Akreditasi Kemampuan Guru & Kualitas Pendidikan

urip.wordpress.com

Olimpiade sain (MIPA, TIK, Astronomi, Kebumian, Ekonomi) 2011 tingkat SMA tengah berlangsung. Hanya beradu keberuntungan, siapa beruntung ia yang akan mewakili daerahnya untuk maju ke level berikutnya, mau mengakui atau tidak itulah yang terjadi. Karena modal keberuntungan itu maka wilayah saya belum pernah ada yang lolos ke level tertinggi. Kita semua tahu kemampuan siswa dan juga kemampuan pembimbing olimpiade di sekolah-sekolah. Apapun keadaannya, SELAMAT BERLOMBA.

Peta potensi dan kemampuan masing-masing wilayah untuk bisa mengirimkan perwakilan siswa terbaiknya dari tahun ke tahun kita sudah tahu. Kecuali ada keluarbiasaan saja. Tidakkah kita semua patut bertanya mengapa hanya siswa dari sekolah yang itu-itu saja? Mengapa daerah kita tak ada yang pernah mewakili? Mari mawas diri. Belajar lebih rajin, guru dan siswa! Mari terus mengisi air (ilmu) kedalam teko (guru) agar bisa menuangkannya lagi ke dalam botol/gelas (siswa).

Olimpiade sains yang diselenggarakan adalah mencari siswa yang berpotensi luar biasa di bidang sains. Siswa-siswa seperti itu biasanya mendapatkan bimbingan yang baik dari gurunya. Siswa seperti itu biasanya meluangkan porsi belajarnya jauh lebih banyak dibanding siswa lain. Mungkin itu masih ada kaitan antara kejeniusan, ketelatenan, dan daya juang individu yang bagus. Bagaimana dengan kita (guru), apakah juga memiliki semua itu? So mungkin kalau kejeniusan belum tentu kita semua punya, sebab kalau kita punya belum tentu kita mau jadi guru. Yang pasti kita bisa lakukan adalah ketelatenan belajar dan membangun daya juang terus menerus.

Di wilayah saya setiap sekolah diberikan kesempatan mengirimkan 3 siswa untuk setiap mata lomba. Semua ada delapan bidang sains (matematika, fisika, kimia, biologi, komputer, astronomi, geo-sains). Tiga siswa tersebut dipilih dari beberapa siswa yang sebelumnya telah mendapatkan pembinaan guru mata pelajaran. Mereka adalah yang terbaik di antara rekannya meskipun belum tentu akan menjadi terbaik di antara pesaingnya. Tapi saya masih melihat keoptimisan di wajah mereka. Dengan beberapa variasi soal yang dipelajari dari soal olimpiade tahun sebelumnya memang saya sendiri pesimis, tapi berkat pompaan spirit mereka menjadi pesimis.

Sekolah kami adalah sekolah pinggiran (memang letaknya di pinggir kota), sekolah kami adalah sekolah lapis ke dua (karena kalau sekolah lain menolaknya maka calon siswa akan terpaksa memilih sekolah kami). Jadi dengan kemampuan siswa yang ada kami tetap mengirimkan siswa terbaik kami untuk mengikuti ajang olimpiade sains itu. Dan selama ini belum bisa banyak bicara di level kabupaten. Seingat saya baru 2 kali masuk 3 besar olimpiade kimia, dan sekali olimpiade astronomi. Yah saya bilang lumayan karena saya sendiri melihat harus ngotot untuk bisa sekedar seperti raihan tadi.

Kembali ke soal kemampuan guru tentang menyelesaikan soal-soal olimpiade tingkat kabupaten. Jika siswa saat mengerjakan soal tidak boleh membuka buka, dengan aturan yang sama banyak rekan guru yang juga tidak bisa menjawab dengan meyakinkan soal-soal tadi. Termasuk saya kali heheheh… (Hus gak bisa malah cenge-ngesan, menertawakan diri sendiri biar malu dan mau belajar lebih rajin). Soal-soal olimpiade memang dibuat untuk menakar kemampuan siswa lebih dari sekedar pelajaran di jenjang sekolah saja. Mereka diharapkan bisa menyelesaikan persoalan praktis yang memerlukan analisis dan logika, tidak sekedar hitungan matematis. Sekali lagi soal olimpiade itu untuk siswa, tapi gurunya ternyata juga tidak bisa menjawab dengan baik. Lalu sampai kapan keadaan ini bisa berubah (keadaan saya saja kali yah).

Saya melihat jika siswa TK (PAUD) sering diadakan lomba ini itu agar menumbuhkan semangat belajar dan memberikan rasa percaya diri pada siswa. Gurunya pun (di daerah saja) juga secara rutin diadakan pertandingan atau perlombaan hal serupa yang dialami siswanya. Di jenjang sekolah (SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK) di daerah saya belum pernah melihat atau mendengar adanya lomba/kompetisi guru bidang studi tertentu. Akibatnya guru pun enggan untuk selalu mengasah kemampuannya. Ilmunya semakin dangkal karena tidak pernah mau menggali lagi. Apalagi jika guru tidak pernah mau meng-update ilmunya yang kian hari semakin banyak variasi pengembangan. Ia hanya mengacu buku-buku pelajarannya saja jarang mencari ilmu lebih lanjutnya. Jadi kemampuan penguasaan keilmuannya banyak guru yang semakin terpuruk, akibatnya dia sendiri tidak mampu memberikan ilmu yang baik kepada siswa. Oke-lah guru tidak boleh mengajar ilmu, tapi sebagai fasilitator, maka bagaimana ia bisa mengarahkan siswa mendapatkan ilmu dari sumber yang benar kalau diri guru sendiri saja tidak pernah mencari-menggali ilmu yang ia ajarkan.

Tulisan ini adalah tulisan autokritik, untuk saya sendiri, bukan untuk guru-guru Indonesia yang sudah hebat,yang selalu mengupgrade diri, mengupdate kemampuan. Anda yang membaca tulisan ini saya yakin termasuk guru yang hebat tadi (kalau anda guru).

Akan lebih bagus jika diadakan tes kemampuan secara rutin dan berkala agar guru-guru juga semakin rajin belajar, bukan rajin mengajar saja. Siapa yang melaksanakan? Mungkin lembaga penjamin mutu itu yang selama ini tidak banyak bergerak dan memberi kontribusi pada peningkatan mutu guru. Sebab dengan mengantongi sertifikat pendidik toh selama ini tidak bisa memberikan pengaruh yang signifikan. Cobalah setahun sekali guru semuanya harus menjalani uji kelayakan, baik layak penguasaan materi dan layak kemampuan mengajar (ujia kelayakan seperti kendaraan itu khan bagus). Lah selama ini belum pernah dilakukan, akibatnya guru ogah-ogahan belajar. Guru perlu diakreditasi juga agar ada rasa terpacu untuk memastikan diri pantas jadi seorang pendidik. Tapi jangan sampai ini dijadikan ajang dagelan juga, bisa diatur dan sebaginya. Buatlah akreditasi A, B, C, dan seterusnya. Dengan begitu maka akan ketahuan sampai sejauh mana kemampuan guru di negeri ini. Bagi guru yang tak layak mestinya mereka inilah yang harus mendapatkan pembinaan agar dapat menjadi guru yang lebih baik. Itu kalau yang berwenang enggan memecat guru.

Akhir-akhir ini rekrutmen guru sudah cukup bagus (setidaknya di daerah saya). Ada peringkat, guru yang peringkatnya terbaik ditempatkan di sekolah tertentu. Tapi ini tidak cukup, mesti ada tindak lanjut agar guru tidak mengalami degradasi keilmuannya. Dengan demikian maka akan ada semangat dan dorongan lain yang mengharuskan guru untuk selalu belajar dan belajar, tidak hanya merasa cukup dengan pekerjaannya yang begitu-begitu saja.

Semoga kondisi guru (saya) semakin membaik baik secara keilmuan maupun secara teknis dalam mengantarkan, membimbing siswa untuk menjadi manusia sebagaimana yang diharapkan orang tua dan masyarakat. Guru adalah bagian vital dari pendidikan. Meningkatkan kemampuan guru berarti meningkatkan kualitas pendidikan. Majulah pendidikan negeri ku. MERDEKA!

Iklan