Mental Guru dan Kinerjanya

urip.wordpress.com

Sudut pandang beda memberikan prespektif yang berbeda juga. Sama halnya, kita akan memberikan respon berbeda dengan orang lain jika diberikan hal yang sama. Guru malas menurut prespektinya sendiri akan berbeda dengan pimpinannya. Mengapa bisa berbeda, tentu ini disebabkan karena beda visi dan misinya. Persepsi, visi, dan misi harus sejalan. Semua tahu itu.

Berikut percakapan rekaan saya antara kepala sekolah (si bos) dengan Bu X:
Si Bos: Kenapa Bu X kok meninggalkan kelas, kan belum selesai jam mengajarnya?
Bu X: Anu pak, saya lagi anu itu… anu… *Glagapan*
Si Bos: Anu sampean kenapa?
Bu X: (Tambah merah muka si ibu guru ini) Balik bertanyalah ia, “Lah Pak Y yang bolos berhari-hari kok bapak biarkan?!”
Si Bos: (dengan lantang njawab) “Emang saya harus lapor sampean kalau saya sudah menegur pak Y?!

Percakapan yang jelas-jelas terkait penampakan sikap sebagai manusia “irian” (Bu X) yang muncul karena kepepet atau memang itu menjadi pembenaran diri untuk meninggalkan kelas, mengorbankan kepentingan pembelajaran siswa. Meskipun dengan begitu banyak siswa yang bersorak gembira. Sangat klop untuk situasi sekolah yang runyam. Kondisi siswa yang ditinggalkan guru seperti di atas memberikan peluang keributan sangat besar karena kelas kosong.

Datanglah Si Bos ke kelas tersebut. “Lah ini pelajaran apa, gurunya ke mana nih”. “Pelajaran pqr ada tugas dari Bu X pak” serempak siswa menjawab. “Kok kalian pada ribut gak mengerjakan tugas”. “Tugas yang biasa kami kerjakan gak pernah di koreksi juga kok pak”, koor siswa lagi. “Panggil bu X di ruang guru sana” serga si-bos.

Siswa saja sudah tahu kebiasaan buruk gurunya. Anehnya guru tidak malu, dan ada saja alasannya ketika ditagih hasil kerja/tugas yang pernah ia berikan ke sisiwa. Hasil ulangan pun mereka tidak pernah tahu. Anehnya lagi kontrol kepala sekolah tidak ada sama sekali, mestinya ia bisa berbagi dengan wakilnya. Penilaian kinerja guru dari siswa juga tidak pernah dilakukan. Oo… Manajemen lama rupanya yang ia anut.

Tentang kinerja guru secara nyata yang tahu persis dan paling merasakan memang siswa. Dia yang akan merasakan bagaimana upaya guru untuk memfasilitasi dalam belajar. Bagaimana tampilan guru sesungguhnya siswa yang tahu. Si Bos tahunya guru masuk kelas, guru sudah bikin/ngopi perangkat pembelajaran. Itu hanya untuk jaga-jaga kalau ada yang periksa saja. Selebihnya sak karep-mu. Guru sebenarnya tidak usahlah kreatif atau inovatif, terlalu muluk-muluk itu. Guru cukup memenuhi standar kompetensi saja sudah buagus. Nyatanya kita (saya dan anda guru) sudahkah memenuhinya. Lebih nyatanya sudahkah kita apa saja kompetensi standar yang harus kita miliki sebagai guru. Jangan-jangan baru dengar atau belum pernah baca ya?! Parah kalau itu benar.

Kondisi nyata seperti yang saya tulis di atas tentu tidak terjadi di semua sekolah. Paling hanya beberapa saja, paling hanya 1, 2, 3… saja. Jadi tidak usah heran kalau pendidikan di negeri Indonesia tercinta ini terpuruk, sulit bangkit. Jadi yang perlu dibereskan terlebih dulu adalah mental guru-guru, termasuk mental saya juga kok. Membangunkan guru yang pingsan seperti saya ini :).

Berapa persenkah anggaran pendidikan yang dialokasikan untuk pembinaan/peningkatan kinerja/kualitas guru. Dari persentase itu berapa persenkah yang ditindaklanjuti untuk selalu ada kontrol dan laporan serius ttg perkembangannya? Kalaupun ada pasti hanya laporan di atas kertas juga. Sepertinya memang perlu permak habis deh! Halah saya ini siapa?! Lah malah lupa diri yah?!

Iklan