Standard Pendidikan itu Sebenarnya Apa?

Rangkain tulisan saya dari facebook pagi ini.

Sering kehebatan seseorang tidak selalu menjadikan dirinya sebagai sang juara. Tapi itu akan selalu menjadi pemuas dahaga dirinya. Ayo gali terus potensi diri pemberian Illahi yang setiap insan memilikinya. Setiap anak manusia lahir dengan segala kelebihan dibanding anak yang lainnya. Namun sering kali kelebihan itu tersamar atau tertutup bahkan ditenggelamkan perasaan kekurangan.

Dicari guru kehidupan yang sanggup menjaga kelebihan anak manusia, menghilangan kekurangan-kekurangan diri yang selalu muncul dalam menapaki harinya. Tanggung jawab orang tua dan guru, maka diperlukanlah guru kehidupan yang sanggup mengikis kekurangan diri anak didik untuk bangkit, membuahkan percaya diri dengan kelebihan yang tertidurkan itu. Andakah?

Tidak banyak juru kikis kekurangan anak didik, lebih-lebih jika kekurangan bertumpuk dan merendahkan diri, manusia langkah itu. saya pun sering memupuknya lewat penjatuhan mental yang justru menyuramkan masa depannya. Lebih sulit menghilangan karat kekurangan diri jika sudah menebal sudah jadi dewasa. Tapi semua tidak ada yang mustahil, tergantung niatan dan tindakan diri serta tetap menunggu pengaruh lingkungan.

Salah satu upaya membuat kelebihan hadir kembali adalah menekuni sesuatu di mana orang lain tidak getol menekuninya. Hal kecil namun langkah. Kalau kita perhatikan itu banyak sekali, hanya kejelian saja yang akan memunculkan kehebatan diri.

Sering kita mendengar selorohan ”tampil beda”, boleh tampil beda tapi jangan sampai ‘nggilani’ (seperti orang gila). Justru begitulah Allah SWT menciptakan manusia dengan segala keunikan. Keunikan adalah suatu kelebihan. Kadang saya merasa aneh, jika Tuhan menciptakan manusia dengan keunikannya, tapi justru manusia itu sendiri yang membuat keseragaman. Menurut kita manusia keseragaman itu bagus, sekali lagi bagus menurut kita.

Keseragaman kerab kali membohongi diri seolah kita sama padahal nyatanya kita tidak ada yang sama. Misalnya jika yang lain berbuat jahat pada diri kita lantas kita membalasnya pula. Kalau ada orang berbuat baik kita ingin pula melakukan kebaikan yang sama, padahal kita punya kadar kemampuan beda dalam hal itu.

Soal keseragaman dalam hal standardisasi ujian nasional yang dulu kerap dipolemikkan itu juga termasuk menyalahi kodrat Illahiyah. Standard ukuran panjang-pendek, berat-ringan digunakan pada kondisi berbeda jelas itu keliru, tapi tetap dipaksakan.

Kekakuan dalam menerapkan standard, lantas semua dibikin standard, ini salah kaprah yang lebih parah, ada standardisasi ini, standardisasi itu, semua di standardkan. Sebuah pemikiran linier yang dikira akan menghasilkan sesuatu yang standard pula. Benar kah akan begitu hasilnya?

DeKing Slim (Rekan saya) berkomentar:
Mengenai kekakuan, saya sepakat.
Mengenai pemikiran linear, mungkin hal ini kalau kita menempatkan kata standar sebagai suatu keseragaman. Kalau kita menempatkan standar sebagai suatu target … mungkin (ini mungkin lho) akan ada sedikit per…bedaan.

Jika standard dibuat manusia jelas akan banyak penyimpangan yang ditemui. Seperti hukum alam selalu dibuatkan perkecualian karena keterbatasan pemahaman. Benarkah kita memahami segala kebutuhan kita lantas kita paksa suatu standard kita terapkan, alhasil?!

Dengan standard pada saat motor berhenti bikin aman, dengan standar lupa lipat bikin celaka. Dunia pendidikan juga akan begitu. Mungkin akan ada yang bilang kalau tanpa standard gimana kita punya ukuran? Hehehe dalam hal apa dulu? Siapa yang bisa mengukur kemampuan seseorang, semua relatif kok. Jadi semestinya yah direlatifkan saja. Namun semua harus dipacu mencapai hasil terbaik.

DeKing Slim (Rekan saya) berkomentar:

Menyambung status Pak Urip tentang standar sepeda (motor) … bukankah fungsi standar itu untuk menegakkan (to stand) sepeda? Nah untuk kita yang pada posisi pelaksana di lapangan, mungkin kita posisikan standar sebagai suatu alat untuk menegakkan ataupun menetapkan pencapaian suatu tujuan.

Kata sifat semua berarti relatif, termasuk dalam pendidikan, kemampuan siswa juga sangat relatif, pandai, pintar, hebat itu relatif. Keadaan yang menentukan hasil, proseslah yang berperan, tapi kalau hasil akhir saja yang diperhatikan tidak fair kan?! Kembali ke soal keberagaman kemampuan siswa, masihkah harus standard? Saya justru melihat standard dalam pendidikan adalah nafsu para pemikir/pakar yang ingin segera negeri ini bangkit dari keterpurukan. Baguslah… Untuk itu. Tapi proses distandartkan sepertinya itu lucu. Pelaksana dilapangan harus mengikutinya… Padahal manusianya (guru & siswa) sulit di buat kembar sama dengan standard.

Bahkan ada yang lebih ngawur menurut saya, pelajaran akhlak (agama) kelulusannya juga getol ingin distandardkan pula. Di sana ada aspek keimanan, siapa yang bisa mengukurnya? Apakah standard itu?!

Saya memang tidak paham maksud sesungguhnya dibuatnya standard-standard pendidikan itu. Apakah itu semua sudah dikonfrontasikan dengan kodrat Illahiyah yaitu soal keberagaman? Ups mungkin sudah yang bikin dan mikir kan para pakar pendidikan yah?! Luar biasa sang pakar kita… Salut!

DeKing Slim (Rekan saya) berkomentar lagi:
Menyambung masalah kata “standard” …
Dulu saya pernah diskusi dengan beberapa teman dari negara lain tentang arti kata standar. Dulu saya berpikir bahwa standar berarti suatu batasan MINIMUM dari keadaan baik yang ingin dicapai. Sedangkan banyak teman saya yang berpendapat bahwa standar adalah kondisi PALING ideal yang akan dicapai.
Setelah saya renungkan (dan sebagai hasil diskusi lebih lanjut), definisi standar versi saya bisa menghasilkan rasa puas yang terlalu dini, yaitu asal bisa mencapai batas minimum maka sudah cukup yang konsekuensinya adalah kondisi baik (ideal?) kemungkinan tidak tercapai.

Sedangkan definisi standar versi teman saya bisa secara konsisten memotivasi upaya pencapaian keadaan ideal tersebut karena setiap tahap pencapaian dilihat sebagai persentase keberhasilan … dan keadaan 100 persen merupakan tujuan yang senantiasa dikejar (yaitu keadaan yang PALING ideal).
Tapi … saya juga tidak tahu apa sebenarnya arti kata standar itu. Jangankan memikirkan tujuan standar itu, lha ternyata arti kata standar saja saya masih belum bisa memahami.

Secara positif, bisa juga kita memandang standard bukan pada konteks (upaya) “penyeragaman”, tapi pada konteks target yang harus dicapai. Bukankah kita dianjurkan untuk memiliki cita-cita? Nah mungkin standard ini diposisikan sebagai target… a.k.a cita-cita.

Mengenai implementasi di lapangan yang tidak sesuai dengan harapan mungkin (secara ngawur dan sebagai pembenaran diri) bisa dikatakan sebagai topik yang berbeda karena pada kenyataan sepertinya seringkali intended kurikulum tidak sinkron dengan implemented kurikulum yang hasilnya adalah kacaunya attained kurikulum.

Manusia membuat aturan atau menetapkan hukun sesuai logikanya, mungkin dengan sedikit instinknya pula hehehe. Soal garis tangan saja tak satupun manusia yang sama, apalagi prilakunya, tapi katanya dengan membuat pola itu semua dapat dilihat polanya. Bagaimana tingkah pola manusia, soal kehebatan, soal kemampuannya, berpola juga yah?!

Pak pagi-pagi kok sudah ngelantur nulisnya? Yah iyahlah ngelantur tanpa dasar kan saya bukan pakar yang banyak tahu dan mendalam, semua yang saya tulis itu adalah opini orang awam soal standard pendidikan. Bener awam, walaupun saya guru, tapi kan bukan pak-ar, tapi pak-urip 🙂

Menurut saya lucu, beberapa waktu lalu ada tes calon kepala sekolah, tentu dia harus memahami standar pendidikan, dan diberi kasus untuk diselesiakan kalau sbg kepala. Kasus itu kan situasional, aspek yang harus dipertimbangan banyak, penguji ternyata sudah punya standard sendiri walaupun dia belum pernah jadi kepala sekolah. Gubrak.com dah. Jadi pimpinan itu mesti amanah, responsif, sensitif, dan bertanggung jawab. Termasuk kepala sekolah. Kabarnya akan ada standardisasi seorang kepala sekolah juga yah?! Bahkan guru sudah distandardkan lewat sertifikasi, wah huebat, sudah sertifikasi semua guru-guru. Efeknya keknya gak signifikan, sebab niat mulanya beda, ini terkait soal tunjangan guru.

Ah yang ada saya sebagai kaki tangan pemerintah di urusan mengajar yah mengajar saja deh. Tapi yo moh ikut standard-standard-an gitu ah, mau beda aja tapi tetap jaga e-tika. Kan nama anak saya Tika hahaha. Ok selamat bekerja.

Iklan

One response

  1. […] Ah, masalah nilai, sebenarnya saya tidak terlalu ambil pusing. Apapun nilai yang saya peroleh, saya terima dengan senang hati saja. Yang penting saya setidaknya sudah menjalankan tugas; menghadiri perkuliahan, presentasi, sesekali aktif dalam diskusi, dan mengerjakan tugas. Beberapa rekan mungkin ada yang kecewa dengan proses penilaian ini; bahwa ada mahasiswa yang jarang masuk, lalai dalam tugas dan presentasi, namun nilainya malah lebih baik dari yang pontang-panting. Well, di sinilah perlunya kita memahami makna “ikhlas” dengan sebenar-benar ikhlas. Yang jelas, buat saya mah, nilai A-B-C itu tak lebih dari perkara angka administratif di atas kertas doang. Kualitas individu tak bisa dihakimi semudah itu dengan angka. Ada kualitas usaha, sikap, dan unsur afektif lainnya yang lebih sulit untuk diukur. Ada perbaikan dalam persepsi dan mentalitas dalam menghadapi siswa nantinya. Ini yang lebih utama, karena tujuan para guru disekolahkan ini toh tidak sekadar mengejar nilai, melainkan meningkatkan kualitas pendidikan, senormatif apapun, di Kalimantan Selatan kelak. Dan pendidikan, tidak identik dengan angka, apalagi standar. […]