Menulis itu Tidak Harus Banyak Membaca!

Ini adalah tulisan saya yang sudah lama berupa draft yang belum sempat saya selesaikan. Saya mencoba menulis dengan mengambil judul yang bersifat antagonis dari norma yang berlaku selama ini. Harapan saya adalah untuk mengajak rekan lain yang belum biasa menulis agar tidak terhantui banyak hal yang semestinya tidak patut untuk dijadikan momok untuk mempertebal tembok penghalang niat menulisnya. Jadilah judul tuisan ini seperti itu.

Menulis menurut saya tidak harus banyak membaca. Menulis yang saya maksud adalah menulis di blog seperti ini. Ini hanyalah usaha untuk melancarkan penuangan buah pikiran. Jelas tulisan seperti itu bukanlah tulisan ilmiah, tapi hanyalah sebuah opini. Yah opini hasil olah pikir dengan hanya memanfaatkan rasa dan daya nalar. Jadi kalau ada yang salah akan apa yang tertulis yah mohon maaf saja.

Dengan akal pikiran yang kita miliki kita bisa saja mengemukakan unek-unek dalam bentuk tulisan. Tentang apa saja. Tentang berbagai hal yang ada di sekitar kita, tentang apa yang kita dengar, kita rasa, kita almi, atau bahkan yang menjadi angan-angan kita. Bahan bakarnya bisa saja kita baru peroleh atau bahan endapan yang tertimbun dalam jangka waktu sudah lama. Itu adalah hasil bacaan baik dengan mata, telingga, maupun dengan perasaan juga.

Menulis agar “kaya” memang disarankan selalu membaca, dengan membaca kita akan mendapatkan wawasan baru. Tapi kadang dengan banyak membaca pikiran terpengaruhi dengan apa yang kita baca. Untuk referensi sih kalau memang diperlukan yang boleh-lah. Tapi pikiran kita yang kita tuangkan lewat tulisan mesti orisinil. Menulis sebenarnya merupakan hasil olah pikir menurut versi kita bukan karena terpengaruhi dari apa yang kita baca, yang sudah ada sebelumnya. Hasil bacaan kita itu semestinya kita olah dalam benak kita kemudian tersalurkan menerut persepsi kita. Dengan kata lain mempersepsi lagi.

Orosinalitas tulisan kita memang tidak akan pernah murni 100%, itu karena kita membuahkan dari berbagai sumber mineral bacaan baik tertulis atau tidak. Banyak juga dipengaruhi oleh hal-hal yang sebelumnya dulu pernah kita baca atau kita simak boleh setuju atau mengiyakan atau menentang atau menolaknya. Tapi itu telah mengalami pemrosesan berdasarkan rasa pikir kita. So itulah rententan dari kalimat atau kata-kata yang muncul pada layar bacaan seperti ini.

Saya menulis ini juga tidak memerlukan bacaan. Tidak juga memerlukan referensi yang mengharuskan saya mengacunya. Ini adalah tulisan bebas. Aktivitas membaca adalah aktivitas tersendiri di mana ini merupakan asupan vitamin, mineral dan bukan bahan utama. Membaca adalah aktivitas pendukung dalam menulis bebas. Yang utama sekali lagi adalah hasil olah pikir kita kemudian tergarap lewat olah kata dan kalimat. Jadilah serangkain tulisan yang mungkin akan menambah riuh rendah atas opini yang selama telah ada.

Setiap orang meskipun memiliki kesamaan dalam berpikir pastilah tidak akan sama. Seperti halnya tanaman yang bermacam-macam jenisnya jika diberikan asupan yang sama akan memberikan buah dengan rasa yang berbeda-beda. Kita juga meskipun memiliki asupan berupa bahan bacaan yang sama persis kalau di minta menuliskan hasil bacaannya akan memberikan hasil yang jauh berbeda baik dari segi tutur kata atau tekanan kalimatnya. Ini wajar saja terjadi karena bahan bacaan itu hanyalah sebagai vitamin atau mineral, bukan bahan utama sebagai energi dalam menulis. Energinya tetap sama dalam pikiran kita.

Tapi dari vitamin bacaan kita tulisan kita akan menjadi semakin kaya. Mengapa bisa begitu? Suatu tulisan yang monoton seperti kebanyakan tulisan saya ini adalah karena saya enggan membaca sumber lain. Dengan banyak membaca kita punya banyak kosa kata atau pengetahuan yang bisa digunakan untuk memberikan paparan tentang sesuatu agar lebih mudah dimengerti. Misalnya kita bisa mengambil analogi atau perumpamaan dari apa yang akan kita tulis. Ini jelas akan memperjelas dengan berbagai warna tulisan. Ini juga akan membuat pembaca mengerti siapa penulisnya. Tapi jangan lantas kita mengambilnya semua analogi yang tidak umum. INI TEORI KALI. Hehehe padahal mau menulis jangan terlalu banyak berteori. Tulis saja semau kita.

Selama hidup kita sudah berapa banyak bahan bacaan yang kita lahap? Pasti sudah banyak sekali. Berapa banyak intisari yang bisa kita serap kemudian kita tuangkan kembali menurut persepsi kita? Disadari atau tidak, banyaknya bahan bacaan yang selama ini “mempengaruhi diri” kita. Kita tidak mesti menuliskan referensi bacaan apa yang menjadi jalan hidup kita. Termasuk dalam menulis, itu karena kita sudah memrosesnya dalam pikiran kita kemudian ia mempengaruhi pola pikir bahkan pola hidup. Kecuali kita memang mengutip-nya dalam suatu tulisan atau perbincangan resmi.

Jadi janganlah lagi membaca banyak bahan kalau hanya sekedar ingin menulis, menulis seperti tulisan saya ini. Menulis di sini bukanlah menulis karya ilmiah kok. Jadi opinikan saja dalam bentuk tulisan dari banyak bahan yang sudah mengendap dalam pikiran itu. Aduklah kembali untuk dijadikan minuman kita sendiri dan nikmatilah, syukur-syukur bisa menyajikannya dengan manis kepada para pembaca yang budiman.

Yuk terus menulis!

Iklan

One response

  1. Menutut saya …kegiatan membaca tetap di perlukan karena dengan membaca secara otomatis kita dapat memperkaya perbendaharaan kosa kata dan melihat gaya menulis yang baik sehingga akan berpengaruh pada tulisan yang berkualitas.
    Jadi, kombinasi menulis dan membaca harus bersinergi untuk menuangkan gagasan pikiran yang orisinil kedalam tulisan menjadi sebuah bacaan yang enak & menarik

    Di tunggu kunjungan baliknya teman…jangan lupa komentarnya…terimakasih 🙂