Menulis Laksana Burung Berkicau

Melakukan monolog kadang terlalu asyik dengan pemikiran sendiri, tapi itulah yang ada di kepala. Biarlah dikata apa, ketahuan bodohnya pun gak masalah. Yang penting menulis terus. Mungkin ada orang yang enggan menulis karena takut ketahuan bodohnya, maaf. Bodoh kok ditutupi, terbukalah dalam menulis, itu lebih jujur, daripada mengaku pinter?! Makanya nulis yuk.

Orang yang tak mau menulis padahal serba ada, ada waktu, ada sarana, ada kesempatan, ada kemauan tapi hanya mau doang, itu termasuk perbuatan menyia-nyiakan kehebatan diri, kikir ilmu. Andai suara kicauan semua burung yang merdu bisa ditulis pasti akan menjadi tulisan indah, tapi maklum burung tak bisa menulis. Kita manusia, lebih-lebih kalau berprofesi sebagai ‘guru’ terbiasa ‘berkicau’ di depan kelas. Andai semua mau menuliskan apa saja terkait tugasnya, pasti akan banyak memperoleh manfaat, indah pula tentunya. Ini pikiran positif.

Tulisan saya adalah sebuah ajakan, agar kita selalu menghargai ibu dan bapak guru SD kita juga ibu bapak kita, dengan menulis. Merekalah yang paling berjasa mengajarkan kita baca tulis. Jangan sia-siakan perjuangan beliau. Sadar sesadarnya saya tidak pandai menulis, tapi saya sudah menulis walau hanya di facebook atau di blog. Setidaknya saya sudah mengeluarkan kecamuk pikir, tak perlu sanjungan atau komentar, toh itu tidak membuat saya lebih hebat. Tapi terimakasih juga sudah baca sampah tulisan ini.

Kicauan burung merupakan ungkapan isi hati dengan tujuan tertentu, jelas ia akan berkicau manakala suasana pikirannya (andai ada) sedang bagus atau senang. Lebih dari itu manusiapun bisa mengungkapkan isi hatinya baik senang atau tidak, inilah bedanya. Semua itu bisa dilakukan untuk sedikit meringankan beban di kepala. Mengalirkannya menjadi kenangan tulisan yang akan bisa dilihat di waktu lain bahwa suatu proses hidup kita pernah begitu. Tentu ini akan sangat melankolis kedengarannya. Sebagai orang yang mengerti adab tentu tidak semua bisa kita tulis untuk diketahui umum. Seperti yang saya lakukan, saya lebih senang memberikan informasi terkait apa yang barusan saya alami atau lakukan  terutama terkait aktivitas saya dengan komputer. Anda pun bisa melakukan sesuai keinginan dan kesenangan anda sendiri.

Burung tak akan berhenti berkicau manakala tujuan kicauannya belum membuahkan hasil. Kita menulis juga mestinya begitu. Harus punya tujuan dan jangan berhenti hingga tujuan itu tercapai. Proses menuju keberhasilan dalam menulis tidak bisa diraih hanya dengan menghayalkannya, tapi harus dilakukan. Lakukanlah sesegera mungkin. Saat ini juga kalau perlu. Kebuntuan atau ketidakadaan mood dalam menulis itu adalah alasan bagi kebanyakan bagi pemula (seperti saya ini). Dengan alasan itu pula akhirnya kita berhenti dan mengurungkan niat untuk menulis. Padahal hanya menulis, apapun boleh ditulis, termasuk cerita mengapa anda mengalami kebuntuan itu juga bahan yang layak ditulis hingga anda akhrinya mau menuliskannya sekali lagi itu adalah bahan yang bagus. Intinya apa yang anda pikirkan tulislah. Burung yang sudah terbiasa berkicau dengan lingkungannya tentu tak akan memperdulikan hal lain.

Sebagai guru yang setiap saat mengajar di depan siswa, pernahkah kita kehabisan modal untuk “berkicau”? Kalau diminta menulis kenapa lalu seolah kehabisan bahan untuk ditulis. Ini mungkin karena kita sudah memikirkan bahwa apakah tulisan kita akan baik atau apakah layak. Kadang penulis pemula (sekali lagi sepeti saya) kadang sering menulis tidak bisa mengalir karena hambatan-hambatan pemikiran tadi. Padahal kalau kita sanggup menghilangan bendungan dalam menulis tidak mustahil kita bisa menjadi penulis hebat sesuai bidang kita.

Saya sendiri masih memiliki keinginan untuk bisa menulis tentang pelajaran yang saya ajarkan di kelas. Tentu dengan gaya sendiri. Saya sudah mencoba untuk merekam apa yang saya ucapkan ketika mengajar kemudian saya akan menuliskannya sebagai rentetan tulisan terkait pokok bahasan itu. Tentu saja akan saya buat semengalir mungkin sesuai dengan ritme saat di kelas. Saya berjanji akan menuliskannya di blog ini. Sebab sampai saat ini belaum ada guru yang melakukan itu. Tapi silahkan kalau ada rekan guru yang mendahuluinya. Ini adalah salah satu cara saya merekam kicauan saya di kelas untuk saya putar ulang dalam bentuk tulisan. Berharap akan memberikan manfaat setidak untuk diri saya sendiri.

Ok coba lihat apakah tulisan saya di atas itu bagus, tidak kan?! Tapi itu semua adalah hasil pikir saya yang muncul begitu saja. Tidak ada yang memaksa, dan tidak mengada-ada.

Mari tuangkan kicauan kita dalam bungkus tulisan.

Iklan

One response

  1. Benar. . .

    Jangan kalah ama burung. . .