Mental Kalah dan Mental Menang

urip.wordpress.com

Luar biasa bangganya seorang pencetak gol dalam pertandingan sepak bola, sementara itu penjaga gawang kecewa tak terkira ketika gawangnya kebobolan. Itulah perasaan yang terlihat ketika kita menonton setiap pertandingan sepak bola.

Dalam pertandingan atau perlombaan, selalu saja ada luapan kegembiraan kemenangan dan beku kesedihan kekalahan. Hanya yang bermental kuat yang akan kokoh walaupun menelan pil pahit, kekalahan. Bertanding dan berlomba dengan mental baja sudah harus tertanam sejak dini. Menang-kalah hanya soal keberuntungan saja. Semua sudah berusaha. Namun sering kita lupa diri dengan sebuah kemenangan. Tak perduli dengan pihak yang kalah. Manusiawikah ini? Ketika kemenangan sedang berpihak, kita sering egois, egois yang meluap tak tertahankan, padahal itu dapat melukui perasaan rival kita. Tapi itulah sebuah pertandingan. Kalimat “menang atau kalah itu sudah biasa” adalah kalimat penghibur yang tak menghibur. Kita toh tetap kecewa ketika kalah.

Kemarin si kecil kecewa, ngambek hanya karena tidak menang dalam perlombaan di sekolahnya. Ia iri ada temennya yang mendapatkan piala. Ia tak tahu bahwa pemenang itu hanya 1-3 orang, yang tidak menang lebih banyak. Artinya yang senasib dengannya jauh lebih banyak. Sayang itu belum disadari oleh si kecil. Kami menguatkan mentalnya, yang penting ia sudah berusaha dan masih harus terus belajar. Demikian pengokohan kami kepadanya.

Bujukan untuk dibelikan sesuatu sebagai hadiah karena usahanya walau tak menang bisa menghiburnya, ternyata tidak bisa juga. Ia tak mau. Apakah dia sudah mengerti arti dari sebuah penghargaan? Penghargaan memang tak terbeli tapi harus diperjuangkan. Barangkali teladan dari sang kakak bisa tetap menyemangatinya. Sang kakak dulu sering tak menang dalam suatu lomba, namun karena rajin berlatih perlahan kemenangan memihaknya. Semoga kau mengerti anak-ku.

Sang kakak berkali mengikuti lomba, awalnya kalah dan kalah lagi. Suatu ketika ia berhasil menempati juara harapan 1, juara 1 tapi baru berharap, terus dan terus hingga ia bisa meraih juara 3. Dan kini sang kakak bisa mengeser rivalnya, ia menempati peringkat pertama. Semua itu diraih dengan berlatih, tidak diam dan larut dalam kekecewaan karena kekalahan. Kami sempat mengira dulu sang kakak tak punya mental bersaing ternyata itu keliru. Semoga si kecil juga memahami ini.

Selama ini kami bersyukur, pemberian semangat dan usaha yang getol dapat mengantarkan sang kakak meraih kemenangan. Tapi lebih bersyukur rupanya itu bukan jadi beban buatnya. Setidaknya itu menurut pengakuannya. Ia mengerjakannya tanpa sebuah target untuk menang. Tapi yang sudah ditekadkannya adalah menaklukkan setiap soal dalam perlombaan bukan untuk bersaing dengan rivalnya. Sang kakak berlomba dalam penaklukkan soal-soal bukan prestasi fisik.

Itulah keunikan anak-anak, kehebatannya muncul kepermukaan dengan beserta keunikannya. Anehnya orang tua sering tak menyadari itu, tak menyadari keunikan dan kehebatan ada pada setiap individu. Kita lebih sering menyeragamkannya. Semakin banyak variasi lomba atau pertandingan akan memberikan kans yang adil bagi setiap pribadi-pribadi kecil. Tapi semua memang harus dipersiapkan sejak dini. Berharap kelak ia mengerti arti sebuah perjuangan. Kita wajib menghargai perjuangannya walau ia menelan kekalahan. Jangan sampai sepeti kebanyakan orang tua sering berputus asa ketika kesuksesannya tak bisa dirahi. Yang juga perlu dipersiapkan adalah kesiapan mental ketika seorang anak meraih juara yang diinginkannya. Dia harus siap untuk bersaing lagi diajang berikutnya. Orang lain pasti akan berusaha untuk juga menikmati sebuah kemenangan. Suatu ketika kita akan berganti posisi dan mental kalah harus siap juga, sebab kita tak tahu seberapa besar usaha pesaing kita.

Menurut saya penggunaan kata bersaing tidak begitu bagus ditanamkan pada jiwa anak. Sebab itu akan menumbuhkan mental yang kurang sehat bagi jiwanya. Sebaiknya adalah bagaimana menumbuhkan mental untuk selalu memperbaiki prestasi diri, bukan karena ada saingan. Urusan juara atau tidak itu adalah efek berikutnya. Terjadinya sebuah perlombaan seharusnya ada dalam diri, bukan berlomba untuk mengalahkan lawan. Contoh yang saya maksud adalah perlombaan yang bersifat akademik. Tidak perduli sehebat apa rival kita, tapi dengan mengukur diri dengan pretasi yang tercapai sebelumnya itu adalah yang lebih fair. Jika ini tertancap pada jiwa setiap anak maka yang ada adalah upaya untuk membuat diri menjadi lebih baik, terus dan terus.

Penghalusan kata mental bersaing dan berdaya saing perlahan harus diperbaiki. Ini dimaksudkan untuk menanamkan sikap positif yaitu hanya untuk memberikan yang terbaik bagi penghargaan diri sendiri, menghilangkan rasa angkuh, sombong, dan besar kepala pada anak. Jadi urusan juara harus disadari sebagai keberuntungan dan kekalahan adalah kekurangberuntungan.

Iklan