Guru Masih Buta Internet?

urip.wordpress.com

Hari ini IGI (Ikatan Guru Indonesia) menyelenggarakan atau tepatnya mendeklarasikan gerakan “Guru Melek Internet”. Suka saya dengan pernyataan yang menukik, jelas, gamblang seperti itu. Selama ini sering ada slogan atau gerakan-gerakan yang menggunakan kata berbumbu manis dan sedap tapi tak ada rasa di lidah, tak membumi. Hanya tiga kata, guru, melek, dan internet.

Guru, berarti jelas siapapun yang mengaku guru baik itu pengajar dari TK hingga SMA dan para dosen di perguruan tinggi ataupun pak ustadz atau agamawan yang tukang ceramah atau kuthbah itu. Bahkan siapapun yang memiliki peran mendidik atau membimbing manusia dalam pembelajaran layak disebut seorang guru. Membimbing manusia untuk mengubah dari tidak tahu menjadi tahu, yang sebelumnya tidak mengerti menjadi mengerti, yang tidak terampil menjadi terampil. Orang tua atau keluarga juga boleh disebut sebagai guru. Intinya adalah siapapun yang membimbing untuk perubahan ke arah yang lebih baik boleh disebut guru.

Melek, membuka panca indra, tahu, bukan hanya sekedar tahu tapi dapat menggunakan, memanfaatkan, dan sekaligus bisa memberikan konten ke dalam internet. Tidak cukup hanya satu arah, hanya mengambil, tapi harus bisa memberi sesuatu sebagai tanda imbal balik dari apa yang didapat dari internet. Pas banget dengan motto IGI,  Berbagi Untuk Tumbuh Bersama (Sharing and Growing togather).

Internet, dunia yang relatif baru yang mampu mengubah budaya dan kebiasaan masyarakat. Lahan informasi aktual dan faktual, yang baik dan buruk, semua ada. Informasi yang bisa dilihat oleh siapapun dan kapan pun ketika ada jaringan yang menghubungkannya. Informasi yang tak terbatas dan terus bertambah itu bisa berupa tulisan atau lisan (suara), media gambar statis atau bergerak, secara nyata atau tiruan, apapun itu yang dapat dikenali oleh panca indra manusia. Media penghubungnya adalah jelas menggunakan komputer atau perangkat lain.

Mengapa perlu gerakan seperti itu? Apakah banyak guru yang belum melek internet? Secara statistik saya tidak tahu. Tapi ambilah sampel kasar di sekolah saya saja memang masih ada yang belum begitu melek dengan internet. Tidak heran tentang email saja masih banyak guru yang belum tahu atau bagaimana menggunakannya. Seperti yang akhir-akhir ini dialami oleh anggota DPR itu. Tak perduli itu guru di kota apalagi di desa, pelosok pedalaman sini. Apalagi konten internet lainnya. Tapi semenjak jamannya facebook, perlahan guru-guru di sekitar saya juga penasaran dan akhirnya mulai bisa mengakrabinya. Saya sendiri baru mengenal internet baru di awal tahun 2000. Kondisinya belum semasif seperti sekarang. Itupun paling hanya untuk membaca berita tertentu yang tak mungkin didapatkan dari media lain. Mencari software atau sekedar diskusi (chatting) lewat mIRC atau yahoo messenger.

Bersyukur sekarang semakin mudah dan banyak layanan untuk bisa digunakan mengakses internet. Harganya pun semakin terjangkau. Kalaupun tidak mempunyai laptop informasi dapat menggunakan telepon genggam. Dengan penghasilan guru yang lumayan seperti sekarang tidak ada alasan untuk tidak bisa mengakses internet. Dan ini wajib disadari oleh setiap guru, sebab tunjangan yang ia terima itu memang diberikan salah satu niatnya agar guru bisa memperoleh informasi lebih, bisa meningkatkan pengetahuannya. Salah satunya adalah dari internet.

Dulu banyak rekan guru yang takut kalau bersentuhan dengan komputer apa lagi internet. Mereka sudah merasa tak mampu, takut rusak, tidak mengerti bahasa asing. Itu semestinya tidak boleh dijadikan alasan. Saya pun membuktikan bahwa benar tidak perlu takut atau rusak. Kini soal bongkar pasang banyak orang yang bisa, memperbaiki kerusakan dan lain-lain juga sudah bisa. Bahkan saya tunjukkan ke siswa saya yang tadinya merasa tidak mampu sekedar merakit akhirnya mereka toh bisa dan berani. Tentu memang harus dengan dibimbing. Komputer itu kalau rusak yah rusak. Kalau memang ada bagian yang rusak gampang tinggal diganti yang baru, dipasang yang baru selesai. Tinggal pasang saja, kalau tidak bisa terpasang yah jangan dipaksa itu berarti bukan pasangannya. Perancang perangkat komputer pun sudah memikirkan perangkat komputer dibuat sespesifik mungkin, pasangan satu dengan yang lain sehingga peluang tertukar atau salah pasang bisa dihindari.

Tentang internet, mereka awal mula juga merasa tak bisa, takut salah dan sebagainya. Saya mengatakan saat itu, gauli-lah dan akrabilah maka ia akan banyak membantu kita. Modal yang diperlukan hanya cukup bisa baca, tulis, dan berani nge’klik. Kalau melakukan kesalahan atau perlu membatalkan perintah tinggal klik tanda kembali (back) atau klik ctrl+z. Di internet siapapun dibimbing dan diarahkan dengan tanda gambar tangan dengan jari menunjuk berwarna putih. Itu berarti bisa diklik dan menunjukkan tautan ke alamat berikutnya. Hanya itu saja modal untuk bisa merambah internet yang penuh informasi itu. Jadi kenapa takut dan merasa tak bisa.

Lahablah segala informasi yang ada di depan kita. Bacalah. Jika perlu untuk diunduh downlaodlah, agar bisa dibaca ketika tidak terhubung dengan internet. Aktivitas merambah hanyalah membaca dan meng-klik tautan, atau mengetik beberapa kata sebagai kata kunci pencarian di mesin pencari semacam google atau yahoo. Ini baru aktivitas merambah atau meramban atau bisa dimaknai melek (hanya membuka mata). Oh yah kata ramban (bahasa Jawa) ~ memetik daun muda untuk dijadikan sayur atau lalapan). Itu artinya guru hanya dalam tahap menggunakan. Pada saatnya nanti guru tidak cukup hanya mengambil atau memanfaatkan saja. Guru juga harus mau membagi apa yang dia punya, pengalaman, opini kepada pihak lain. Biasanya juga kepada sesama guru, seprofesi dan sama keahliannya.

Saya sudah mencoba melakukannya. Meskipun saya tidak banyak pengalaman dalam pengajaran tapi setidaknya apa yang saya baca dan saya pahami kemudian saya bagikan kepada siapapun yang memerlukannya. Saya tulis melalui blog. Blog gratisan. Untuk bisa mengisi blog modalnya hanya dengan membaca dan menuliskannya kembali, dengan sedikit komentar menurut persepsi saya. Untuk nge-Blog sendiri modalnya hanya punya akses internet dan mengenali semua fitur yang ada pada pemberi layanan blog gartis itu. Belum mengerti itu juga, kita bisa cari tips atau tutorial tentang bagaimana nge-blog. Dengan nge-blog kita berarti sudah sedikit berbagi, berbagi tentang apa yang kita bisa, yang kita tahu, dan yang kita mau 🙂

Mengenai kelemahan kita yang tidak mengerti bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya jangan khawatir. Ada google translator yang bisa membantu kita memahami bahasa asing tersebut. Kita sadari sumber informasi yang berbahasa Indonesia memang masih terbatas, sedangkan yang berbahasa asing (Inggris) sangat banyak sekali. Itu yang sering jadi momok kita, guru Indonesia, termasuk saya :). Sekali lagi jangan khawatir soal bahasa asing, tinggal kopi alamat situs yang berbahasa asing, tempelkan di kotak translate dan klik terjemahkan jadilah web tersebut berbahasa Indonesia. Gampangkan?! Memang sih terjemahannya tidak akan bisa sempurna, tapi setidaknya kita bisa memahami apa maksud tulisan yang ada di web tersebut.

Kebahagiaan yang luar biasa dan tak tergambarkan ketika kita bisa berbagi. Mengapa harus berbagi, yah seperti tadi, kalau kita mengambil sesuatu sepatutnyalah kita juga menyumbangkan apa yang kita dapat sumbangkan. Puas rasanya. Lebih senang bisa berhubungan dengan rekan guru lain di semua penjuru Indonesia bahkan dari belahan lain dunia ini. Semua itu bisa kita capai dengan mengerti-melek internet. Guru yang melek internet akan dengan mudah mendapatkan ilmu dan pengalaman dari guru lain. Kita bisa menutupi kekurangan kita karena kita bisa mengambil kelebihan rekan yang lainnya.

Mari berbagi. Guru tidak cukup berbagi hanya kepada muridnya di kelas atau rekannya satu sekolah atau satu wilayah saja. Guru harus mau dan bisa berbagi kepada siapapun, sebab guru juga manusia yang selalu harus mau belajar dari siapapun tentang apa saja apalagi tentang bidang keahliannya. Majulah guru Indonesia dengan melek internet. Ambilah yang baik dan tinggalkanlah yang buruk dari internet.

Selamat melek internet untuk guru Indonesia. Jangan berlama-lama membiarkan diri buta internet. Jangan hanya membaca saja, mari menulis agar guru Indonesia semakin wou…!