UAMBN, Latah dan Mengerdilkan Pendidikan Agama

UAMBN atau ujian akhir madrasah berstandar nasional atau USBN (ujian sekolah berstandar nasional) pendidikan agama islam (PAI) minta dikaji ulang. Demikian di salah satu tulisan di Kompas. Sayangnya tahun ini UAMBN MA telah usai sudah terlanjur dengan compang-camping sana-sini (hihihi maaf nadanya lebay). Pasalnya hal itu bisa mengerdilkan maksud pendidikan agama itu sendiri. Semua materi pendidikan agama yang diujikan hanya bersifat hafalan belaka. Yah iya-lah, afektif dan psikomotoriknya  jelas tidak bisa dilihat dengan ujian tulis macam itu, berstandar nasional atau berstandar internasional sekalipun. Ujian macam itu akan diberlakukan bagi madrasah maupun sekolah. Dari pelaksanaan UAMBN baru lalu saya sepintas mengamati instrumennya saja tak mencerminkan kata nasional. Tapi maaf kalau saya diminta membuat jelas tidak sanggup juga sebab bukan bidang saya.

Jika berniat me-nasionalkan pelajaran agama mestinya komprehensif/menyeluruh yang bisa mencerminkan kemampuan dan tuntutan pelajaran yang sesungguhnya. Tidak hanya lewat hafalan. saya lihat pelajaran di madrasah mulai MI sampai MA pertanyaan soalnya yah begitu-begitu saja. Lebih-lebih soalnya multiple choise. Itu jelas tidak bisa mencerminkan  pendidikan agama tapi kalau pengetahuan agama mungkin boleh jadi-lah.

Sekali lagi pendidikan agama tidak mungkin cukup hanya dinilai atau dievaluasi dengan hanya menjawab soal-soal memilih jawaban begitu. Apalagi soal akhlak, lantas kok mau distandarnasionalkan. Sepertinya pemikiran latah meniru  pelajaran yang di UN-kan itu. Perlu dilakukan pengkajian yang matang  deh bagaimana sebaiknya evaluasi pelajaran agama ini diberlakukan. Ini kalau mau distandarkan, tapi sebaiknya pemikiran itu  TIDAK dilandasi dan dibumbui nada-nada proyek untuk menghabiskan anggaran pendidikan untuk madrasah yang memang besar  itu. MAAF yah, saya lanjutkan tulisan ini.

Belum lagi soal yang diujikan itu layak atau tidak. Sebab sepertinya di kemenag belum terbiasa menangani pembuatan soal skala nasional. Buktinya soal pelajaran bahasa Arab untuk MA di Jakarta terdapat kesalahan pada 24 butir soal, ini kategorinya sudah fatal dan naif, nasional gituloh. Kemudian secara teknis biasanya pengkoreksian dilakukan secara terpusat, lah ini diminta guru di madrasah itu yang mengkoreksi sendiri. Lalu di mana nasionalnya, apakah hanya waktunya saja yang menasional?! Kok nada-nadanya tidak pantas gitu yah.

Apakah UAMBN yang baru lalu itu prematur dalam perencanaan, sehingga terkesan kurang ada kesiapan total. Lembar jawaban semua menggunakan LJK, tapi kok dikoreksi secara manual. Di wilayah saya, setelah diamati  pada LJK ternyata kolom penomoran peserta saja ada yang kurang dan bulatan untuk jawaban ada yang keluar garis pembatas yang secara teknis mestinya itu tidak boleh terjadi (iya kan jaman sudah canggih). Anehnya ini semua terjadi pada setiap lembar Lembar Jawab Komputer. Berapa energi yang dihabiskan siswa kita hanya untuk menghitami huruf option itu. Parahnya lagi dikoreksi gurunya dengan pelubang kertas. Nasional banget yah yang begitu itu 🙂 .

Menurut saya semestinya biarlah pendidikan agama dievaluasi gurunya sendiri. Jangan sampai diambil alih pusat seperti pelajaran non agama yang enam itu. Justru yang diperlukan adalah membekali guru-guru agama kita terkait bagaimana membuat konstruksi soal yang baik/benar. Ini investasi, mungkin mahal biayanya tapi selanjutnya kemampuan guru agama pasti akan melejit.  Guru PAI  perlu untuk selalu dirangsang agar bisa membuat variasi soal yang layak digunakan ujntuk uji an tertulis, tak hanya itu-itu saja pertanyaannya. Sekali lagi pendidikan agama diberikan bukan dimaksudkan hanya untuk hafalan saja.

Saya jadi ingat sewaktu lomba cerdas cermat atau lomba cepat tepat jaman P4 dulu. Karena bersifat hafalan ada saja peserta lomba yang bisa menjawab walaupun soal baru dibacakan beberapa kata, padahal soal belum selesai dibacakan. Dan HEBAT-nya jawabannya benar. E… Ternyata hal itu juga berlaku pada lomba cerdas cermat di ajang MTQ/STQ. Luar biasa dan aneh. Hanya hafalan terus diklaim hebat…

Iklan

One response

  1. iya mas makasih atas masukannya.. ini baru pertama kali mengadakan, tapi tujuannya adalah untuk pembelajaran yang tidak mungkin monoton, yang penting kita mau merubah dan berubah