Bahasa dalam Jejaring Sosial yang Merdeka

urip.wordpress.com

Kebiasaan yang luar biasa. Anda yang rajin melototin layar mungil hape atau layar lcd laptop atau komputer sembari akses facebook, bersendagurau dengan teman lewat komentar lucu hingga serius, Anda berpotensi jadi penulis hebat. Sebab semua itu Anda lakukan dengan bahasa tulis. Menurut survei banyak orang akses internet/facebook menggunakan telepon genggam dan ini budaya yang luar biasa. Sadarilah itu potensi Anda jadi penulis.

Apalagi kalau sedang asyik berbalas komentar, Anda bisa menariknya menjadi ide tulisan. Sekali lagi kebiasaan itu bisa menumbuhkan kebiasaan bahasa tulis. Selanjutnya tinggal membiasakan, menyalinnya dalam ‘catatan’ tentang apa yang Anda bincangkan/bahas itu. Sisi positif seperti itulah yang semestinya kita sadari untuk membangun kemampuan diri, yaitu menulis.

Era facebook atau jejaring sosial lainnya adalah era bangkitnya bahasa tulis. Pengguna dipaksa untuk mengekspresikan diri dengan bahasa tulis yang merdeka. Bahasa yang membebaskan dari keterikatan, dari aturan-aturan baku berbahasa. Dengan kemerdekaan seperti itulah Saya yakin akan muncul generasi penulis tanpa takut salah.

Meskipun ada pihak yang mengkritik soal gaya tulis dengan huruf pating pecotot begitu, bahasa alay, tapi inilah zaman kebebasan menulis. Ini bukan berarti merusak bahasa tercinta kita. Tapi membebaskan dari apa yang pernah didapat di sekolah, berupa pelajaran bahasa yang kaku. Saya optimis kalau terbiasa menulis generasi seperti itu akan sadar kapan harus menggunakan bahasa yang baik dan benar tanpa harus mengekangnya dalam mengekspresikan diri.

Kebuntuan dalam budaya tulis itu adalah akibat kekakuan pembelajaran bahasa selama ini. Semestinya kebebasan bahasa tulis ala anak muda itu diwadahi. Karena selama ini pelajaran bahasa membelenggu kemerdekaan berekspresi. Saya termasuk salah satu korbannya. Saya rasa Anda juga kan? Yang terpenting pesan bahasa tulis itu sampai kepada yang membaca dengan tidak mengalami perubahan makna.

Bahasa dalam dunia facebook, adalah bahasa yang “penting kau tahu maksudku”. Dalam bahasa tulis facebook atau sejenisnya tidak ada polisi EYD yang siap menilang setiap pengguna bahasa tulis, tidak perlu melanggar aturan tulis. Merdeka, bebas aturan tulis. Barangkali para ahli bahasa ingin juga mengekspresikan diri dengan bahasa tulis bebas yang selama ini ia kritik. Gak usah malu-malu deh 🙂

Saya sendiri tidak suka melihat bahasa alay, ataupun penggunaan huruf yang pating pecotot ala remaja itu. Tapi tidak sedikitpun kita berhak mengkritiknya, apalagi melarangnya. Hanya ada sisi positif yang bisa kita tangkap, membiasakan menulis. Orang enggan menulis dengan berbagai alasan itu hanya karena tak terbiasa, maka jangan halangi mereka menulis dengan gayanya agar mereka terbiasa.

Bahasa yang membelenggu membuat penutur tidak merasa enjoy dengan bahasanya sendiri. Karena keterbelengguan itu pula banyak guru bahasa tidak bisa menulis, ups tidak terbiasa menulis. Padahal guru bahasa tidak hanya mengajarkan bahasa lisan. Sekali lagi biarlah kebiasaan itu tumbuh terlebih dahulu.

Saya teringat guru bahasa Indonesia saat sma dulu. Menurut Saya dia adalah guru yang berbeda dengan guru lainnya, kegemarannya adalah menulis, termasuk membuat majalah dinding. Jadi mengajari menulis untuk siswa adalah dengan memberikan contoh, guru juga harus gemar menulis. Tidak hanya dengan saran omongan saja. Kini Saya menyadarinya betapa sulitnya menulis kalau tak dibiasakan.

Jika kita sudah dalam dunia tulis apa saja bisa dijadikan ide untuk menulis. Jangan pikirkan apakah itu tulisan sampah atau tulisan berguna. Setiap tulisan hasil karya sendiri itu berharga. Setidaknya berharga buat diri sendiri, karena kita sudah menuangkannya dalam secangkir media. Itu karya kita, hargailah sendiri, jangan mengharapnya dari pihak lain.

Ok lanjut!

Iklan