Berbagi Melalui Dunia Digital untuk Guru Era Baru

Berbagi ala Guraru 1Rencana Materi Seminar Pendidikan di Tenggarong Kalimantan Timur
16 April 2011
(Kata kunci “berbagi”,era baru“)
Oleh Urip, S.Pd., M.Sc.
(Ambassador Acer 2010/2011)
Penerima e-Learning Award 3rd Kategori Blog Edukatif 2008
Penerima Award Internet Sehat Edisi Minggu Ke-2 April 2009
Penerima Acer Guraru Award 2010

Email: mr dot urip at gmail dot com
Facebook: facebook.com/urip.kalteng
Blog: https://urip.wordpress.com
Mobile: 081 392 564 564 (Simpati) atau 08180-4-115500 (XL)

Mengapa perlu berbagi

Manusia di dunia tidak bisa hidup seorang diri, ada saling ketergantungan satu dengan yang lain. Jika semua mau hidup sendiri tidak ada lagi peradaban. Guru (kita) juga manusia, banyak pengalaman yang kita punya, tapi tidak sedikit yang belum pernah kita alami. Kita bisa saling melengkapinya dengan cara berbagi. Bisa lisan atau melalui tulisan. Bisa secara langsung maupun tidak langsung, Bisa memerlukan alat atau tidak, tapi semua itu intinya untuk bisa saling melengkapi diri, mengikis kekurangan untuk bisa menjadi guru yang “sempurna”.

Mengapa harus dunia digital

Dunia digital atau yang sering disebut dunia TIK, dunia era baru, dunia yang tak mengenal batas. Di manapun kita berada kita bisa terhubung melalui dunia digital atau TIK. Jadi ini sangat efektif dan efisien. Relatif tidak memerlukan dana besar untuk sekedar berbagi. TIK itu sekarang identik dengan komputer dan internet serta semua hal lain yang mendukungnya. Jadi mengenali untuk bisa memanfaatkan seoptimal mungkin adalah wajib kita lakukan kalau tidak mau tertinggal. Lebih-lebih kita seorang guru. Siswa kita kalau soal TIK bisa jadi sudah lebih maju dan lebih dulu tahu. Mereka adalah pembelajar yang cepat Itulah dunia mereka sekarang, kita mesti turut serta masuk ke dalamnya dan harus semakin intens menggeluti dan memanfaatkan. Siapapun tidak ada yang sanggup menolak keberadaannya. Jika kita bisa memanfaatkan keadaan zaman sekarang maka kita sudah bisa disebut sebagai guru era baru (Guraru).

Perlukah Guru berbagi?

Pengalaman, hasil karya, opini, ide-gagasan semua yang bisa dikaitkan dengan dunia profesi kita yaitu guru mengajar dan mendidik. Berbagi masalah juga berbagi solusi. Tidak ada paksaan yang ada hanyalah mau atau tidak saja mengikuti arus yang kian deras ini. Guru juga manusia, maka mutlak diperlukan untuk berbagi.

Bagaimana caranya?

Dengan menulis. Menulis bisa dimana saja, mulai dari catatan pribadi, koran, buletin, atau jurnal. Tapi itu lebih banyak memiliki keterbatasan. Ambil contoh koran, jumlahnya terbatas, tidak mungkin bisa menampung segala opini atau ide kita untuk dimuat. Catatan pribadi hanya untuk kita sendiri, karena itu menyangkut privasi. Jurnal, tidak mudah untuk bisa menembusnya kecuali kita sudah terlatih. Pilihannya adalah menulis melalui berbagai layanan yang gratis atau berbayar. Saran saya adalah pilihlah yang gratis. Lebih-lebih kalau bertujuan untuk belajar menulis saja. Fokus kita adalah untuk bisa berbagi dengan sesama melalui tulisan dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi. Misalnya lewat blog, facebook, twitter, forum diskusi atau milis atau fasilitas jejaring lainnya.

Bagaimana memulainya?

Mulai dari hal kecil, secuil pengalaman akan sangat berarti bagi seseorang maka jangan sia-siakan itu, menuliskan secuil pengalaman atau gagasan dengan update status di Facebook misalnya itu sudah bisa kita sebut dengan berbagi. Atau menuliskannya di blog. Keduanya bisa kita akses dengan mudah dan relatif cepat, yang penting kita mendapatkan sinyal penyedia layanan koneksi data. Cukup bermodal awal punya alamat email kemudian melakukan pendaftaran untuk memperoleh akun dari penyedia layanan. Yah hanya dengan syaratnya memiliki email.

Kendala memulai menulis?

Silahkan baca alasan-alasan yang membuat guru tidak/belum mau menulis untuk berbagi.

Bagaimana mengatasi masalah menulis?

Mengatasi kesulitan menulis adalah dengan cara menulis. Dalam tahap ini kita perlu membiasakan diri untuk bisa menulis mengalir, apa adanya tidak perlu mengada-ada. Bahkan mengapa kita macet ketika menulis itu bisa saja anda tuliskan. Lakukan sedikit analisis, pola pikiran itupun bisa kita tuliskan kemudian kita akan tahu dimana kita bisa memperbaikinya agar lancar menulis selanjutnya. Jangan terlalu peduli soal penggunaan tanda baca ejaan, atau berbagai teknis menulis yang sudah kita ketahui sebelumnya. Anda harus menulis ala anda sendiri. Be Your Self. Kelak anda akan terheran-heran akan kemampuan anda menulis. Yang penting adalah memulainya sedini mungkin. Kalau saya membiasakan menulis dengan teknik menulis ngelantur ala saya! Manfaatkan facebook, separagraf demi separagraf nanti jika sudah cukup kita bisa menyatukannya untuk jadi tulisan yang saling menyambung. Yang penting anda punya tujuan “sedikit” tema, judul belakangan anda bisa tentukan.

Bagaimana teknis berbagi untuk guru dan antar guru?

Berbagi lewat facebook atau blog adalah layaknya kita berbagi dalam dunia nyata. kunjungan atau sekedar tegur sapa itu sangat diperlukan. Jadi jangan jadi manusia pendiam di dunia digital itu. Semakin kita banyak berinteraksi kita semakin akrab, keakraban akan semakin terasa mana kala kita mendapati teman rekan yang saling mensupport. Pergaulan digital kadang jauh lebih ikhlas terasa karena kita tidak punya kepentingan yang didasari emosi. Jadi rasakanlah sendiri untuk saling berinteraksi. Jangan segan-segan menerima pertemanan. Ingat kita boleh saja belajar dari siapapun, kepada anak kecil sekalipun. Dan itu dimungkinkan di era digital, di era dunia tanpa batas seperti sekarang ini. Relakan dan ikhlaskan ilmu anda untuk anda bagi, maka kita akan mendapatkan lebih banyak ilmu dengan tidak kita sadari.

Lalu apa untungnya berbagi melalui dunia digital (TIK)

Menurut pengalaman saya:

  • Menambah teman dari seluruh pelosok negeri
  • Menambah ilmu pengetahuan
  • Mendapatkan solusi atas masalah yang kita hadapi
  • Mengikuti perkembangan isu pendidikan terkini (selalu update informasi)
  • Mendapatkan keuntungan finansial secara langsung atau tidak langsung.

Seberapa besar pengaruh pemanfaatan dunia digital di era kini?

Kita semua tahu tak ada bagian yang tidak bisa dimasuki segala sesuatu yang terkait dengan dunia digital.

Contoh kasus:

  • Guru tidak bisa bahasa asing, selain ada sarana belajar, dia bisa memanfaatkan teknologi terjemahan baik secara offline maupun secara online. Tidak ada bahasa yang tidak bisa kita pahami dengan adanya internet.
  • Sumber pembelajaran yang terbatas bisa kita atasi dengan mencarinya dari internet. kita terapkan di kelas-kelas. Kalaupun akses terbatas, kita bisa gunakan website versi offline yang bisa kita unduh dari situs online terlebih dulu.
  • Kasus lainnya. Barusan kami input NS tapi ada sesuatu yang ditutupi oleh pihak tertentu, karena kita bisa mengikuti forum maka kita mendapatkan pencerahan agar kita tidak dimanfaatkan pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan ketidaktahuan kita.

Berikut beberapa catatan dari blog urip.wordpress.com tentang menulis dengan memanfaatkan TIK untuk menuangkan apapun yang ada di pikiran sebagai seorang guru.

552. Era Baru untuk Guru adalah Era Berbagi
551. Era Baru Identik dengan Perubahan
550. Tujuh Belas Alasan Guru Tidak Menulis
546. Bahasa dalam Jejaring Sosial yang Merdeka
544. Guru dan Siswa yang Malas Membaca, Malas Belajar, dan Malas Menulis
535. Banyak-lah Bicara, Sedikit-lah Menulis
518. Menulis Ngelantur – Teknik Lancar Menulis
511. Menulis Laksana Burung Berkicau
503. Facebook Alat Rangsang Diri untuk Menulis
500. Memenjarakan Pemikiran di Facebook
480. Menulis di Blog, Guru Tidak akan Kehabisan Bahan

Silahkan lakukan pencarian untuk tulisan serupa pada saentero jagad maya. Sangat banyak sekali. Gunakan kata kunci “menulis” maka kita akan mendapatkan berbagai tips menulis dari para penulis hebat, dengan berbagai kiat dan tipsnya masing-masing yang akan selalu menyemangati kita untuk mau menulis. Tapi tetaplah jadi diri sendiri dalam “seni” menulis.

Selamat menulis.

Download file presentasi seminar pendidikan format pdf (1,385 MB).

Download file “Berbagi ala Guraru” Final 16 April 2011, Tenggarong Kaltim.

Iklan