Idealisme Guru, Masih Punyakah Saya?

urip.wordpress.com

Guru yang profesional sudah jelas platformnya. Tapi berapa banyak kita guru yang sudah memenuhinya? Idealisme guru harus terus dituju oleh siapapun yang memiliki profesi ini. Saya juga. Walaupun banyak di antara kita yang baru saja terhenyak dari alam lain bahwa guru itu semestinya adalah begini dan begitu. Itu lebih baik disadari sekarang dari pada tidak sama sekali.

Selama ini sering menyoroti beberapa ketakberesan di sekitar saya melalui tulisan. Anehnya menulis hal-hal tentang ketidakberesan itu merupakan hal yang sangat mudah. 🙂 Seperti komentator sepak bola, banyak komentarnya, tapi dia sendiri gak becus main juga. Tapi saya bukan tipe seperti itu :D. Dia hanya mengandalkan analisis berdasarkan data, fakta, atau bahkan dari berita, cerita atau katanya. Saya suka mengomentari ketidakberesan sekaligus memberi solusi, walaupun saya sadar tak memiliki daya kecuali apa yang ada dalam diri saya sendiri. Barangkali mereka bilang siapa lu sok memberi solusi.

Benar kalau menyingkap keburukan pihak lain itu gampang bahkan ngacir jika dituliskan. Sementara keburukan diri sendiri katanya sulit. Oh ya?! Coba ada yang berani mengkorek keburukannya sendiri? Hahaha aib sendiri kok dibuka. Tapi kalau membukanya untuk mendapatkan pelurusan dan diberi jalan oleh pengkritik, teman-temen yang baik hati misalnya, why not?! Semoga saya sebagai guru termasuk yang bisa menerima kritik dan saran untuk perbaikan diri sendiri.

Manusia memang tak ada yang sempurna, tapi wajib memperbaikinya agar menuju kesempurnaan. Itu seharusnya, itu idealnya. Tapi kita sering lalai akan hal itu. Saya (guru) juga seperti itu. Adakah kita berprinsip hari ini harus lebih baik dari kemarin? Ok saya persempit, sudahkah kita e… saya mengajar dengan baik hari ini. Halah mengajar yang baik itu gimana coba? Yang jelas bisa memberikan layanan terbaik bagi siswa-lah itu sudah lumayan.

Bagimana cara memberikan layanan terbaik buat siswa? Apakah harus memberi kunci jawaban saat UN? Halah balik ke UN lagi bosan dah. Layanan terbaik itu di antaranya adalah dengan menyiapkan diri sebaik mungkin sebelum mengajar, tidak asal masuk kelas saja. Tidak hanya persiapan yang basa-basi saja. Tapi sudah punya skenario yang paling enjoy bagi siswa sehingga mereka bisa menikmati proses pembelajaran yang kita bawakan.

Contoh kongkrit, menyiapkan diri untuk memberikan layanan terbaik kepada siswa saat mengajar, misalnya: mandi yang bersih, berbaju rapi, aroma yang wangi, tidak lupa gosok gigi :). Ini hal kecil tapi kalau tidak disiapkan dengan baik akan mengurangi layanan selama mengajar. Selanjutnya adalah kesiapan materi yang akan kita ajarkan, siapkan sebaik mungkin, kalau perlu jauh hari, seperti slide presentasi dan pendukungnya kalau memang harus menggunakannya.

Ketepatan waktu masuk kelas juga termasuk layanan terbaik bagi siswa. Sapaan sopan, dengan sesungging senyum menawan (ah lebay) dan terterbar merata tanpa membedakan siswa. Itu juga layanan terbaik yang semestinya guru-guru suguhkan setiap dia masuk ruang belajar. Perlu pembiasaan agar konsisten. Memang sih kita secara pribadi kadang punya masalah sendiri yang tentu sedikit banyak akan mempengaruhi performa mengajar kita. Semestinya kita menaggalkan barang sesaat, kita sedang melayani penerus bangsa.

Disaat proses belajar mengajar siswa tentu akan bosan dengan pelajaran menjemukan. Peran guru dalam membawakan materi pelajaran dengan enjoy, diselahi humor segar, dengan sesekali membuat kejutan kepada siswa agar siswa selalu siap. Selain itu hal penting lain guru mestinya sudah punya pengalaman tentang cara menguasai materi, tips, dan prinsip materi pelajaran inilah peran guru sebagai fasilitator itu. Dengan menggunakan analogi atau contoh berkesan juga akan membantu siswa mudah memahami konsep. Untuk itulah maka guru juga perlu menambah wawasan lain selain apa yang harus ia ajarkan.

Secara prosedural perlu memberikan review tentang bahasan sebelumnya jika memang ada kaitannya, terserah tekniknya bagaimana, sebelum menyampaikan pelajaran berikutnya. Hal ini penting setidaknya mengingatkan siswa, memberikan kesiapan belajar untuk materi berikutnya. Begitu pula saat mengakhirinya kita perlu membuat review tentang apa yang barusan di pelajari. Ini normatif tapi penting sekali. Semua itu akan kurang memberikan pengaruh bagi keberhasilan siswa jika tak disampaikan dengan ladasan keikhlasan.

Pemberian kesan mendalam selama proses pembelajaran untuk semua siswa dengan landasan keikhlasan pasti akan berefek pd psikologis siswa agar apa yang kita sampaikan berbekas. Bahkan akan menjadi sesuatu yang tak terlupakan. Pernahkah anda mendapatkan guru hebat seperti itu? Hem… saya pernah merasakannya dari guru kimia saya saat sma dulu. Mari kita terus memberikan layanan terbaik bagi siswa dengan cara yang benar. Introspeksi setelah kegiatan proses pembelajaran juga tidak kalah pentingnya. Yang perlu diperhatikan, sudahkah proses tadi membuat siswa bersemangat merasa enjoy? Sayangnya saya dan mungkin guru lain tidak selalu melakukan hal itu secara konsisten, dan simultan. Kapan lagi kalau tidak sekarang, kita permak diri secara internal untuk memberikan yang terbaik dari kemampuan yang kita miliki.

Manusia, guru adalah tempat kekurangan, tapi upaya memperbaikinya adalah kemulyaan. Mari bimbing mereka dengan keikhlasan dan kesungguhan.

Iklan

One response

  1. Saya sangat appreciate dengan tulisan ini. Ya saya juga sedang menatap diri saya dan bertanya dengan pertanyaan yang sama dengan P Urip. Kadang terfikir oleh saya jangan2 siwa2 bermasalah itu kloningan saya, karena selama ini saya salah satu yang menuangkan teko ke dalam gelas2 hati murid2 saya. Jika kita meminta murid2 untuk berbenah, maka kita juga mestinya berbenah lebih dulu. Salam super