Pengawas UN yang Baik Hati itu

Ujian nasional SMA/MA dan SMK telah usai. Para pengawas pulang dengan gontai mengantongi angpoa yang masing-masing daerah dan sekolah memberikan besaran yang berbeda-beda. Bahkan ada juga yg mendapatkan bingkisan. Hampir tiap hari mereka mendapatkan suguhan ala tamu. Kalau perlu juga mendapatkan jatah makan siang ala kadarnya. Budaya ketimuran untuk menghormati tamu lebih-lebih kalau tamu kita juga membantu kelancaran UN siswa tercintanya. Semua itu dana diambil dari mana yah?
Tugas mengawas UN bagi kebanyakan guru adalah saat santai untuk tidak menjalankan tugas mengajar. Ngiras pantes mengawas siswa yang ujian ia bisa sambil mengakses internet via hp. Namun sesuai tugas tertulisnya setelah ia dibriefing pihak sekolah yang diawasi untuk bisa melakukan kerja sama yang baik dan smart. Syukur-syukur bisa memberikan bantuan logistik jawaban kepada siswa yang diawasi. Weleh-weleh!

Suatu ketika terjadi kecerobahan siswa dalam pengisian biodata peserta UN pada lembar jawab komputer (ljk). Semestinya pengawas juga awas dong dalam mengecek kelengkapan isian data siswa. Inilah salah satu tanggung jawab sebagai pengawas UN. Tidak hanya membagi ljk dan soal yang kemudian memasukkan amplop begitu saja. Ini amanah tugas negara dalam mengawas siswa mengerjakan soal yang merupakan dokumen negara dan sangat rahasia itu.

Selain pengawas ruang demi keamanan jalannya UN juga dikawal polisi dan ada pengawas independen dari perguruan tinggi terdekat. Wou berapa besar ya dana untuk semua itu? Pasti besar. Begitu besarnya biaya UN mulai dari pengadaan sampai pengkoreksian diawasi secara ketat. Saat pelaksanaan setiap ruang diawasi 2 orang guru. Tapi di beberapa tempat pencurangan tetap saja terjadi. Dipungkiri atau tidak inilah budaya yang mengakar selama UN ini, mungkin hingga dihapuskannya kelak.

Saya ingat jaman dulu jika ebtanas kami diawasi 2 orang guru dari sekolah lain, kami segan dan tak beringsut dari tempat duduk. Guru kami sendiri mengingatkan agar kami jangan coba-coba untuk curang. Sekarang? Guru menyarankan kepada siswa agar melakukan segala daya dan upaya untuk bisa mengerjakan soal yang penting tidak menyolok mata. Jangan takut dengan para pengawas itu, mereka sudah diberi arahan kepala sekolah kita kok. Weuk!

Tenang saja pengawas ujian akan dijamu dengan layanan prima, soal makan atau soal pesangonnya juga ada. Jadi pengawas akan bisa kita ajak kerjasama. Mereka juga tak mau merepotkan kita. Bila memungkinkan dan berbaik hati pengawas boleh membantu kalian kok. Sebab pengawas juga berharap siswa di sekolahnya yang ia tinggalkan kepingin mendapatkan kemudahan juga. Jadi jangan kuwatir, kalian pasti lulus. Jadi tenang saja ya!

Bahkan ada di suatu sekolah perharinya pengawas diberi uang jalan 75 ribu, selesai UN masih diberi bingkisan sepotong kain, dan diisi perutnya dengan makanan yang tidak biasa ia makan. Ini hanya sekedar jadi pengawas UN. Belum lagi mengamplopi polisi yang jaga(kalau perlu) dan pengawas independen. Kalau ada kunjungan pejabat berwenang juga masih memberi salam tempel (sudah jadi kebiasaan kali). Itu katanya sudah jadi ke-etis-an. Hanya untuk mengawas tuh!

Sesungguhnya kalaupun pengawas mengawasi, aslinya dia tidak bermaksud untuk mencegah kecurangan kok. Tapi agar siswa yang diawasinya lancar mengerjakan soal. Mungkin mereka pikir UN kan hanya sekedarnya saja, dia pikir jangan sampai gara-gara UN nasib siswa dipertaruhkan. Toh di tempat lain kecurangan juga terjadi. Mungkin itu bentuk protes ketidaksetujuannya diselenggarakan UN, hem gimana tuh jadinya kalau sudah begitu?

Jadi kalau mau dihitung rata-rata tiap sekolah mengeluarkan dana ekstra berapa hanya untuk pengawasan UN? Tiap ruang ada 2 pengawas, per orang anggaplah dapat jatah 100 rb selama UN, jadi tiap ruang sudah 200 rb. Satu sekolah yang ada anggaplah rata-rata ada 10 ruang, jadi perlu 2 juta untuk sangunya pengawas. Sebutannya uang transpor. Biasanya sih lebih dari itu. Belum layanan minum dan snack, juga makan besar tiap akhir UN.

Nah kalau ada sekolah yang tiap pengawas perhari dapat 50rb sj x 2 orang x 4 hari x 10 ruang x seluruh sekolah seindonesia sudah berapa. Itu dana tidak dianggarkan pemerintah sepertinya, besarannya diserahkan sekolah masing-masing. Ini baru dari segi dana pengawas ruang. Sebegitu besarnya dana hanya untuk mengawas UN. Tidakkah pemerintah buka mata dan telinga, tidakkah mereka tahu besaran yang harus ditanggung sekolah?

Kalau para pengawas UN itu adalah PNS bukannya mereka juga sudah digaji tiap bulan? Tapi itulah Indonesia cukup ganti istilah diterimalah uang jalan istilahnya, sebagai ganti beli oli yang licin itu selama ia diminta mengawas di suatu sekolah. UN… begitu peliknya masalah yang kau timbulkan, betapa besarnya anggaran kau pakai, tapi apa hasilnya terhadap kontribusi peningkatan kualitas manusia negeri ini?

Pengawas UN itu sebenarnya tidak bersalah karena yang ia terima, yang ia lakukan adalah akibat ulah pemerintah juga yang tetap ngotot menyelenggarakan UN. UN semestinya batal demi hukum. Hehehe kayak ngerti hukum saja yah?! Jadi ingat aturan dibuat itu bukan hanya untuk dipatuhi tapi juga untuk dilanggar. Pantas saja pemerintah tidak mematuhinya juga. Lantas dengan melihat kebobrokan UN apa yang bisa dilakukan guru lagi untuk perbaiki pendidikan ini?

Saya guru biasa yang tak punya kuasa, tulisan-tulisan kritis saya adalah sebuah bentuk keprihatinan akan remuknya sistem ujian yang dianut sekarang. UN telah mengambil hak saya sebagai guru sesuai undang-undang (undang-undang sisdiknas). Otonomi Saya sebagai guru dirampas hanya demi UN. Meski ia berkontribusi 60% untuk kelulusan siswa tapi itu tetap jadi perampas hak saya sebagai guru. Memaksa rekan saya yang mengawas UN melakukan pembiaran tindak curang.

3 responses

  1. Pengawas Biasanya baik kalau dibaikin heheheee

  2. UN di hapus sistem pendidikan akan lebih parah, siswa akan santai … & kemungkinan akan kurang menghargai guru … kalau dulu UN bisa dilaksanakan kenapa sekarang tidak ? sekalian saja bubarkan sekolah … . UN merupakan salah satu tolak ukur tercapai atau tidaknya PBM … kalau nilai UNnya tidak mau jelek ya belajar … 🙂