Kau Paksa Kami Tak Jujur

Rasakanlah betapa sulitnya mengajak berbuat jujur dalam menghadapi UN. Banyak desas-desus kecurangan dilakukan di sana, mau dibawah ke mana pendidikan negeri ini. Tidakkah kau sadari para elit pengambil kebijakan. Tidak cukup ancaman dan hukuman kau jatuhkan. Itu tidak membuat semua jadi takut, kau malah dicibir.

Sudah hampir semua tidak menyetujui bahkan di cerca UN tak memberikan pembelajaran bermanfaat, kau tetap saja jalankan, ada apa ini sampai kau bersikeras menyelenggarakannya. Tidakkah kau hormati institusi hukum tertinggi dingeri ini hingga kau langgar begitu saja. Apa yang kau pikirkan kalau kau memutuskan untuk tetap melaksanakannya. Apa kau berhutang budi pada seseorang?!

Ini adalah hari kedua UN, di kota besar mungkin kau bisa berjalan adil, jujur, meskipun aku menyangsikannya. Tidakkah kau tahu apa yang terjadi pada sekolah-sekolah pelosok pedalaman, dengan kondisi pas-pasan mereka biasanya mendapatkan nilai spektakuler?! Tidakkah kau merasa ada yang tidak beres dengan pelaksanaan UN selama ini?! Mengapa kau butakan dan tulikan telingamu bahwa itu semua tidak bisa kau hindari?

Tidakkah kau heran dengan proses belajar mengajar yang pas-pasan dan sarana pas-pasan pula mereka bisa peroleh nilai bagus? Tidakkah kau curiga apa yang terjadi selama ini? Model soal ujian yang tinggal membulatkan lingkaran kecil kau tau itu rentan untuk siswa beradu peruntungan, atau di manipulasi dgn mudah, mengapa tidak pernah kau ubah? Mengapa kau rampas hak guru dalam menyatakan kelayakan siswa?

Saya sejak mula tidak srek dengan kondisi ujian yang membudaya model hanya pilih-pilih. Itu rawan kecurangan. Hanya diawasi malaikatlah mungkin yang sanggup mencegah kecurangan. Aneh memang banyak oknum guru di sana-sini kasak kusuk menyebar jawaban. Bodoh sekali pikir saya tindakan seperti itu. Wahai para elit pengambil kebijakan apakah kau menunggu ada yang melapor padamu terjadi kecurangan?

Dengan ancaman-mu jelas tak mempan, dan kau sudah memprediksikan apa yang terjadi, kecurangan bakal tetap terjadi. Pengawasan kau perketat. Ah itu hanya teori. Di manapun di negeri ini yang seperti itu hanya untuk “berbuat baik” terhadap siswa. Memang sulit untuk dibuktikan, sebab itu adalah hal GAIB sepeti kentut, kaupun kesulitan menangkapnya. Tapi itu nyata ada, ada di mana-mana. Bukalah mata telinga-mu lebar-lebar.

Cukuplah tahun ini saja UN kau gelar. Tahun depan cobalah dengar apa kata pakar yang lain, dengarlah keluhan guru, kepala sekolah, kepala dinas, orang tua. Cobalah kau tengok bagaimana kau dulu menghadapi ujian. Apakah kau berhasil seperti sekarang dengan menduduki posisi penting juga karena ujian semacam sekarang?! Aku yakin tidak sama! Lalu kenapa kau pikir UN model sekarang akan lebih baik sehingga kau paksakan.

Dengan UN kau secara tidak langsung memaksa mereka-mereka berbuat curang. Mulai guru-kepala sekolah dan mungkin kau sadar membohongi dirimu sendiri. Saya tidak tahu mengapa kau paksakan itu. Kami guru yang mengajari kebaikan dan kejujuran kau hancurkan dengan hanya karena UN. Sekali lagi lihatlah dengan bathin-mu banyak orang mengurut dada hanya karena ulahmu tetap menyelenggarakan UN.

Aku mau anak-anakku tidak kau jegal dengan kegagalan UN. Lihatlah keadaan asli mereka dari hasil uji coba UN (try out) berapa persen mereka bisa melampaui ambang batas yang kau tetapkan. Itulah kondisi asli kemampuan siswa di negeri-mu yang kau pijak ini. Inilah kenyataannya. Apakah kau puas dengan laporan-laporan menyenangkan hati dari hasil UN yang akan kau lihat/dengar nanti? Ah kasihan sekali, kau tertipu!!!

Tercium anyir aroma kebusukan kebijakan yang kau ambil itu. Hingga kututup hidungpun aku masih menciumnya. Bahkan orang awampun mencurigaimu kau bermain-main di atas penderitaan siswa dan guru. Kasihanilah kami yang sudah lama kau siksa dengan kebijakanmu yang menjerat kejujuran yang kami coba bangun. Apakah anak cucu cicitmu tidak kau sekolahkan di negerimu?!

Aku menduga kau paksakan kebijakanmu karena memang anak cucu cicitmu kau sekolahkan ke luar negeri sehingga tidak merasakan kebijakan yang kau tetapkan, tapi kau timpakan pada kami orang yang tak berdaya, namun malah kau perdayai dengan berbagai dalih. Okelah kalau begitu, semoga kau mendapat ampunan, dan diterima di sisi-Nya kelak dengan bermodal perjuanganmu tetap melaksanakan UN.

Iklan

One response

  1. sangat-sangat setuju mas urip…saya juga pernah corat-coret di blog saya, kurang lebih isi nya hampir sama seputar keadaan pendidikan di negara kita tercinta, mohon kalau ada waktu kunjungi blog saya dan mohon koreksinya karena saya merasa coretan-coretan saya masih maburadul…