Bahasa Inggris, Mau Tapi Tak Mau

Ujian nasional jam pertama hari ketiga adalah bahasa Inggris. 20 menit pertama mungkin mendebarkan karena ada kukhawatiran sound system yang digunakan bermasalah. Alhamdulillah lancar. Yang lebih berdebar-debar adalah siswa yang memang tidak tahu apa-apa, hanya kecemasan saja yang dirasakannya. Saya malah berpikir apakah mengerti atau tidak siswa-siswa mendengarkan apa yang dimaksud dalam narasi yang ia dengar itu. Saya dulu menikmati siksaan selama ujian TOEFL atau TOEIC karena memang tidak bisa bahasa Inggris walau sudah 6 tahun belajar bahasa Inggris.

Sudah tahu pembelajaran bahasa Inggris selama ini kurang memberikan hasil sesuai tujuan tapi kajian pembelajaran bahasa tersebut kurang begitu direspon penerapan cara prakitis untuk bisa menguasainya. Bahasa adalah soal komunikasi, tapi anehnya sekian lama belajar kita lebih banyak yang tak mampu berkomunikasi dalam bahasa yang kita pelajari. Sudah tahu kan di mana persoalan dan hambatannya, tapi kok? Hah jangan-jangan guru-guru bahasa tidak mau tahu nih. Sudah coba usaha baru belum sih agar siswa lebih bisa cas-cis-cus?!

Karena merasa tidak kunjung bisa berkomunikasi dengan teknik pengajaran selama ini maka beroleh berkah-lah para penjaja bahasa lewat kursus-kursus yang dibinanya, bahkan menjamur di seluruh pelosok negeri. Beruntunglah ia karena pengajaran bahasa di sekolah tak berubah. Naif banget memang 6 tahun belajar bahasa Inggris ternyata banyak yang tidak mendapatkan manfaat besar. Membaca tulisan saja tidak mengerti apalagi mendengarkan bahasa dari native speaker 🙂 seperti saya ini.

Jadi pelajaran bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya jelas dirasa oleh kebanyakan siswa sebagai siksaan. Tapi ini belum ada survei-loh, jangan percaya ini rekaan saya saja kok. Terus salah siapa? Halah gak perlu nyari kambing hitam-lah :D. Semua tahu sih memang penguasaan bahasa Inggris akan menjadi pintu pembuka untuk khasanah ilmu dan pengetahuan. Tapi hanya sebatas tahu saja. Berbagai metode telah diketahui tapi dari sebanyak metode itu berapa persen yang bisa “menyulap” kehebatan berbahasa seorang siswa? Loh emang ini soal sulapan?!

Menurut saya yang tidak tahu isi kurikulum bahasa Inggris dan memang tidak ingin tahu, apa sih tujuan diajarkannya bahasa asing termasuk bahasa Inggris itu? Bukannya untuk bisa berkomunikasi?! Itu perkiraan saya memang untuk berkomunikasi, tidak lebih. Lalu kalau disekolah apa diajarkan agar siswa bisa berkomukasi, tapi kok sampai-sampai anak-anak sekarang dan juga saya yang juga pernah sekolah tidak kunjung bisa berkomunikasi dengan bahasa tersebut? Beberapa tahun lalu saya mengetahui ada belajar bahasa Inggris dengan tanpa usaha. Luar biasa judulnya, bisa kepincut tuh kalau orang pingin mengambil jalan pintas. Tapi setelah saya simak, tidak mungkin juga tanpa usaha. Sudah tua mau belajar bahasa asing berapa tingkat keberhasilannya yah?

Penguasaan bahasa memang akan lebih mudah ditanamkan sejak dini. Sering kita mendengarkan seloroh orang bahwa anak-anak kecil di Inggris sana pada pintar bahasa Inggris dan fasih pula. Kita di Indonesia sudah tua bangka pun yang pernah 6 tahun belajar kok gak bisa-bisa. Apakah kurang serius belajarnya atau memang kita harus terlahir sebagai orang Inggris agar bisa bahasa Inggris meskipun tak sekolah dan menerima pelajaran bahasa Inggris 😀 ? Kosa kata pun jumlah terbatas banget, yes, no, I love you.

Jumlah kosa kata dan penggunaan yang refleks sesuai keperluan akan mempercepat kelancaran dalam berbahasa. Saya teringat saat SMP dulu kami dipaksa oleh guru bahasa Inggris untuk rajin menghafal vocabulary, dan itu membekas hingga saat ini. Tekniknya maju satu-2 atau ditanya satu2 arti dan pengucapannya. Jika tidak tercapai target ditambahi beban menghafalnya. Apakah sekarang juga demikian di SMP? Yang menjadi pertanyaan mengapa tidak banyak guru yang memaksa siswa untuk menghafal kosa kata agar mereka kaya.

Saya semakin terpuruk ketika di SMA pelajaran bahasa Inggris saya amburadul, dipress untuk menguasai tata bahasa yang begini begitu. Hancurlah saya karena kosa kata saya kian hari kian berkurang. Sebagai siswa saat itu memang terpaksa menghafal dengan kesadaran diri, tapi belakangan ia akan merasakan betapa pentingnya hal itu. Selanjutnya saya semakin malas untuk memperkaya kosa kata, akibatnya tidak pede ketika berkomunikasi dengan bahasa itu.

Semakin berumur dan tidak pernah diasah memang semakin karatan kemampuan bahasa asing kita. Kecuali kita jenius dalam berbahasa. Benar memang orang sukses berusaha kalau ia tidak kenal lelah untuk mencoba dan mencoba, tidak takut salah. Tapi tidak banyak yang bisa begitu. Ke-tak-pede-an lebih mengemuka. Akibatnya kita sering kali memvonis diri tidak bisa bahasa Inggris. Semua sadar soal itu, tapi enggan beranjak. Seperti saya ini 🙂

Kini siswa saya sedang menghadapi UN. Ambang batas lulusnya adalah dengan nilai akhir 4 atau 5,50. Bisa apa dengan nilai sebesar itu? Lalu sebenarnya tujuan pelajaran bahasa Inggris di sekolah itu apa yah? Sepertinya tanggung banget. Apakah mereka berharap siswa akan mengembangkannya sendiri kelak? Saya yang sudah jadi guru saja kini semakin malas belajar bahasa, kita bisa manja dengan google translate kalau baca tulis. Apalagi tidak ada paksaan untuk menguasainya, kecuali memang berniat kuat untuk bisa.

Saya tahu bahasa yang digunakan untuk komunikasi sehari-hari itu tidak memerlukan kosa kata yang banyak. Tapi kata yang mana yang harus saya kuasai dan pahami serta tahu penggunaannya tidak pernah saya cari. Nah kondisi seperti itu yang disadari tapi tak kunjung ditindaklanjuti oleh orang yang punya nafsu ingin lancar berbahasa Inggris. Jadi semua kembali pada yang bersangkutan. Orang kebanyakan mau tapi tak mau, mau bisa berbahasa asing tapi gak mau belajar dan menekuninya. Kita tetap merasa enjoy dengan era lama engan beranjak menuju era baru. Tidak mau berubah, tapi pingin hebat, yo gak mungkin toh yo. Yuk belajar bareng! Omong-omong mulai dari mana nih? Halah…