Teknik Koreksi Jawaban Gaya Primitif Vs Gaya Beradab

Kebanyakan soal-soal ujian atau tes yang digunakan di sekolah Indonesia adalah soal bentuk multiple choice. Alasannya prakitis tentu. Praktis dalam segi menyelesaikan pengoreksian. Tanpa alat canggih pun mudah diselesaikan. Cocok untuk pelajaran yang cakupannya luas. MENYUSUNNYA gampang tinggal ambil sana-sini dan modif kasi sedikit-sedikit jadi deh. MEMBUATNYA TENTU TIDAK MUDAH. Bedakan kata menyusun dengan membuat.

Saya sedang tidak membahas plus minus bentuk soal multiple choice itu. Dari jaman dahulu kalau guru mengoreksi lembar jawaban siswa soal tadi ada beberapa teknik yang biasa digunakan. Ada yang membuat jawaban pembanding dengan melubangi huruf option baik disileti atau dengan me-nylomot-nya dengan obat anti nyamuk, bahkan dengan dilubang menggunakan paku (wuih sadis…). Ini primitif banget yah?! Sampai sekarang masih ada kok yang begitu. Alasannya sekali lagi kepraktisan.

Teknik kuno namun praktis, menurut penganut kepercayaan ini yang penting adalah akurat dan cepat selesai. Namun dengan koreksi soal gaya primitif itu jelas tidak dapat memberikan manfaat apapun kecuali angka yang kemudian digunakan mengklaim kemampuan siswa. Saya juga melakukan hal yang sama, tapi itu dulu sebelum saya mengenal TIK. Bayangkan jika misalnya try out UN saja hasilnya dikoreksi dengan model kuno bagaimana ia bisa melihat kemampuan siswa per item butir soal yang merupakan cerminan/indikator tiap soal yang ditetapkan sebelumnya?

Teknik koreksi yang kuno itu kita tidak akan dapat melakukan analisis hasil belajar siswa. Oleh karenanya diperlukan alat  yang dapat menyelesaikan pekerjaan yang sesungguh tidak berat. Kita dapat memanfaatkan software atau membuat racikan rumus dengan aplikasi spreadsheet/calc/excel atau mengkopi  hasil buatan rekan lain, kita bisa memanfaatkannya untuk mendapatkan info lengkap tentang soal-soal mana saja yang siswa sudah kuasai dan mana yang belum.  Juga bagaimana sesungguhnya kualitas soal yang kita ujikan itu. Dengan begitu kita dapat menentukan langkah selanjutnya agar siswa mendapatkan pemahaman materi pelajaran yang ia belum kuasai. Yah analisis soal ini namanya. Ini pekerjaan rutin dan wajib bagi guru kan?!

Dengan aplikasi spreadsheet kita bisa membuat rumus sendiri dengan mengacu pada rumus baku yang ada. Jika sudah jadi maka itu dapat digunakan mengalisis soal terutama yang berbentuk multiple choice (bentuk essay atau uraian bisa juga kok). Termasuk menganalisis kualitas soal yang kita pakai, tingkat kesukaran, daya beda, prosentase penguasaan siswa tentang materi tertentu pada tiap butir soal. Caranya pahami dulu rumus terkait analisis tertentu, dan terapkan pada tiap soal/siswa. Ih input jawaban siswa satu2… Capek deh. Ok tapi manfaat yang didapat banyakkan?!

Akan lebih cepat kalau sekolah kita memiliki scanner atau pemindai data tinggal scan maka kita mendapat datanya dan siap dianalisis. Sekarang sudah ada alat scanner yang murah, mosok sekolah gak bisa beli. Jadi sudah saatnya guru meninggalkan teknik koreksi primitif, kecuali kepepet, dan males, serta gak mau maju untuk lebih baik. Ini perosalan teknis saja kok.

Mari tinggalkan teknik pengkoreksian gaya kuno atau primitif beralih ke teknik pengkoreksian yang ber-adab.

Iklan

2 responses

  1. assalamualaikum wr.wb
    pak urip….di upload donk aplikasix berbagi gitu…
    salam pendidikan..

  2. iya, minta aplikasinya, biar tinggal lep..