Dilema Anak Pejabat di Sekolah

Tindak semua anak pejabat di sekolah mendapat perlakukan spesial. Ini bukan pengalaman  saya, karena saya  bukanlah anak mantan pejabat atau bukan pula sedang jadi seorang pejabat yang mempunyai anak di suatu sekolah. Tapi hasil pengamatan selama ini. Ada juga sekolah yang konsisten menjaga ‘komitmen’-nya. Kalau memang siswa yang anak seorang pejabat itu hebat yah hebat, kalau tidak hebat dalam pelajarannya yah tetap aja diberi nilai yang sepadan. Tergantung dari mental si pejabat dan mental kepala sekolah atau pihak sekolah.

Dahulu saya pernah memberikan pelajaran tambahan kepada seorang anak pejabat nomor 2 di suatu propinsi, si anak ternyata pernah tidak dinaikkan kelas oleh sekolahnya. Menurut saya itu adalah tindakan luar biasa, mental pihak sekolah dan si pejabat tersebut sangat bagus. Pejabat tersebut tidak juga melakukan tekanan kepada pihak sekolah. Artinya keduanya paham betul bahwa hal itu sudah jadi konsekuensi dalam pendidikan, demi si anak itu sendiri.

Kadang dengan adanya anak pejabat di sekolah sering pula di “eksploitasi” oleh kepala sekolah atau pihak sekolah untuk “mengembangkan” sekolahnya. Ia berharap sekolahnya akan diberikan perlakuan khusus karena anak pejabat ada di dalamnya. Gagasan cemerlang tetapi tak sehat. Atau setidaknya kepala sekolah yang beroleh keberuntungan agar langgeng diposisinya atau diangkat dalam jabatan lebih terhormat. Ada yang begitu, tetapi tentu tidak semua. So santai saja jangan tersinggung.

Semua tahu bahwa anak pejabat juga manusia, tidak beda dengan yang lain dan semestinya tidak dibedakan. Hanya kebetulan orang tuanya menduduki jabatan. Tapi ada saja pihak sekolah yang kemudian “nunduk-nunduk” dihadapan sang pejabat, bahkan anaknya pun diperlakukan spesial. Jika saya jadi pejabat akan saya mutasikan atau saya pecat pihak sekolah yang macam itu. Untung pejabatnya bukan saya… Halah!

Benar bisa jadi dilema, seperti kata temen saya, bagaimana anak seorang kepala dinas pendidikan sampai tidak naik, apalagi tidak lulus tapi sumpah ini bukan di daerah saya (hihihi takut…). Di mana loyalitas kepala sekolah kepada atasannya yang mengangkatnya. Akhirnya meskipun sang kepala dinas pendidikan tidak meminta akhirnya pihak sekolah “mengupayakan” menaikkan atau meluluskan si anak tadi. (Iyo rek mosok anake bos kok gak dilulusne utowo diunggahno wong tinggal ubah 0ngko utowo huruf tok kok repot)

Jika anak pejabat bisa diberikan perlakuan khusus, lalu apalah artinya pendidikan di sekolah itu. Kalau begitu bisa saja dong orang berpengaruh lainnya mengganggu atmosfer akademik sekolah. Kepala sekolah akan hilang MARTA-BAK-NYA di muka guru yang selalu mengamati prilaku dan kebijakannya. Apa harus bermuka badak hanya gara-gara anak pejabat tadi?

Iklan

2 responses

  1. Tahun pertama saya menjadi guru, kebetulan salah satu murid perwalian saya yang merupakan kerabat dari penguasa di tempat saya mengajar harus tidak naik kelas. Teman-teman guru yang lain mengatakan ndak masalah, namun saya pribadi sungguh merasa kurang nyaman saat itu. Namun karena aturan yang ada memang mengharuskan siswa tersebut tinggal kelas, terlebih banyak masukan yang menguatkkan siswa tersebut untuk tinggal kelas, maka siswa tersebut tetap tinggal kelas…. dan ternyata kekhawatiran saya terjawab dengan tanggapan positif dari Orang tua siswa tersebut. Beliau saat itu menyatakan, kalau anaknya memang belum memenuhi standar untuk naik, ya ndak masalah … Dan ternyata pada tahun kedua, siswa tersebut banyak sekali menunjukkan kemajuan dalam akademik maupun kepribadiannya. Bahkan saat ini suskses mengelola beberapa perusahaan …

    Memang tidak mudah untuk mewujudkan semangat tidak pandang bulu ini… membutuhkan komitmen bersama yang kuat, dan keberanian untuk mewujudkannya … semoga

    Salam

  2. @Pak Agus: Salut dengan sekolah dan pak Agus. Terimakasih pak.