Keterlanjuran dan Pilihan

Dalam keterlanjuran untuk suatu pilihan kadang membuat kita frustasi karena baru menyadari bahwa pilihan kita sesungguhnya tidak kita sukai. Seperti halnya saat kita selesai menempuh pendidikan yang sesungguhnya tidak kita sukai. Juga profesi yang ternyata kita tak sanggup menikmatinya karena kita tak sedikitpun menaruh minat. Lalu kita beralih pada minat lain walaupun kita masih tetap berkecimpung dalam profesi kita sekarang, tetapi minat lain itu justru menyita perhatian dan lebih sering kita pelajari dengan senang hati dan tiada lelah. Baru menyadari bahwa minat lain itulah dunia yang sesungguhnya tepat untuk kita. Semakin mengakrabinya kita semakin jatuh cinta pada minat tersebut.

Tidak sedikit orang yang baru mendapati apa yang sesungguhnya kita gemari setelah bergumul dengan yang ‘bukan dunia’ kita bahkan dengan pendidikan formal sekalipun. Jadi selama ini bergumul dengan ranah yang sesungguhnya kita tidak suka. Wou terlambat! Tapi dengan merasa terlambat dan tak berani beralih akhirnya hari-hari dirundung kesengsaraan, banyak hal yang tak membuat hati senang. Mau tetap bertahan?!

Alangkah bahagianya seorang pemain sepak bola yang sejak dulu ia hobi bermain bola, dan kini ia bisa hidup dari hobi yang selama ini ia gandrungi. Sungguh beruntung para musisi yang dari hobinya memainkan musik kini ia bisa menghasilkan karya besar yang tentu saja juga bisa menghidupi diri dan keluarganya. Kita?!

Mungkin ada di antara kita yang ‘terpaksa’ menikmati profesi yang sesungguhnya kita tidak sukai, namun karena keterpaksaan oleh keadaan akhirnya kita dibuatnya mencintai profesi itu. Tapi ada juga yang sudah bertahun-tahun tetap tidak bisa menikmati profesi walupun punya jabatan tinggi dengan penghasilan besar sekalipun.

Keberanian bagi yang terlanjur memilih profesi yang sesungguhnya tak kita suka untuk beralih pada hal yang kita minati adalah tantangan besar. Itu untuk melepaskan belenggu dan kungkungan kesengsaraan yang mendera diri tiap saat. Resiko sudah pasti ada, tapi kepuasaan jelas telah menanti. Strategi peralihan perlu untuk dipelajari dengan berbagai pertimbangan matang.

Sekarang tinggal pilih mau sesangsara atau tidak. Kadang menimang rasa pada saat kritis begitu yang menghalangi adalah ‘rasa aman’ yang hanya menyiksa saja. Banyak orang sukses dengan melakukan manuver 180 derajat dari keadaan sebelumnya. Banyak pula yang sukses. Sekali lagi kecemasan tak beralasan-lah yang mengorbankan diri dalam ketaksukaan kita.

Pergeseran atau peralihan dari kondisi nyaman yang tak nyaman menuju kondisi asyik mengasyikan jelas bukanlah perkara mudah. Dari kesengsaraan hijrah menuju kondisi nyaman yang menyamankan tetap butuh proses. Di sinilah kesungguhan untuk berani tampil beda demi kepuasan bathin. Bersiaplah dipandang orang lain bahwa kita ‘sudah gila’.

Siapakah yang bertanggung jawab dalam menentukan profesi pilihan kita hingga menyiksa-tidak menyiksa? Apakah kondisi/keadaan? Jika sudah tahu dari awal seharusnyalah tidak ada seorangpun yang menderita karena profesinya. Agar kelak tidak semakin banyak ‘korban keadaan’ maka pendidikanlah yang semestinya benar-benar bisa mengenali pribadi-pribadi unik itu. Tapi siapa mau perduli dengan kita kalau tidak diri kita sendiri.

Bagaimana dengan ANDA?

One response

  1. kayaknya aku pun diawali dengan terpaksa,
    oleh keadaan yang tidak bisa dihindari
    benar sebuah ketidaktersiksaan atas ketersiksaan dan
    ketergugahan untuk memperbaiki berbagai keadaan…
    menjadi ssuatu yang memang harus ditekuni, karena tanpa tekun itu tidak akan mampu merubah keadaan