Gara-gara Soal Multiplechoice

urip.wordpress.com

Mengapa bimbingan belajar untuk siswa SD sampai SMA hingga menjelang seleksi masuk PTN tetap subur? Adakah ini kaitannya dengan UN yang terus dipertahankan pemerintah itu? Saya tidak anti lembaga bimbingan belajar, tapi anak-anak saya tidak satupun yang saya ikutkan, cukup dibimbing dirumah saja. Kecuali untuk mengasah berbahasa Inggris. Jika UN ditiadakan masihkah lembaga itu diperlukan?

Bahasan tentang lembaga bimbingan belajar sudah lama dipolemik-kan. Biar sajalah mereka eksis. Toh masyarakat ada saja yang memerlukan mereka. Apakah ini pertanda pembelajaran di sekolah tidak efektif, apakah guru-guru di sekolah tidak cukup memberikan pembelajaran yang mampu mengantarkan siswa sukses dalam setiap tantangan atau ujian? Lalu seberapa besar peran sekolah mengantar siswa berhasil?

Orang tua mana tidak berharap anaknya sukses dalam pendidikannya. Meskipun sudah disekolahkan di sekolah terkenal tetap saja belum percaya diri. Masih harus di leskan, kalau perlu les privat. Jadi ini indikasi bahwa orang tua banyak yang belum percaya kepada sekolah formal. Kecuali orang tua siswa yang di wilayahnya tidak ada lembaga bimbingan belajar. Orang tua lebih bernafsu dibandingkan anaknya soal kesuksesan pendidikan anaknya. Wajar.

Tapi dengan kondisi seperti itu mengapa banyak sekolah yang tidak menaruh perhatian akan fenomena semacam itu, fenomena ada anak les di luar jam sekolah lagi. Bukankah itu bukti bahwa di sekolah siswa/ortunya belum puas dengan layanan yang diberikan sekolah? Tak ada larangan memang untuk les di luar jam sekolah. Sekolah yang tak sensitif maka akan menjadikan lembaga bimbingan belajar sebagai partner mengantarkan siswa meraih sukses. Sukses untuk lolos dari ujian yang menvonis. Sebatas itu?!

Apakah benar pelajaran di sekolah waktunya memang kurang memadai sehingga perlu tambahan waktu ekstra? Bagi guru pelajaran “momok” itu adalah berkah atas ke-momok-an pelajaran yang diajarkannya di sekolah. Ia bisa membuka les di rumah atau di lembaga yang ia punyai. Memang tidak ada yang maksa, yang maksa justru orang tua agar anaknya diberikan bimbingan ekstra. Boleh jadi biaya untuk bimbingan di luar jauh lebih mahal dibandingkan kalau digunakan untuk biasa sekolahnya. Apa kata si anak, mereka malah jenuh dengan “paksaan” seperti itu.

Dengan terpaksa anak mencoba mengikuti kemauan orang tuanya. Pasti ia sendiri akan bangga kalau prestasi di sekolahnya menjadi yang terbaik. Toh ujian-ujian yang akan dihadapinya dapat diakali dengan cara-cara “luar-biasa”. Tak sedikit yang pada akhirnya kelimpungan dan keteteran saat mengikuti perkuliahan di jenjang berikutnya. Karena ujian masuk perguruan tinggi juga hanya menjawab soal yang bisa diakali meskipun tak tahu dasarnya.

Jadi motif belajar kebanyakan siswa yang juga didukung orang tua hanyalah ingin lolos dari lubang jarum, ujian nasional atau SNMPTN. Padahal semestinya itu harus dilalui dengan proses “berdarah-darah”, yang diindikasikan dari hasilnya lewat ujian-ujian tadi. Bukan melalui jalan pintas yang tak berdasar. Tidak dapat disalahkan mereka menempuh cara seperti tadi, sebab sistemnya berjalan memang seperti itu. Ujian dengan soal multiplechoice!

Menurut saya penyebab jumlah penduduk yang banyak sehingga semua ujian mulai dari sd sampai ujian masuk perguruan tinggi menggunakan model soal multiplechoice. Kepraktisan dan mencakup banyak pokok bahasan adalah juga alasanannya. Anak separah apapun kemampuan kognitifnya pasti bisa menjawab, entah benar atau salah. Jadi inilah dampak model soal itu, bisa diakali, bahkan dengan teknik hitung kancing bajupun.

Jadi model soal juga bisa memberikan peluang jalan pintas untuk bisa melalui ujian-ujian itu. Ada istilah smart solution dan lain-lain. Masuk akal dengan sedikit akal-akalan, praktis, dan benar. Siapa yang tidak kepincut cara seperti itu. Toh hanya bertujuan untuk melewati lubang jarum. Urusan belajar selanjutnya bisa dipikirkan kemudian. Jadi tujuan belajar selama ini hanya untuk lolos dari lubang jarum, bukan mencari bekal kehidupan. Ah sok idealis jadinya!

Lalu mengapa harus ada ujian, harus ada lubang jarum yang harus dilalui hanya dengan menyilang atau menghitamkan bulatan? Bukanlah ujian itu dilaksanakan untuk mengukur kemampuan siswa? Menyeleksi siswa berpotensi agar dapat diajari hal-hal lebih lanjut untuk bisa menatap kehidupan ini? Peruntungan nasib ditentukan lewat penghitaman bulatan kecil dari ujian-ujian itu. Apakah sekarang belum saatnya untuk memikirkan sistem ujian yang lebih manusiawi? Kapan lagi semua itu akan membaik?

One response

  1. lembaga bimbel memang benar sebagai mitra bagi sekolah. karena sekolah fokus pada pennyesaian mater belajar agar cukup satu semester, sehingga waktu masih kurang untuk membahas cara mengatasi soal2 ujian. sementara lemaba bimbel fokus pada cara mengatasi masalah secara cepat dan tepat. jadi mereka tetap dibutuhkan oleh masyarakat. kita jangan memvonis. biarlah masyarakat yang menilai. yang penting jangan ada aksi tipu – tipu. tapi berlaku jujur.