Adakah Pengaruh Tulisan di Blog terhadap Kebijakan Pendidikan?

urip.wordpress.com

Membaca beberapa tulisan terkait ujian sekoalh di Kompas online sepertinya persoalan yang itu-itu saja. Itu akan jadi bahasan yang tak akan ada hentinya selama pemerintah tidak segera membuat perubahan signifikan. Bahasa kerasnya adalah harus ada revolusi di bidang pendidikan di negeri ini. Semua memiliki konsekensi dan itu harus bisa diterima demi perbaikan.

Banyaknya tulisan-tulisan yang dibuat oleh berbagai pihak baik pihak di luar sistem dan dalam sistem, saya berpikir adakah itu semua mempengaruhi kebijakan pemerintah untuk pendidikan. Atau hanya meluapkan kekesalan, sekedar onani otak untuk memuaskan diri dalam bentuk tulisan yang entah diperdulikan atau tidak.

Beberapa tulisan yang saya jadikan contoh ada di kompas online, tepatnya di edukasi.kompas.com beberapa hari lalu.
Ujian, “Penyakit” Pendidikan Nasional(9 Mei 2011)
Menilai Siswa, Tak Cukup Hanya Tes (9 Mei 2011)
Memberantas Penyakit “Examen Cultus” (19 April 2011)
Salah Kaprah Pemerintah terhadap Ujian (19 April 2011)
3 terakhir semuanya ditulis oleh Dhitta Puti Sarasvati (Direktur Program Ikatan Guru Indonesia).

Belum lagi tulisan-tulisan lepas yang tercantum pada weblog (blog pribadi) lainnya. Seolah semua masalah pendidikan menjadi bahan empuk untuk tidak habis-habis untuk dibahas. Lantas seberapa besar kontribusi tulisan-tulisan seperti itu memberikan pengaruh pada kebijakan pemerintah dalam menentukan arah pendidikan di negeri ini. Siapa yang tahu, apa perduli pemerintah terhadap kritik atau saran dari tulisan-tulisan seperti tadi walaupun kalau ada orang yang ia akan mengangguk-angguk membenarkan dan setuju bahwa semua itu merupakan tulisan yang membangun? Lalu apa kekuatan tulisan-tulisan tadi? Apakah hanya isepan jempol belaka, luapan perasaan kecewa yang tak terbendung kemudian disampaikan lewat tulisan?

Kritik secara masif terlontar, tapi laksana tak ada cek list untuk menjawab semua kritik, pemerintah asyik dengan dirinya, tetep keukeh dengan pendiriannya dan terus maju tak memperdulikan semua itu. Sebagai pelaku pendidikan (pendidik) saya sendiri sangat merasakan begitu tak menyentuh akar persoalan kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemerintah melalui mendiknasnya (*halah sok jadi pengamat, siapa kamu sih*). Sekali lagi untuk apa semua tulisan-tulisan diberbagai media itu? Saya tidak tahu adakah riset yang menunjukkan pengaruh tulisan di media terhadap kebijakan pendidikan.

Tadinya saya mau membahas soal sistem ujian yang selama ini menjadi persoalan klasik yang tiada perbaikan. Tapi saya lebih tergelitik untuk menulis tentang pengaruh kritik dan komentar terhadap kebijakan pendidikan di Indonesia. Sebab sering saya bertanya-tanya, tapi tak mendapatkan jawabannya. Saya malah tak perduli ada tidaknya dampak tulisan-tulisan seperti tadi. Saya enjoy saja menuliskannya seolah jadi pakar kebijakan pendidikan, padahal saya adalah seorang praktisi pendidikan yang tidak punya kemampuan apa-apa. Apalagi berharap tulisan yang saya buat bisa mempengaruhi kebijakan itu.

Menurut saya saluran yang tepat untuk memberikan saran memang tidak dari tulisan-tulisan di media seperti ini, tapi setidaknya kita sudah beropini. Beropini itu berarti kita memiliki sesuatu yang mungkin layak didengarkan. Hahaha siapa yang mendengarkan? DPR? DPR yang mengaku mewakili suara rakyat (suara kita-kita juga kan?) toh mereka teknologi informasi aja masih banyak (ada) belum melek. Jadi apakah lewat tulisan di blog ini kita lantas terpuaskan dengan unek-unek kita? Sekedar puas setelah ter-onani-kan lewat tulisan? Benarkah kita sudah menyalurkan semua itu dengan benar di sini, di blog?

Bagaimana pendapat saudara-saudara sekalian? (*gaya Harmoko mantan menteri peneringan di era pak Harto*)

Iklan

One response

  1. pengaruhnya hanya sebatas sebagai pemikiran dan wacana saja. harusnya Organisasi profesilah yang berjuang dan bergerak, ok pak