Andai Saya Guru Bahasa Indonesia

urip.wordpress.com

Pagi ini tiba-tiba saya menghayalkan diri saya sebagai guru bahasa Indonesia di sekolah. Ini muncul karena barusan mengomentari status teman yang guru bahasa Indonesia. Terlintas begitu saja. Saya berpikir mengapa begitu banyak orang yang setiap ia sekolah dan sudah lulus sampai jenjang tertinggi pun mengalami kesulitan menulis. Adakah yang salah dalam pengajaran dan pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah terutama yang terkait dengan keterampilan menulis dan kebiasaan menulis.

Saya coba mencari tahu dari pembelajaran bahasa selama saya bersekolah dulu sambil bernostalgia sendiri. Di antara guru bahasa Indonesia yang sangat terkesan buat saya hingga sekarang hanyalah guru bahasa Indonesia saat SMA dulu, Pak Supriyadi. Beliau sangat rajin menulis, jauh lebih rajin dibandingkan guru lainnya meskipun sesama mengajar bahasa. Berbagai karya tulisannya sering nongol di surat kabar lokal. Bahkan majalah dinding sekolah tadinya tidak ada menjadi ada dan menjadi semakin semarak berkat upaya beliau. Sayangnya waktu itu saya belum mendapatkan tips untuk menulis, dan saya juga gak pernah bertanya meskipun ingin tahu. Budaya siswa Indonesia kebanyakan memang begitu kan?! Belakangan saya menyadari dan tahu tips menulis itu bagaimana, hanya menulis dan menulis. Nah loh tadinya saya sudah janji tidak akan menulis tentang menulis lagi. Tapi ini sekedar cerita bukan detil bahasan tentang cara menulis kok.

Selama di sekolah dasar pembelajaran bahasa memang belum terlalu fokus tentang bagaimana menuangkan ide atau gagasan, ada sih dulu pelajaran mengarang. Awalnya memang diajari cara membaca dan menulis yang diinginkan guru. Semua tahu-lah itu, bagaimana pelajaran di sd. Yah mengarang tentang tema yang ditentukan atau dibebaskan memilih. Memasuki jenjang sekolah menengah pertama belajaran lebih banyak fokus ke tata bahasa, dan sastra. Berlatih tata bahasa dengan EYD-nya itu. Untuk sastra belum begitu kuat tuntutan untuk membuat karaya sastra walau sederhana. Malah waktu itu lebih banyak menghafal karya-karya sastra, pujangga-pujangga besar, bahkan sesekali diminta menghafal puisi, pantun. Pernah suatu ketika ada lomba menulis tingkat sekolah, lomba mengarang. Saya mengikutinya dan menang. Sudah sekali itu saja saya menulis atau tepatnya mengarang dalam ajang lomba. Selebihnya tidak pernah sama sekali. Masuk ke sekolah menengah atas, kondisinya tidak jauh beda cara pengajaran bahasanya.

Kegiatan tulis-menulis untuk siswa sepertinya masih belum menjadi fokus pelajaran bahasa Indonesia. Lebih nyata hal ini (tulis-menulis) pada ujian nasional yang dulu sempat ada, kini malah ditiadakan. Padahal kemampuan berbahasa Indonesia akan sangat mudah dilihat dan dinilai dari hasil tulis-menulis. Kemampuan berpikir, penggunaan tanda baca, pilihan kata, tata bahasa, dan lain-lainnya sangat nampak di sana. Tapi begitulah keadaannya sekarang. Kemampuan berbahasa Indonesia hanya dilihat melalui kemampuan memilih jawaban yang tepat sesuai kunci jawaban. Bagaimana ini bisa menumbuhkan kemampuan menulis siswa. Jadi pantaslah kalau kemampuan menulis orang kebanyakan sangat buruk, lebih tepatnya malas menulis, tidak bisa menulis. Alasan itu pula yang mengokohkan diri kebanyakan orang Indonesia untuk tidak mau menulis. Selama sekolah tidak ada pembiasaan menulis, apalagi keterampilan menulis. Walaupun sekedar untuk mengungkapkan perasaan saja kesulitan.

Bagaimana mengubah semua itu? Siapa yang berperan utama dalam membiasakan budaya menulis? Mulai kapan? Semua pertanyaan itu terjawab melalui dunia pendidikan, pelajaran bahasa Indonesia. Apakah harus melalui pelajaran bahasa Indonesia? Tentu tidak harus pelajaran apapun bisa memanfaatkan pelajarannya dengan gaya menuliskannya. Menuliskannya apa yang dipelajari dan apa yang dikuasai siswa. Ah terlalu tinggi kalau yang terakhir itu.

“Andai saya guru bahasa, siswa akan saya minta membuat tulisan bebas setiap minggu atau sebulan sekali. Tulisan tentang apa saja dari siswa, yang penting orisinal, akan saya bukukan semua. Itu akan jadi bahan belajar bersama di sekolah. Inilah pelajaran bahasa Indonesia yang akan memberikan pembelajaran menulis yang sesungguhnya. Menurut saya kuncinya adalah bebaskan gaya menulis siswa, itu dapat jadi bahan kupasan menarik di kelas nantinya. Saya juga akan rajin menulis agar bisa dijadikan teladan bagi siswa saya”. Demikian tulisan pada dinding facebook saya pagi ini.

Tapi saya bukan guru bahasa Indonesia. Jadi teringat sewaktu menonton acara Kick Andy di MetroTv. Ada seorang guru fisika yang mengajarkan pelajaran fisika kepada muridnya dengan cara membuat cerita. Cerita dari apa yang ia pelajari, bahkan menggunakan personafikasi apa yang dipelajari. Sangat menarik. Saya mengajar kimia, akan saya coba juga nanti. Akan? Yah akan, Sebab sekarang saya sedang berlibur, tidak mengajar. Tahun ini saya mengajar kimia dan TIK untuk siswa kelas 12, mereka selesai ujian nasional, kini tinggal menunggu kelulusan UN-nya.

Mari membudayakan menulis dengan apa yang kita ajarkan, pelajaran apapun itu.

5 responses

  1. Kalau kita mau mengakui maka sebenarnya kompetensi berbahasa guru-guru masih dalam taraf memprihatinkan seperti tulisan di http://ictbartim.wordpress.com/2010/10/30/kompetensi-berbahasa-guru-kita/.
    beruntung saya di beri jatah mengajar bahasa, saya bisa mengajak anak-anak untuk menulis dan mengasah ketereramilan pragmatis berbahasa. dengan biaya sendiri saya buat mading sekolah, saya apresiasi karya-karya siswa yang mengirim artikel di mading. konsekuensinya saya harus ikut menyemarakkan isi mading dengan ikut menulisnya. bukan hanya itu, saya juga mengajak siswa untuk berani membuat blog dan menulisnya. beruntung saya ketemu GURU URIP yang memotivasi saya untuk menulis dan menulis. walaupun saya sadar tulisan saya jika dikoreksi guru bahasa akan mendapat nilai rendah.
    terima kasih “kang petruk”, demikian pamggilan saya kepada PAK URIP dulu saat menggunakan gravatar gambar petruk

  2. Pak Urip. Saya termasuk yang bertanggung jawab. He.. Benar-benar senang baca pandangan Pak Urip mengenai hal-hal ini. Sebagai ilustrasi, ketika kuliah dulu, mata kuliah menulis dan membaca sampai dipelajari di tiga semester awal oleh mahasiswa jurusan kami. Hasilnya beberapa berhasil memenangkan sayembara novel DKJ, lomba tulis puisi Disbudpar Jabar, lomba baca puisi Piala Rendra, dll. Tapi terus terang keberhasilan beberapa teman itu diraih di luar kelas.
    Sama seperti Pak Urip mengenai Pak Supriyadi, keteladanan dari gurulah yang membuat peserta didik tergerak hati dan tangannya. Tentu mencari teladan di negara ini gampang-gampang susah. Saya Insya Allah telah menjalankan saran Pak Urip dengan buku proyek menulis dan membaca bulanan (telah berjalan dua tahun). Hasilnya luar biasa karena buku yang saya sediakan 15 lembar, penuh berisi tulisan dengan tema beragam, namun masih ada siswa yang hanya sekedar memenuhi kewajiban menulis dan membaca.
    Mading sekolah kami pun alhamdulillah telah rutin bergulir mingguan bahkan diprogramkan untuk kelas-kelas sebagai kontributornya.
    Terima kasih sudah mengingatkan Pak Urip, semoga bisa ditingkatkan lagi mutu pbm mengenai menulis di sekolah kami. Terima kasih om!

  3. Willy Ediyanto

    Wah, banyak sekali yang terungkap. Saya termasuk yang bertanggung jawab juga dalam mengajarkan/mendidik siswa untuk menulis. Masalah di dalam dan di lura pelajaran ckup banyak. Kalau kemampuan menulis, sama dengan ak Urip, yang memotivasi dalh guru SMP saya, Pak Tasyam.
    Saya sendiri rutin mengumpulkan tulisan siswa berbentuk puisi, dongeng, cerpen, pengalaman pribadi, kemudian menyampulinya dan menjilidnya, lalu mendokumentasikannya d perpustakaan sekolah.
    Daalam pelajaran bahasa Indonesia, sebagian guru bahasa Indonesia mengajarkan menulis, seperti juga semua guru, membuat RPP dulu. Biasanya lengkap mulai dari menentukan tema, membuat rancangan, menuliskan, sampai menyuntingnya. RPP ini biasanya diberi aokasi waktu 2 atau 4 jam. “Mana cukup?” kata saya, si samping banyak memang guru yang tidak mampu menulis bebas. Kalau menuli laporan pun banyak yang kopi paste, kemudian mengubah sedikit ssuai kondisi.
    Nah, kembali ke yang tadi, siswa menulis pada selembar kertas buku, ternyata tidak banyak siswa yang di SD-nya dibiasakan menulis dengan memberikan margin kiri dan kanan. Akibatnya kalu dijilid ya tulisan mereka tertutup, tdak bisa dibaca.
    Ah, nanti saja lanjutannya, saya akan menuliskannya di blog saya. “Akan?” Ya karena belum tentu saya menuliskannya.

  4. Willy Ediyanto

    Dari kuliah? Sama saja, kuliah di jurusan bahasa Indonesia tidak menghasilkan penulis. Teman-teman yang aktif di koran kampus, penerbitan kampus, atau apapun namanya, justru banyak yang dari luar jurusan bahasa indonesia.
    Artinya, pembelajaran menulis hanya pemberian motivasi. Hasilnya, ……………………? Cukupkan 4 jam pelajaran saatu minggu di SMP dan di SMA berapa jam? akan menghasilkan penulis? Jawabannya tidak. Tapi guru bahasa Indonesia tidak perlu pesimis, Pak Urip justru mungkin bisa memotivasi mereka, anak-anak muda itu untuk jadi penulis hebat. Dan guru bahasa Indonesia tidak perlu kecewa.

  5. Mas Willy kan penulis. Saya baca bukunya, Guru Menggugat Mutu Pendidikan.