Kesaktian Guru dan G-Spot

urip.wordpress.com

Saya guru. Dulu sewaktu kuliah memang tidak berniat mencari ilmu. Maklum belum begitu mengerti arti sebuah ilmu. Pokoknya bisa dapat nilai bagus seneng, syukur-syukur bisa jadi yang terbaik. Kuliah lagi bahkan jauh-jauh masih juga salah niat. Niatnya cuma pingin dapat bandwidth internet lega, agar dapat mengakses internet sambil dan santai. Harap maklum sebelumnya tinggal di tengah hutan. Jadi kuliah itu bukan yang utama, kuliah jadi kegiatan sambilan. Akibatnya ilmu cekak, cetek, dan dangkal. Begitu berkesempatan untuk menulis beralasan tidak menulis tentang bidang ilmu yang pernah dipelajari. Alasannya takut ketahuan gak pinternya (memang menulis untuk pamer?!) Tapi… Ah tak ada kata terlambat harus belajar dari awal. Belajar menyelami menjadi anak sma lagi.

Sambil “mendalami buku sma” akhirnya berkesempatan untuk membuat catatan-catatan kecil dari sebuah buku. Wao…, Nggaya banget kan belajarnya?! Biarin!

Selama mengajar kimia dengan acuan buku kimia dari berbagai penerbit, ternyata saya bisa membuat penilaian. Aneh banget, padahal saya belum pernah membuat buku berskala nasional. Jadi seperti kritikus bisa mengritik tapi kayak tikus. Tapi saya yo gak mau dibilang tikus. Wong saya ini guru yang wagu tur saru saja :). Ada beberapa catatan yang sudah saya buat mulai dari kekeliruan, kekurangtepatan, dan kekurangnyamanan jika dibaca siswa. Manusiawi banget-lah wong saya sendiri belum pernah membuat seperti itu.

Sekarang bukan hal itu yang akan saya tulis.

Uji kompetensi guru melalui jalur sertifikasi guru yang lulus dengan ditandai dengan penyerahterimaan selembar sertifikat. Bisakah itu dipercaya? Hahaha. Menurut saya ada yang menyimpang tidak sesuai dengan harapan, tidak banyak, hanya beberapa saja! Bahkan suatu ketika oleh lembaga pemerintah yang memberikan ujian untuk mengerjakan soal untuk siswanya (soal selevel UN) ternyata guru-guru tersebut memble hasilnya. (Jangan bilang-bilang yah saya gak ikut dites loh, kalau dites saya (guru) juga gak jauh beda dengan guru-guru itu). Lah seperti itu apa bisa dikatakan guru berkompeten. Apalagi kalau mau dinilai performa mengajarnya? Mereka, guru-guru itu (lah saya juga guru je), sering kali mendapat pelatihan atau penataran tentang metode mengajar atau sejenisnya. Lah bagaimana mengajar bisa berperforma baik wong materi yang akan diajarkan saja mereka tidak kuasai.

Sekarang saya melihat diri saya dan rekan guru di sekitar saya saja kalau diminta mengerjakan soal UN apalagi soal olimpiade banyak yang gak bisa menyelesaikannya. Padahal mereka itu sudah bersertfikat. Kenapa saya bilang begitu, saya saja bisa beralasan karena lama gak mengajar materi itu, sudah lupa. Sambil beralasan begitu tanpa rasa bersalah apalagi berdosa. Itu saya (guru). Meskipun guru adalah manusia dewasa yang semestinya sudah harus tahu apa yang harus dilakukan agar memiliki kemampuan mengajar yang baik (termasuk penguasaan materi tentunya) tapi nyatanya mereka wegah juga belajar lagi. Alasannya tidak sempat. Nah ini bedanya dengan saya, saya masih mau belajar. Bahkan saya punya semboyan atau apalah namanya, BELAJAR untuk MENGAJAR, dan MENGAJAR untuk BELAJAR. Bedakan?! Saya (guru).

Bahkan ada yang berkelar, guru itu kepintarannya dengan siswa hanya beda semalam. Sebelum mengajar guru cukup membaca sebentar apa yang akan diajarkan pada malam sebelum esoknya ia mengajar. Weh lah malah ada yang lebih hebat ia membaca saat mengajar, begitu ada sesuatu yang dia tidak mengerti glagapan lalu berdalih di depan siswanya. Canggih banget tuh guru. Maaf kalau yang begini ini saya (guru) tidak termasuk di dalamnya.

Loh bukannya kalau guru mengajar perlu membuat persiapan mengajar, harus punya program tahunan hingga rencana program pembelajaran? Bukannya guru juga harus menyiapkan materi yang akan diajarkan termasuk kesiapan sarana dan lain-lainnya? Hahaha belum tahu dia? Kepala sekolah juga cuma mengingatkan agar membuat segala perangkat pembelajaran di setiap awal tahun pelajaran atau setiap awal semester. Yah sudah, semua itu sudah dipenuhi dan dilengkapi, bahkan komplit-plit! Nah masalahnya adalah semua itu bukan hasil buatan guru itu sendiri. Ia menyalin dari rekan guru lain di sekolah lain bahkan mungkin dari daerah lain. Setelah dicetak, diketahui kepala sekolah, ditumpuk dan gak pernah dibuka lagi. Mengerti kan?! Itulah saya guru Indonesia Raya.

Tahu kira-kira berapa persen guru yang seperti saya tulis itu? Saya yakin tidak ada! Kecuali guru-guru itu, yah guru-guru yang saya tulis di blog ini saja. Cuma temannya yah banyak hahaha.

Yang saya heran program pemerintah tentang kondisi seperti itu kok tidak menyentuh sampai bagian paling sensitif yah? Bukankah para pemikir di atas sana banyak dan sudah mengerti? Apa mereka tidak tahu G-spot pendidikan itu di bagian mana? Kalau belum tahu saya tunjukkan. G-Spot pendidikan itu yah di selangkangan tubuh pendidikan, tepatnya di antara kedua pangkal kaki pendidikan. Masih belum tahu juga? Wis nih… di guru! Guru seperti saya ini. Berikan suplai energi yang cukup dan ajak olah raga teratur kedua kaki pendidikan itu. Maka dengan sendirinya G-spotnya jadi yahut dan bisa memberikan layanan memuaskan. Dijamin dah! Halah ngomong opo toh iki, Wis ah!

Wassalam

Guru di tengah belantara.

3 responses

  1. tulisan khusus dewasa ni ya pak,
    ibarat pertandingan mesti ada wasit, ibarat ibadah pasti ada yang ngasih pahala ( hehe paha lagi)…ibarat buruh ada majikan yang memberi upah….lha sekarang ngajar gak ngajar, kompeten gak kompeten, disipilin gak disliplin, kreatif kag kreatif gak ada bedanya….
    untuk apa belajar..?
    untuk apa rajin..? toh gajinya sama yang penting punya sertifikat profesional

  2. dulu sempat terdengar pemberian insentif berbasis kinerja tapi sampai kini tak ada bukti. Akibatnya ibarat barang KW1 dan KW3 harga sama bahkan yg rongsokan pun dihargai sama jg. Tapi kayaknya pemerintah gak pernah meras rugi jg i… Tapi inilah Indonesia raya tanah air kita.

  3. saya pernah menghentikan pembicaraan seorang guru, yang selalu mengoreksi kebijakan atau aktivitas teman sejawatnya dengan,” menurut pengalaman saya…..”
    Apa saja selalu dikomentari negatif dengan “Menurut pengalaman saya…”, mentang-mentang senior
    suatu ketika, saya langsung berkomentar, “pengalaman itu hasil karya, pengalaman itu kinerja, BUKAN karena tua atau sudah lama…..bla..bla…”
    klakep… berhenti