Pertanyaan Mengejar dalam Pembelajaran

Para guru mestinya memiliki kemampuan jadi penyidik. Pandai mengajukan pertanyaan saat mendapati kasus, baik dalam pembelajarannya atau di luar itu dalam sekolah. Tujuannya adalah mencari solusi. Sudahkan kita memiliki kemampuan stratetegis ini? Tapi sepertinya hal itu perlu pelatihan khusus. Sudah adakah yang pernah ikut pelatihan semacam itu?

Pada saat uji coba UN banyak sekali siswa nilainya jeblok. Apa sikap guru. Ada yang bilang memang siswa kita terlalu.  Sudah, titik, begitu saja?! Tak ada solusi. Pembelajarannya tetap berlangsung begitu-begitu saja. Mengapa begitu? Karena mungkin guru tidak ada rasa ingin tahunya, atau tak mau perduli. Sepertinya yang terakhir itu yang jadi alasan.

Misalnya ada siswa yang nilainya jelek karena kesulitan belajar, seberapa seringkah kita sebagai guru menyelidikinya?  Oh saya sudah lakukan remedial kok… Tidak sekedar remedial basa-basi kan?! Mengapa kita tidak lakukan itu dengan sungguh-sungguh. Kita (terutama saya) lebih fokus pada ritual mengajar dan mengajar saja. Mengajar juga belum tentu benar (emang mengajar yang bener nagaimana yah?).

Kalaupun ada KKM yang harus jadi target minimal pernahkah kita menyelidik lebih jauh penyebab tidak bagusnya prestasi siswa kita? Hem… Siswa saya kan banyak pak! Haiyah itu juga alasan saya 🙂 . Gak ada waktu! Hahhh ini sama lagi alasan saya juga itu. Tapi saya berpikir lah kita ini jadi guru apa saja yang kita kerjakan. Apa hanya update status gak penting di facebook seperti ini?! Atau menulis tulisan sampai bikin nek yang baca?!

Rujukan pertanyaan berdasar semestinya jadi alat yang canggih untuk menyelesaikan persoalan pembelajaran. Hingga sampai kita menemukan penyebab dan dapat memberikan solusinya. Sekolah kok seperti klinik kesehatan. Bukannya memang begitu seharusnya?! Tapi sekolah macam itu ada berapa persen?! Ini pertanyaan untuk mencari pembenaran. Mesti mulai dari diri sendiri dong. (Hehehe saya belum mulai juga nih, yuk kita mulai). Halah!

Contoh, ada anak yang dijelaskan berulang-ulang tetap gak mengerti juga. Mau menjelaskan terus begitu. Yah tidak akan menyelesaikan masalah. Ok kita ciutkan peta bahasannya. Kita periksa di mana biang keroknya masalah sampai  tidak jelas. Begitu terus, kejar terus sampai akhirnya kita mendapatkannya. Dari situ kita beranjak memberi solusi. Wah itu kalau satu dua orang bro?! Okelah… tapi sudahkah kita rutin melakukannya walau untuk sebagian siswa?! Nah loh!

Contoh detilnya, kasus siswa tidak bisa menyelesaikan soal kimia bahasan stoikiometri. Mengapa ia menyetarakan persamaan reaksi saja tidak bisa? Macet deh kalau itu pertanyaannya. Tanya ke siswa tahu gak tujuan penyetaraan reaksi kimia itu apa. Kalau tidak tahu beri penjelasannya (dengan catatan gurunya juga sudah mengerti). Belum beres juga meskipun sudah  dijelaskan, tes kemampuan matematisnya, kalau ada masalah di situ kita beralih jadi guru matematika sebentar. Intinya eksplore terus dan tidak bosan. Ah ini mah teori. Yah sudah pakai saja gaya anda sendiri. 🙂

Contoh lagi pertanyaan yang simpel.
Mengapa anak tidak lulus, nilainya jelek.
Mengapa nilainya jelek, sering gak memperhatikan saat dijelaskan.
Mengapa tidak memperhatikan saat dijekaskan, pelajarannya gak bisa dipahami.
Kok gak bisa dipahami, siswa gak punya dasar yang kokoh untuk mengikuti pelajaran. Begitu dan seterusnya.

Mau tahu teknik bertanya yang baik dan benar? Berburulah teknik bertanya dengan google… Jiah!  Berharap dengan mengetahui teknik bertanya bisa membantu siswa dalam pembelajaran. Pakai keyword-nya questioning technique for chemistry teachers (itu untuk saya yang mengajar kimia, silahkan menyesuaikan diri) atau coba baca yang di sini. Omong-omong sepertinya saya selama kuliah belum pernah deh dapat materi kuliah begitu, atau tertidur ya dulu waktu saya kuliah.

Ok selamat berselancar.