Guru Tidak Harus Lebih Pintar dari Siswa?

Urip.wordpress.com

Hari ini lomba olimpiade matematika dan sain untuk siswa smp. Soal-soalnya cukup mengernyitkan dahi para gurunya, apalagi siswa. Setidaknya inilah sekilas potret kemampuan sebagian guru Indonesia. Saya (guru) juga kalau menghadapi soal Olimpiade kimia, jangankan level international, level nasional saja tidak yakin dengan jawaban sendiri, benar atau salah. Padahal saya guru loh. Semestinya saya lebih giat belajar atau lebih baik mengundurkan diri. Adakah guru yang mau mengundurkan diri karena kemalasan atau ketidakmampuannya?  Sependek yang saya tahu belum ada sejarahnya seperti itu.

Dari celetukan status di facebook saya ada temen yang memberikan komentar bahwa guru tidak harus lebih pintar dari muridnya.

Benarkah guru tidak harus lebih pintar dari siswa? Sepertinya untuk hal tertentu ada benarnya. Contoh ada anak smp yang sudah bisa membuat anti virus. Apakah guru TIK-nya bisa membuat hal serupa? Membuat anti virus bukanlah pelajaran di sekolah! Jadi untuk hal begitu wajar saja guru tidak lebih hebat dibanding siswanya. Namun ada guru yang mengerjakan soal UN pelajaran yang ia ajarkan saja tidak bisa, mestinya tidak demikian kan?

Guru yang profesional haruslah menguasai materi pelajaran yang diajarkannya. Yang seharusnya menjadi acuan tiap saat bagi guru (saya) adalah pertantaan sudahkah saya menguasai apa yang seharusnya saya kuasai? Pelajaran yang harus dipelajari siswa itu bukan hanya pelajaran yang kita ajarkan saja, masih ada pelajaran yang diajarkan guru yang lain. Lalu mengapa guru kalah hebat dibandingkan siswa? Apakah siswa lebih jenius dibandingkan kita atau guru yang malas untuk belajar? Wah guru ternyata ada yang malas belajar, seperti saya (guru) :).

Program refreshing dan upgrading untuk guru terkait penguasaan materi pelajaran sepertinya menjadi kegiatan yang mestinya wajib bagi guru. Setiap guru wajib mengikuti itu dan semestinya diselenggarakan berkelanjutan. Nyatanya pernahkah guru mendapatkan itu? Kalau berdalih guru kan sudah bisa membentuk wadah MGMP, ini rasanya belum cukup. Kalau alasan dana bukankah itu bisa dianggarkan dari APBN yang besar itu?! Atau haruskah guru membayar sendiri?!

Ada sih alternatif untuk menghemat anggaran, dan juga tidak berlu terlalu menguras tenaga dan waktu. Manfaatkan teknologi internet, melalui diskusi secara online. Andai semua guru aktif dalam milis (forum diskusi) di internet khusus mata pelajaran maka kegiatan yang bersifat memboroskan APBN bisa dihindari. Nyatanya banyak guru yang ingin pintar sendiri tidak mau aktif memberikan pencerahan rekan lainnya. Sementara guru yang tidak bisa juga wegah bertanya. Sepertinya ini Indonesia banget. Mungkin perlu diberi stimulasi khusus agar semua guru rajin ikut diskusi secara online. Yang belum melek internet harus dibangunkan biar melek. Memang belum mungkin semua guru bisa terhubung internet. Tapi setidaknya tiap daerah ada-lah yang mau rajin, dan yang lain boleh mendapatkan pencerahan dari yang ikut aktif tadi. Tapi memang semua kembali kepada kemauan guru sendiri. Perlukah dipaksa, bukankah guru sudah dewasa dan mestinya tahu apa yang harus dilakukan.

Melihat diri saya dan juga lingkungan sekitar saya kemauan guru untuk selalu belajar sepertinya rendah (tapi ini masih perlu pembuktian). Guru merasa cukup dengan apa yang ia bisa. Sangat mengenaskan kondisinya kalau seperti itu. Saya tak tahu bagaimana menyadarkan dan membuat guru (saya) agar selalu belajar. Belajar lebih rajin dari siswanya, sehingga kemampuan guru tidak sekedar lebih hebat 1 malam lebih dulu dari siswa.

Performa atau kinerja guru selama ini hanya diukur di atas kertas. Kreativitas pun diukur hanya lewat bukti-bukti yang kaku yang mengakibatkan manipulasi. Bahkan kadang performa guru diukur dari tingkat kelulusan siswanya. Padahal tingkat pencapaian siswa harusnya diukur perubahan yang bisa dicapai dari kondisi awal dan akhirnya. Jadi kelulusan tidak valid dijadikan alat ukur kinerja seorang guru. Mungkinkah perlu dikaitkan antara performa guru dengan sistem penggajiannya? Mungkinkah pengukuran angka kredit diubah berdasarkan performa sesungguhnya, bukan hanya bukti2 normatif yang tak menunjukkan performa guru? Mungkinkah seorang guru dibuatkan grade kemampuannya agar terus terpacu, tidak sekedar angka pada daftar penilaian pelaksanaan pekerjaan (DP3) yang basa-basi itu.

Dari sisi siswa, mereka adalah anak muda yang rasa ingin tahunya besar, meskipun tidak semua. Mereka punya semangat untuk mendapatkan prestasi yang terbaik. Mereka getol manakala ada sesuatu yang menantangnya. Setidaknya itu pernah kita rasakan saat sekolah dulu. Guru? Mereka merasa aman apapun kemampuannya, mereka akan digaji rutin dengan tidak ada hal yang bisa menguranginya kecuali angsuran hutang di bank. Tak ada tantangan lagi yang bisa membuatnya bangga. Benarkah ini?

Jika kondisi siswa dan guru yang berbanding terbalik, maka guru bisa saja akan terlihat kalah pintar dibandingkan siswa. Padahal guru tahu banyak lebih dulu, guru hanya belajar dan mengajar satu mata pelajaran saja. Menunggu panggilan jiwa sebagai guru? Berapa yang persen yang merasa terpanggil? Guru enjoy dengan dunianya dengan kenyamanan penghasilannya. Jadi teringat kebodohan akan mendekati orang-orang yang malas belajar. Tidakkah kita guru ini tahu ada ungkapan rajin itu pangkal pandai? Tapi memang tidak berarti bahwa rajin itu digaji tinggi atau malas itu digaji rendah. Bahkan andai kita mempekerjakan pegawai yang malas pun ingin memecatnya. Tidakkah kita malu kalau sekedar mengerjakan soal UN saja sampai tidak bisa menjawab dengan meyakinkan dan benar?

Iklan

One response

  1. oke kang, ku kan terus belajar,