beradab, maaf. :))

Belajar menulis adalah dengan menulis, bukan direncanakan, gak usah bikin kerangka ini itu, itu teori. Apakah anda mau menulis skripsi, makalah, tesis atau nulis untuk jurnal?! Tidak kan?! Yah sudah menulislah. Itu baru belajar namanya. Macet? Yah ditulis juga macetnya itu :))

Menonaktifkan otak secara perlahan adalah dengan tidak menulis, jika sudah terbiasa tidak menulis maka kasihan tuh produsen tinta dan kertas, kasihann tuh PLN listriknya gak dipakai ngidupin komputer, kasihan tuh produsen smartphone hp kita tutsnya gak rusak-rusak, kasihanilah diri sendiri!

Jadilah manusia yang percaya diri, kalau ”perlu” gak usah baca buku lain. Biarkanlah begitu. Sesungguhnya kita sudah dibekali kehebatan oleh Yang Maha Kuasa dalam kepala kita, hanya kita tidak pernah mengakrabinya. Yuk dicari apakah itu? Jangan pasung pikiran dengan tidak menulis. Soal pengajaran bahasa, terutama bahasa Indonesia beserta perangkat evaluasi dan ujiannya membuat banyak pelajar emoh menulis. Akuilah itu para pengajar bahasa! Halo… teman guru bahasa Indonesia!

Provokasilah dirimu sendiri, jangan sampai terprovokasi pihak lain, terutama dalam menulis. Selama kita belum berhenti berpikir sesungguhnya itulah modal kita untuk bisa menuangkannya dalam bentuk tulisan. Jangan pikirkan tulisan baik atau tidak, bermanfaat atau tidak, tapi setidaknya anda sudah menapaki jalan menjadi penulis hebat. Tinggal mau atau tidak aja.

Baru menulis selarik kalimat sudah sibuk mengedit tulisan, pada saat kita ngobrol dengan orang lain, pernahkah kita mengedit omongan kita? Semua mengalir begitu saja, topiknyapun bisa berbelok ke hal lain dengan smooth walaupun lebih tepatnya disebut ngelantur. Kita boleh aja menulis ngelantur gitu, toh judulnya boleh ditentukan kemudian.

Hei soal judul tulisan kita, jangan pikirkan itu ketika menulis bebas. Bukankah pada saat kita ngobrol santai dengan teman atau siapapun gak pakai judul. Kalau mau berteori soal judul harus gini gitu tar aja yah dibahasnya, kita kan membahas hal menulis bebas yang tak membelenggu.

Ibarat sedang ngobrol dengan seseorang kemudian tiba2 stagnan kita seolah kehabisan bahan pembicaraan, apa yang kita lakukan, menginggalkannya begitu saja? Huh tidak etis! Kita bisa mencoba topik lain untuk diobralkan untuk mencairkan suasana. Begitu juga dengan menulis. Gampangnya nanti kita buatkan paragraf penyambungnya. Ah ini sudah masuk ranah teori deh. Terserah saudara aja deh.

Pernah suatu ketika saya dikeluhi seorang penceramah agama, katanya di betah kalau ceramah bahkan berjam-jam membuat orang yg mendengarkannya betah tak beranjak untuk setia. Tapi begitu menulis gak lama sudah macet, tahu apa penyebabnya?! Jika menulis dengan menghadap kertas/komputer, tak ada kontak dg audiensnya memang monoton kalau belum terbiasa, tanpa dialog. Mengapa tak pandang seolah menghadapi audiens? Pasti ngalir, termasuk guyonan yang bikin audiens gerrr sehingga pembaca pun akan selalu menunggu endingnya. So?

Berniat belajar menulis, ajaklah ngobrol monitor atau kertas itu sambil menghiasinya dengan untaian kalimat. Ups ini sepertinya teori jangan diikuti! Bebaskanlah diri dari segala aturan dalam menulis. Yang saya tulis tadi itu kok jadi aturan menulis?! Sebaiknya  jangan praktikkan apalagi sambil cuap-cuap didepan monitor atau kertas dikira anda sedang tak waras.

Ok mari awali menulis sesegera mungkin.