Menulislah Ketika Tidak Punya Ide untuk Ditulis

urip.wordpress.com

Menulislah ketika anda tidak punya ide untuk ditulis, 🙂 (apa lagi kalau sedang punya ide). Dengan begitu otomatis ide kita akan muncul. Apa iya?! Setidaknya menulis opini tentang sesuatu atau berbagi apa saja. Seperti tulisan saya ini. saya hanya menuliskannya. Tema ‘menulislah ketika kita tak punya ide untuk ditulis’ ini akan meluncur, mengalir menjadikan itu sebuah tulisan. Itu kalau dilanjutkan. Maksa amat yah?!

Judul atau tema kontraversial kerap menyimpan kekuatan yang kalau kita kelola itu jadi tulisan, dan itu juga akan jadi ide. Jadi kalau kebahisan ide (apa bener ide bisa habis?) buatlah tulisan dengan tema atau judul yang kontroversial, seperti itu, saya menuliskannya begitu saja, selanjutnya saya akan ‘peras otak’ ( 😀 seperti cucian saja) untuk mengkoneksikan apa yang saya tahu sehingga saling berhubungan dan jadi sebuah tulisan. Ini adalah kata hati saya untuk menuliskan hal tadi. Artinya orang yang mengaku tak bisa menulis pun akan bisa lakukan hal yang sama dengan cara kurang lebih seperti tadi.

Bayangkan ketika tiba-tiba disodori sebuah kertas kosong dan sebuah pena, kemudian kita diminta menuliskan tentang keduanya itu? Apa yang anda bisa tuliskan atau ceritakan? Kita akan memandang dan membuat persepsi keduanya. Menceritakan keadaan fisiknya, keberadaan letaknya, kerelatifan antar benda yang ada disekitarnya, semua itu bisa jadi bahan cerita tulisan kita.

Apakah kita punya ide ketika disodori dua benda, kertas kosong dan pena tadi? Tidak kan? Tapi hanya dengan memperhatikan fisiknya kita bisa menulis banyak hal tentang benda itu. Hanya dengan memperhatikan eksistensi keduanya. Artinya ide itu ada di mana-mana, tinggal kita mau tangkap atau tidak. Munculnya ide itu kita sendiri yang mengkondisikan kok. Tak perlu nunggu inspirasi atau moody, moody, mau di apain?! Hehehe.

Lalu bagaimana menghubungkan antar hal yang tidak nyambung? Semua benda atau hal sesungguhnya memang tidak saling menyambung. Tapi karena semua saling memancarkan auora maka auoranya akan saling berbaur. Di situlah kemampuan kita melihat irisan kedua auora tadi. Jadilah antar hal bisa kita hubungkan melalui irisan auora. Hem… ngertikan maksud saya?! 🙂 Kelihaian memilih kata untuk menghubungkan keduanya menjadi kalimat berderet-deret dan bermakna.

Menulis itu sama dengan melukis, melukis yang di tampilkan melalui kata dalam kalimat. Boleh jadi sesungguhnya tidak saling berhubungan. Deretan kata tak akan bermakna jika kita tidak memiliki ‘kimia’ menulis. Bagaimana kita bisa melukis lewat kata, itu perlu dilatih terus menerus. Pakailah kata, kalimat, yang membuat pembaca benar-benar melihat lukisan yang anda buat, melihat suatu keadaan hanya dari tulisan. Mari belajar melukis lewat kata dan mederetkannya menjadi kalimat. Tak perlu banyak tanya dan basa-basi, lakukan, terserah tentang apa buatlah tulisan. Maksa nih?! Rasakan kehebatan diri anda lewat tulisan.

Lalu bagaimana ketika menulis kemudian mengalami kemacetan, benar-benar macet, seolah tak punya bahan lagi untuk melanjutkan tulisan. Saya kira itu analog ketika anda naik kendaraan kemudian jalanan macet. Apa yang anda lakukan, apa hanya menunggu tanpa akitaivitas lain? Setidaknya anda pasti memikirkan sesuatu kan?! Ok tuliskan apa yang anda pikirkan itu meski tak ada kaitannya dengan tema tulisan. Selanjutnya suatu ketika anda akan mendapatkan jalan, atau belokan yang mengarah pada tujuan menulis semula.

Sama halnya ketika saat berbincang lantas kita sudah tidak enjoy dengan topik bahasan, berhentilah! Beda dengan kondisi macet tadi. Kalau sudah tak enjoy rilekskan badan. Coba ganti tema lain kalau masih mau menulis. Jadikan tulisan sebelumnya sebagai draft yang akan anda lanjutkan di lain waktu. Ini kebiasaan saya, saudara boleh ambil jalur lain kok hehehe.

Bisa gak kira-kira kalau menulis yang sebelumnya tak ada ide dengan cara seperti tadi?

Iklan

One response

  1. saya menulis ketika peraasan ini sedang ingin menulis. entah karena lagi patah hati, senang, emosi dll. justru dengan menulis itu lah hati ini menjadi terhibur (halah)
    😀