Biaya Sekolah Mahal dan Proses Pembelajaran

Lagi kompilasi tulisan ngelantur dari facebook saya.

Guru di sekolah memang bermacam-macam “jenis-nya”. Ini merupakan salah satu keragaman yang mustahil dihilangkan. Apalagi kalau berniat menyeragamkannya, itu namanya menyalahi kodrat. Tapi sudah sepatutnyalah kita bisa memberikan layanan terbaik saat di sekolah apapun bentuknya, demi siswa.

Indikator guru sukses boleh dilihat dari siswanya. Siswa adalah segalanya bagi proses persekolahan melalui proses persekolahan yang benar dan manusiawi. Jangan sampai kemanusiawian ditempuh dengan cara tidak benar hanya demi “nama baik” diri, sekolah, dan daerah. Tugas guru yang utama, tidak lain dan tidak bukan (….halah!), adalah memberikan pembelajaran terbaik bagi siswa. Upaya ke sana tidak boleh surut sedikitpun, apapun kondisi kerjanya, yang penting masih sehat. “Haram” hukumnya meninggalkan tugas utama tadi. Malas adalah alasan utama guru yang tak layak menjadi guru. Keberagaman siswa semestinya menjadikan kita mulai menikmatinya.

Guru baik PNS maupun non PNS, digaji karena mengajar dengan batasan minimal tertentu. Mari kita introspeksi, berapa kali kita sebagai guru tak menunaikan tugas dengan alasan yang tak dibenarkan?! Tapi ada saja guru yang mencari pembenaran hingga meninggalkan kelasnya. Ini tak manusiawi terhadap tanggung jawab tugas dan siswa. Jangan sampai dengan alasan mood atau tidak mood.

Mood mengajar bagi setiap guru pasti mengalami fluktuasi. Sebenarnya guru yang harus menyemangati siswa atau siswa yang harus menyemangati guru sih? Kalau siswa nglokro (kurang-tidak bergairah), hilang fokusnya hingga guru jadi uring-uringan atau juga ikut malas mengajar. Sekali lagi mari introspeksi, sudah benarkah cara mengajar kita, sudah pernahkah kita diskusikan dengan rekan lain. Dalam pendidikan proses mestinya menjadi segala-galanya bagi siapapun di sekolah. Jadi jangan selalu terpaku pada hasil akhir, yuk nikmati proses pembelajaran.

Dikaitkan dengan pembiayaan, apakah proses pembelajaran selalu berbanding lurus dengan besarnya biaya sekolah? Jawabannya bisa ya, bisa tidak. Tapi kalau terlalu mahal (secara umum) saya sering berpikir sekolah TK hingga SMA yang bayarnya mahal sekali untuk apa saja yah? Terlintas dipikiran sebenarnya anak sekolahan itu diberi “makan” apa sih di sekolahnya sehingga mesti membayar mahal. Malah ada yang mungkin biayanya mengalahkan biaya pendidikan S3. Edan tenan! Ini biasa terjadi pada sekolah dengan embel-embel SBI atau RSBI/RMBI.

Waspadalah para pejabat pendidikan, SBI, RSBI, RMBI (untuk madrasah), sekolah seperti itu sudah digugat banyak pihak, sudah mahal tapi dan berstatus standar internasional tapi tidak atau kurang memberikan hasil yang sepadan hanya menang fasilitas karena mahal biayanya. Konsep keliru tapi terlihat mentereng dan dilanjutkan. Suatu ketika pernah punya pemikiran dan saya tulis di sini, andai guru-guru di sekolah yang dikatakan orang sekolah favorit kemudian bertukar tempat mengajar di sekolah pinggiran apakah bisa menyulap keadaan sekolah pinggiran itu menjadi sekolah yang akan difavoritkan masyarakat?

Sepertinya demi pemerataan kesempatan mengajar perlulah rotasi guru (mutasi dalam kota), tidak cuma kepala sekolah doang. Ah halah di lingkungan kerja saya kepala madrasah aja gak pernah dirotasi, aturan main tidak ada yang memperdulikan. Mau jadi kepala cukup ditawari tidak pakai tes atau diklat. Piye bisa bagus pendidikan kalau gitu.

Oalaaah.

Iklan