Kebangkrutan Pendidikan

Ibarat usaha dagang atau industri, pendidikan di negeri kita sudah bangkrut. Bagaimana tidak, berapa biaya yang digelontorkan ternyata tidak menghasilkan keuntungan signifikan. Kebangkrutan itu diperparah diselenggarakannya UN yang sudah bertahun-tahun. Tujuan hanya untuk mengetahui standar capaian pendidikan dijadikan ajang bisnis untuk proyek UN. Sangat miring memang nandanya, tapi siapa yang bisa memungkiri hal itu. Ini adalah realita. Nasib siswa ditentukan secara merata untuk kelulusannya, tanpa melihat bagaimana kondisi sekolah, guru dan lainnya.

Soal UN semakin hari secara kualitas semakin mudah. Dan itu memang disengaja agar perolehannya bisa meningkat, bukan karena prosesnya yang sudah bagus tapi dilakukan penurunan tingkat kesukaran. Setidaknya ini menurut penilaian saya yang ngawur.

Jika mengamati soal UN kimia yang baru berlalu sepertinya soal uji coba UN yang saya gunakan tidak jauh meleset, mungkin 90% kemiripannya. Artinya siswa yang mungkin akan lulus tidak jauh beda dari hasil uji coba atau mungkin akan lebih bagus. Sebab sudah beberapa kali kami bahas juga, tapi itu semua tergantung kemampuan siswa saat itu. Mungkin untuk siswa perkotaan jika mereka sudah belajar tekun akan banyak yang mendapat nilai akhir (NA) 10, 9, 8 .

Siswa sekarang ini semestinya bisa dengan mudah mendapatkan nilai bagus. Karena sebelum ujian ada uji coba UN juga sudah diberitahu kisi-kisi atau indikator soal yang akan ia hadapi saat UN. Tapi mengapa banyak siswa justru nilainya jelek. Bahkan karena kuatirnya sampai ada guru tak bermoral dalam mendidik memberikan jawaban kepada siswa. Mereka adalah guru-guru pahlawan perusak mental anak bangsa. Tidak banyak sih jumlahnya tapi biasa ada yang mencari muka di depan siswa-siswa.

Dampak negatif dilaksanakannya UN dengan ambang batas lulus yang ditetapkan seperti sekarang ini sangat luar biasa. Hal ini juga rupanya penyebab kondisi rusaknya pendidikan,  menyebabkan guru semakin malas untuk mengajar dan tidak sungguh-sungguh.  Membuat stress siswa, guru, orang tua hingga kepala daerah. Karena hasil UN akan memiliki konsekwensi bagi mereka. Ada guru yang hari-hari mengajar agama harus berjibaku membantu siswa dengan cara tak benar (kalau yang ini sih karena individunya saja kali).

Ada guru keseharian dakwah untuk agamanya dan kothbah sana-sini yang kemudian tahu terjadi pencurangan UN e… ia malah berdiam diri tak mencegahnya, ia melakukan pembiaran, bahkan malah memberikan peluang agar hal itu terjadi. Apakah memang tindak pencurangan itu pada hukum agama tidak dilarang? Apakah mereka tidak mentafsirkan apa yang ia pahami? Atau pencurangan dengan maksud menolong siswa itu benar dan ia malah merasa akan mendapat pahala di sisi-Nya?

Sekolah yang hari-hari biasa melarang siswa membawa hp ke dalam kelas, saat UN malah menjadikan hp alat transfer kunci jawaban yang entah dari mana asalnya. Padahal dalam tatib itu secara tertulis dilarang. Siswa yang semesti sibuk belajar menjelang UN malah sibuk kasak-kusuk mencari bocoran jawaban. UN sungguh buruk dampak-mu menghancurkan dunia pendidikan di negeri ini. Mental busuk orang yang menyesatkan kini ada di mana-mana gara-gara UN.

Kalau dulu modus operandi kecurangan ujian adalah dengan mencontek, baik membawa catatan atau melihat jawaban temen yang berdekatan, kini sudah lebih gila. Modusnya adalah oknum guru mengirimkan jawaban via sms. Bahkan tahun lalu ada oknum yang membacakan jawaban di depan kelas. Anehnya pengawas melakukan pembiaran saja. Kini yang begitu jadi lumrah. Tahu sama tahu. Hancurlah pendidikan negeri kita, bagaimana bisa bersaing dengan negara lain?!

Apa yang saya tulis soal kecurangan UN tadi bukanlah pengalaman sendiri tetapi hasil dengar dari temen yang pernah bertugas sebagai pengawas dan yang pernah memergoki kecurangan itu. Jadi jangan dipercaya. Saya sendiri belum pernah mengawas UN, mungkin karena kekerasan kepala saya akhirnya saya tak mendapat kesempatan sebagai pengawas. Alhamdulillah.

Kondisi real soal kemampuan siswa dalam mengerjakan soal adalah ada pada hasil uji coba-uji coba UN. Bahkan di kota Surabaya diindikasikan tak ada yang lulus UN dari uji cobanya. Apalagi kalau soalnya model uraian semua, saya curiga siswa lebih banyak yang tak bisa menggerakan pulpennya atau pensilnya karena ia tidak tahu apa-apa. Lembar jawabannya bersih hanya ada nama atau no tes.

Banyak sekali kegiatan yang coba dibangun oleh sparasi dari kementerian pendidikan untuk meningkatkan proses dengan harapan menghasilkan peningkatan mutu pendidikan. Segala hal dilakukan melalui lomba yang mendukung proses pembelajaran dijadikan prototipe seorang guru, baik melalui pembuatan media pembelajaran, e-learning, teknik mengajar, karya ilmiah guru, kreativitas dan inovasi dan lain-lain. Ah ternyata semua idealisme yang coba dibangun itu bangkrut hanya gara-gara UN.