Disiplin dalam Menyimpan Data

urip.wordpress.com

Disiplin itu bisa jadi kunci segalanya. Rumah isinya berantakan karena penghuni rumah tidak mau disiplin. Jalan semrawut gak karuan karena pengguna jalan tidak mau disiplin. Sekolah kondisinya amburadul karena siswa, guru, dan pegawainya banyak gak disiplin seenaknya sendiri. Banyak kegagalan juga disebabkan sikap yang tidak disiplin. Demikian pula kebiasaan menyimpan data di hardisk komputer.

Alat penyimpan data kian hari semakin murah. Disket berukuran beberapa MB sampai 5 ribuan rupiah pada awal tahun 2000-an. Kini disket tak diperlukan, UFD kini jadi pilihan pengganti yang efisien. Hardisk per GB hanya Rp. 500-1.000 saja. Akibatnya kita semakin bebas menyimpan sampah data yang dibuang sayang. Sering pula meletakkannya sembarangan karena tak disiplin. Mencarinya mengandalkan menu search atau google dekstop. Manjalah jadinya.

Seiring koneksi internet yang cepat dengan biaya terjangkau, membuat kita bebas mengumpulkan data mulai software, image, video, audio, dan dokumen data lainnya kemudian menyimpannya di perut komputer. Sifat serakah manusia mengambil data apapun yang dikira mungkin kelak akan ia perlukan, yang terjadi justru itu hanya dijadikan obat khawatir saja. Inilah kondisi nyata yang menjangkiti pengguna komputer.

Ada perasaan seolah menenangkan hati kalau diri memiliki banyak data, padahal itu tak benar-benar ia perlukan. Memang menyenangkan kalau kita bisa membantu menyediakan teman tentang data yang ia perlukan. Tapi apakah kita berniat jadi hosting data atau kolektor data. Perlu kearifan juga ternyata ngurusi hal data ini. Kalau anda pasti bijak dan datanya rapi kan :)?

Harddisk saya terpenuhi software yang paling saya perlukan dan sebagai backup. Kini sudah harus selektif mana yang harus dimusnahkan dan dipertahankan. Selain itu juga ada ebook kimia dan pendidikan serta jurnal pendidikan kimia, jumlah +- 40 GB, yang begini ini maunya sih dibaca. Tapi tak satupun ebook yang selesai terbaca dan terpahami isinya. Bagaimana dengan anda?

Kegemaran menjelajah, terkait kimia dan pendidikannya dan didukung koneksi yang lumayan sering kali membuat saya tergoda untuk menyedot isi web yang bagus itu. Hasilnya lumayan banyak. Sesekali ada juga yang memesan untuk dikopikan koleksi web offline yang saya kumpulkan. Ini antisipasi manakala web tersebut sudah tak bisa diakses saya masih punya backupnya.

Tentang web offline itu memang belum semua orang bisa mengunduhnya, padahal banyak tutorialnya. Mungkin mereka tahu caranya, tapi koneksi yang digunakan tak memadahi. Atau mereka tak mau gembar-gembor seperti saya. Padahal kalau terpublikasi info begitu bisa diniatkan untuk berbagi, bahkan bisa ‘dijual’. Lumayanlah untuk berbagi dan ganti beli kepingan dvd. Tertarik ikut cara begitu?

Jangan sampai harddisk besar hanya untuk koleksi data yang sering disusupi virus atau trojan. Beruntung kalau punya harddisk besar, bisa dipartisi untuk dipasangi sistem operasi linux. Setidaknya untuk berkenalan dan bisa dijadikan alat recovery data yang terjangkiti virus. Bagus lagi kalau kita bisa migrasi sepenuhnya ke linux. Linux relatif aman dibanding sistem operasi windows kok.

Harddisk besar mestinya kita bisa memanfaatkan secara optimal. Jadi bukan sekedar besar tapi isinya kebanyakan sampah. Beda kalau kerja kita adalah disain grafis atau pengolah audio-video, atau sering bekerja dinamis yang selalu membuat dokumen raksasa. Perlu pengendalian nafsu untuk selalu membeli alat yang tidak benar-benar perlu.

Kekurangdisiplinan menempatkan file dalam folder sering menyulitkan diri pencarian saat diperlukan. Bahkan duplikasi file kerap terjadi sehingga hardisk terasa cepat penuh. Kita bisa memanfaatkan aplikasi pencari duplikat file. Secara berkala kita perlu merapikan dan membuang sampah digital. Kenyamanan dengan hardisk besar hanya kita yang bisa ciptakan. Yuk bersih-bersih.