Potensi Juara Anak Manusia

Seorang anak tidak menjadi juara di kelasnya, tetapi mungkin dapat jadi juara di lomba lain. Ini membuktikan bahwa setiap anak itu hebat di bidang yang ia sukai dan kuasai pada tingkatannya. Inteligensia memang tak bisa disamaratakan semua itu bersifat unik. Justru ini adalah tantangan bagi orang tua dan guru untuk membangkitkan potensi keunikan dalam diri seorang anak hingga ia bisa melejitkan kemampuannya. Lalu sudahkah kita membangkitkan potensi anak atau siswa kita secara optimal?

Kata juara bagi anak sang juara sering membuatnya semakin terpacu untuk selalu menjadi yang terbaik. Tapi anak yang tidak juara, yang jumlahnya lebih banyak itu, kadang malah membuatnya merasa minder (rendah diri). Merasa dirinya tidak bisa lebih baik dan tidak akan lebih baik dibandingkan sesamanya. Mental bersaingnya malah menjadi rendah yang membuatnya pasrah dan tak mau belajar lebih giat. Sebagai keharusan kita (orang tua dan guru) adalah pandai-pandai untuk menjadikan seorang anak juara dalam bidang yang ia mampu. Jangan sesekali saat itu kita mengklaim seorang anak itu tak berbakat atau bahkan bodoh, tapi mungkin saja karena kita belum bisa menggali potensi apa yang anak miliki.

Meskipun kadang wajah sang juara bisa kita kenali sejak awal, dengan raut muka, mimik wajah, serta antusias luar biasa yang terpancar. Tapi jika lingkungan sekitar tak mendukung atau tak sanggup membangkitkan potensi akhirnya wajah itu pun layu menjadi tak percaya diri, selalu minder dalam menatap masa depan. Sebagai orangtua atau guru hendaknya kita tidak membunuh mental sang juara pada pribadi-pribadi yang kita kasihi. Sepertinya ini mudah menyarankan tapi sulit untuk menjadi pembiasaan diri. Mari mulai sekarang untuk memupuknya sehingga wajah-wajah itu tetap cerah ceria dengan kehebatannya.

Secara umum atau kebanyakan guru atau orang tua tidak bermental juara. Marilah kita akui ini, prestasi hebat apa yang sudah kita rahi? Karena tak bermental juara, ia pun tidak tahu (tak memiliki pengalaman) bagaimana menjadikan anak-anaknya bermental juara, mental tidak pantang menyerah dalam mengarungi kehidupan. Prestasi sang juara sesungguhnya adalah keberhasilan yang diperbandingkan dengan yang lain. Jadi sangat banyak keberhasilan-keberhasilan yang sudah dan akan terus kita rahi. Tapi itu sering kita tidak perhatikan, kita tidak biasa menghargai diri sendiri atas keberhasilan itu. Saya termasuk tak memiliki mental juara dan sering tak perduli dengan apa yang sudah kita rahi, yah akhirnya pasrah, yang ada hanyalah berharap dan berdoa tanpa tahu cara mengarahkan anak menjadi juara. Kalau itu disadari, yakin kita akan segera mencari tahu bagaimana mendidik anak menjadi sang juara.

Ok anak kita mau jadi juara apa? Lihatlah begitu banyak ajang untuk melecut diri, memacu prestasi, tinggal menyesuaikan dengan potensi anak. Tidak di bidang fisik kita bisa arahkan ke bidang otak (akademik). Di bidang fisik tentu olah raga, atau olah seni kreeasi. Di bidang otak atau akademik tidak kalah luasnya. Namun jangan keliru dalam mengarahkan hingga memaksakannya. Ingatlah talenta setiap individu itu unik, tidak sama.

Prestasi tidak mesti harus bisa diraih hari ini, tetapi butuh proses. Oleh karena itu ketangguhan mental sang juaralah yang akan membuatnya mampu terus belajar dan berjuang. Jadi kalau anak kita tak juara hari ini janganlah dipatahkan asa dan semangatnya. Tunggulah saat di mana ia mencapai performa terbaiknya, hari ini atau besok, bulan ini atau bulan depan, tahun ini atau tahun depan, remaja atau saat nanti dewasa. Yakinlah kehebatannya akan muncul.

Kita tahu Einstein seorang ahli fisika yang terkenal dengan teori relativitasnya, bagaimana orang seluruh dunia dan sepanjang masa mengakui kehebatannya. Bagaimana kondisi masa lalunya sebelum ia menjadi orang hebat? Kontras sekali kan?! Anak kita mungkin tak akan sehebat dia. Tapi setidaknya ia punya kelas tersendiri dalam hidupnya untuk menjadi sang juara, menjadi orang hebat. Bahkan diri kita juga memiliki potensi kehebatan kok. Coba renungkan kita hebat dalam hal apa? Sudahkah kita mengoptimalkan itu?

Melejitkan diri rupanya tidak ada istilah terlambat. Sudah tua, seumuran kita ini, juga masih memiliki potensi yang mungkin masih terpendam. Ingat mbah Surip almarhum yang tenar dengan lagunya itu? Dia terkenal setelah ia ada dipenghujung usianya karena ia tak pernah surut untuk memupuk dan menapaki talenta diri. Jadi janganlah kita berdiam diri tak mau menggali potensi diri kita, lebih-lebih dengan anak kita. Yuk kenali sedini mungkin potensi diri dan kehebatan seorang anak yang bisa dicapai agar tidak seperti kita sekarang ini.

Iklan

One response

  1. Juara tidaklah penting tapi pengalamannya yang penting