Percaya Diri dalam Menulis

urip.wordpress.com

Perumpamaan mengapa saya dan orang lain tak mampu menulis, seperti gajah yang dari kecil diikat kaki kirinya, karena sejak kecil dia diikat kaki kirinya kemudian dari pengalamannya dia berusaha melepaskan diri dari ikatan tidak berhasil dan putus asa, kini ia jadi gajah dewasa yang sudah tak mau lagi coba untuk melepaskan diri padahal tali ikatnya masih yang dulu juga. Itulah kondisi mengapa banyak guru yang juga manusia selalu merasa kesulitan dalam menulis, menuliskan apa yang sebenarnya ia ingin tuliskan, tapi tahu mencari konektor untuk melanjutkannya.

Percayakah anda bahwa indonesia itu kaya? Ya, cobalah lihat dengan hati dan kita akan merasakannya bahwa memang kaya. Percayakah anda bahwa diri kita hebat? Cobalah lihat dengan perasaan, rasakan hanya kehebatan kita saja. Bangkitkan rasa percaya diri, dengan menepis segala kekurangan kita. Klaim bahwa kita tidak bisa menulis akan semakin menguatkan diri bahwa kita benar-benar tidak bisa. Hanya belum dapat menyingkap tabir saja.

Mencoba untuk percaya diri dengan berbicara pada diri sendiri bukanlah bermaksud membual, atau hanya omong besar seperti kita bicara pada sebuah cermin. Buktikan bahwa itu bukan hanya isepan jempol, dan bukan omong besar saja. Mulailah sekarang, setidaknya sesegera mungkin. Lakukan itu dan rasakan perubahan pada diri kita, benar bahwa kita juga bisa, bahwa kita memang hebat. Apapun yang ada dibenak kita syah-syah saja atau tidak ada yang melarang untuk menuliskannya. ini hanyalah proses awal pembiasaab untuk menggunakan bahasa tulis.

Kita kebanyakan memang tak pandai memanfaatkan potensi diri, yang kita lakukan hanyalah menunggu dan berharap melihat keadaan berubah sesuai harapan saja. Dengan membaca banyak hal yang memberikan stimulus untuk bangkit ternyata tidaklah cukup, perlu ayunan langkah dan gerakan tangan terus dan terus, lihatlah apa yang keadaan berikan kepada kita selanjutnya… Begitu selesai kita menulis dengan deretan abjad dan tanda baca, kita suatu ketika akan terheran-heran ternyata kita bisa menulis seperti itu. Coba terus sampai kita menemukan irama dan hentakan keyboard yang bisa jadi alat penyaluran pikiran kita.

Hanya sebatas keinginan baik, keinginan sukses, semua orang punya itu. Tapi seberapa banyak yang benar-benar mengawalinya walau hanya dengan langkah kecil. Tak perlu langkah besar yang sering menjadi tak berkelanjutan. Jangan pula berharap hal besar kalau yang kecil saja tak kita dapat. Mari mulai langkah kecil tapi nyata… menulis…, menulis hal kecil yang kita mampu seperti yang saya lakukan ini. Biarlah tulisan kita kini tak berarti, jadi tulisan sampah-serpihan pemikiran yang mungkin gak ada artinya. Tapi beginilah cara menolong diri agar mampu lancar menulis, menuangkan ide dan gagasan, serta tanggapan terhadap apa yang sedang menjadi perhatian kita.

Jika selama ini kita bergaul dengan lingkungan yang tak memberikan perubahan lebih baik, mengapa kita tidak coba hal baru, mengapa kita tidak membuat perubahan dari kebiasaan untuk sedikit bergesar dari zona nyaman yang sesungguhnya kita sendiri tak nyaman. Perubahan ternyata soal pilihan, mau beranjak atau diam. Ikut?! Sama juga dengan menulis yang banyak dikeluhkan orang. Mulailah menulis, menulis apa saja, apa yang sedang anda pikirkan, dan temukan keajaiban diri anda dalam menulis.

Saya termasuk orang yang baru mulai beranjak menuju perubahan dalam hal menulis. Dengan menulis aktivitas otak lebih dinamis. dan itu terasa sekali, sepertinya :). Yang perlu dijaga jangan sampai nafsu besar tenaga loyo. Oh ternyata kuncinya di kekontinyuan untuk memilih-milih abjad dan tanda baca. Merangkai kata tak bermakna jadi punya arti. Biar saja mengalir tak terkendali, inilah proses untuk dinikmati.

Dunia di luar diri kita telah berubah, kita mau tetap begini-begini saja?! Ayolah…!
Hanya memikirkan saja kita dapat lamunan. Mau memulai dan bersegera adalah pemantiknya. Jaga jangan sampai padam walaupun tiupan kencang angin menerpa. Coba dan coba lagi hingga diri kita bisa menerangi sekitar. Menerangi dengan tulisan kita yang bisa mencerahkan untuk mengajak kepada kebaikan. Seperti apa yang kita baca dari tulisan orang-orang yang sudah memulai menulis. Itu sebagai bahan bakar kita. Bahan bakar menulis adalah membaca. Membaca perasaan kita, sekitar kita, juga membaca deretan huruf yang mungkin berupa sampah otak yang bertumpuk untuk segera kita pilah, kita daur ulang untuk dibuat hal baru ala diri kita. Sementara itu jangan pikir soal what next. Menuliskan saja semua.Nikmati saja dulu bagaimana sesasinya. Lihatlah apa yang terjadi kemudian.

Iklan