Kapas-kapas Raksasa

Kapas-kapas menggumpal raksasa tersebar berserakan seolah diam bergeming dari tempatnya karena kerelatifan gerak kami yang begitu cepat. Serasa keajaiban yang luar biasa ketika menerobos, dan melewatinya. Dengan kelembutannya benda padat diijinkan menembus dirinya. Kapan ia hadir terbentuk dan hilang hanya terasa lewat derasnya titik titik yang menerpa alam sekitar.

Kapan dia naik dan menggumpal, kapan dia berubah, tak satupan yang sanggup mengendalikannya. Kapas-kapas itu mengikuti alunan masa, menyesuaikan suhu dan tekanan. Bisa jadi berkah, bisa pula petaka. Kelembutan dan ketenangannya justru mengerikan ketika kita ada di atasnya atau memasukinya. Berarak-arak meneduhi alam.

Putih, abu-abu, dan kadang kelam. Kadang membentuk formasi bak cendawan. Kehadirannya dilihat dari bumi sebagai pertanda limpahan rahmat bagi yang memerlukannya dan merindukannya. Tapi karena nafsu manusia kadang ia ingin mengendalikannya. Seolah dia punya kuasa. Bila marah tumpah ruah menghanyutkan yang ia lalui.

Menyentuh awan dengan warna nyata sepertinya hanyalah hayalan bagi orang kebanyakan. Dia nampak ketika dia jauh, dia lenyap ketika kita coba menyentuhnya. Sering ia dijadikan bahan penyusun kalimat indah yang berkonotasi negatif, menakutkan, menyedihkan, kepiluan, dan kesuraman akan situasi manusia. Apa salah mu?

Posisi menggelayut membuat siapapun akan menyiapkan diri menyambutmu, menghindarimu sebisanya. Warna lembutmu sebanding dengan suhu yang dirasakan insan. Luapanmu mengancam seolah itu adalah hukuman dari-Nya atas kesalahan dan dosa manusia bumi. Benarkah kau mendapatkan tugas itu, menghukum dosa-dosa makhluk-Nya?

Kemampuanmu meninggi ternyata tidak tak terbatas. Tidak sama dengan nafsu manusia yang tidak terbatas, melahirkan makhluk-makhluk koruptor yang antri untuk dicokok, diperiksa dan jadi pesakitan karena dimejahijaukan, penuh dengan dalih pembenaran dan pengelakan. Langit yang membiru itupun semu, maka karena itukah kau tak mengejarnya?

Meskipun karena kemuramanmu yang kadang banyak ditakuti orang, tapi kini aku mengharapmu hadir, tuk menghalau terik matahari yang membuat cairan tubuh menguap. Akankah cairan itu akan juga berubah mewujud menjadi dirimu. Oh ternyata asalmu tak pilih jenis, sumber kotor ataupun sumber suci. Tapi bagaimana bisa kau muncul dalam kemurnian yang terdiri dari elemen H dan O saja?

Kemurnianmu itu sering kali dirusak karena banyaknya pembakaran yang diulahkan makhluk yang memimpin di bumi. Kau pun tak pernah marah. Kau hanya akan mengantarkan balik hasil ulah makhluk itu untuk menyiksa dan membinasakannya seijin Yang Maha Kuasa. Kau sungguh adil, dan kau tak mau dibebani. Kau dirusak maka kau akan merusak balik. Tapi kenapa saudaraku tak banyak yang sadar karena ulahnya sendiri?

Iklan

5 responses

  1. aidil fitriani,

    ya … ya ternyata hanya dengan melihat kapas alias awan dilangit bapak menceritakan dengan beribu – ribu kata, saya peserta seminar dari tenggarong tgl 16 april, salut buat bapak …… ///////

    1. @ Aidi Firiani: Terimakasih mari bersama berbagi dengan menulis, kita bisa lebih hebat kalau kita mau berbagi. Selamat menulis Ibu Aidil Fitri

  2. melihat tulisan bpk ini, smakin byk yg sya ketahui ttg awan. dari proses trbentukx hingga berakhirnya. smuanya hanya sperti roda kehidupan yg berputar. apalgi stelah bpk kaitkn dgn para pguasa, sya jdi salut. trnyata plajaran kimia bisa jga d kaitkan dgn moral mnusia……hehehe
    trima kasih dan salut buat bpk yg sdh mmberikan sdikit tips ttg cara ‘menulis’ pda seminar GURARU d Kutai kartanegara pda hri sabtu, 16-4-’11 kemarin.

    1. Mas Hendra Syaiful: yah begitulah menulis yang rada maksa mencoba untuk membuat sesuatu yg biasa-biasa saja menjadi lebih biasa 🙂 , Hanya mengkaitkan saja kok, sebab banyak sekali analogi untuk kehidupan ini,